Setidaknya ada dua bangunan yang menjadi saksi, ketika Datuk Daha alias Syekh H M Thahir bin Syekh Syahbudin yang bermakam di Desa Talur Haur, itu menyebarkan ilmu agamanya.
Diungkapkan oleh juru kunci sekaligus penjaga makam sang datuk, H Muhammad Hatta, dua bangunan yang dimaksud yakni Musala Syamsu wal Qamar di Desa Taluk Haur Nagara.
"Lalu, Masjid Ath Thahiriyah di Desa Pasungkan," ucapnya, ketika ditemui penulis, pada Selasa (12/4) lalu.
Kedua bangunan itu masih berada di Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Tapi, baik musala maupun masjid itu, sudah berulang kali mengalami perubahan karena dipugar.
Dari Musala Syamsu wal Qamar yang berada di samping pintu gerbang makam Datuk Daha, lokasi Masjid Ath Thahiriyah hanya berjarak sekitar 250 meter. Sangat disayangkan, seperti halnya musala Syamsu wal Qamar, tak ada yang tahu kapan pembangunan masjid itu dimulai.
Tak ada pula catatan lain yang bisa dijadikan rujukan. Warga setempat hanya mengatakan bahwa itu adalah masjid tua dan peninggalan Datuk Daha.
Kondisi seperti itu adalah hal yang lumrah terjadi di Provinsi Kalsel. Masyarakat kita lebih menyukai tradisi tutur ketimbang tulis. Dan di sisi lain, kita hanya lebih suka mengingat bahkan menceritakan karamah para alim ulama, ketimbang cerita penting lainnya.
Karamah laiknya bumbu penyedap dalam masakan. Cerita tentang sejumlah karamah sang datuk, juga penulis dengar dari sang juru kunci makam. Dituturkan Hatta, dahulu, ada salah seorang warga yang bersusah payah memancing di pinggir sungai.
Karena sudah sekian lama menunggu umpannya disambar ikan, si pemancing pun bernadzar. Ikan pertama yang didapatnya, akan diserahkan ke Datuk Daha.
Tak berapa lama, ada getaran di kail se pemancing. Ketika alat pancing ditarik, tampak seekor ikan yang lumayan besar. Meronta-ronta dengan mulut yang masih menyangkut di kail.
Si pemancing semringah. Dengan cepat ia melepas kail yang menyangkut di mulut ikan. Dalam hati, si pemancing juga berniat membawa langsung ikan itu untuk diserahkan ke Datuk Daha. Nahasnya, belum lama ketika mata kail berhasil dilepaskan, ikan itu justru terlepas dari genggaman si pemancing. Ikan itu kembali jatuh ke sungai.
Melihatnya, si pemancing hanya bisa pasrah. Ia pun menghentikan aktivitas memancingnya dan memilih meninggalkan tempatnya.
Di perjalan menuju ke rumah, si pemancing berpapasan dengan Datuk Daha. Si pemancing pun menceritakan apa yang dialaminya.
Datuk Daha tersenyum mendengarnya. Kemudian, meminta si pemancing untuk mengikutinya ke sungai.
Dituturkan Hatta, setibanya di pinggir sungai, Datuk Daha berwudhu. Usai berwudhu, sang datuk meminta agar si pemancing mencari ikan yang terlepas itu di tempat sang datuk berwudhu."Dan ajaib, ikan tadi ternyata ada di situ. Berenang-renang. Bahkan tak perlu repot dipancing. Ikan itu bisa langsung ditangkap," tutur Hatta."Padahal, lokasi si pemancing dan lokasi Datuk Daha berwudhu itu lumayan jauh," tambahnya.
Karamah lainnya, ketika warga Desa Taluk Haur memeriksa kebun semangka. Dituturkan Hatta, tanaman semangka semestinya pada saat itu sudah siap dipanen.
Entah mengapa, tak ada satu pun buah semangka di kebun. Padahal, tanamannya sangat subur. Hal itu lantas diceritakan ke Datuk Daha.
Sang datuk pun menganjurkan warga agar melincai (menginjak-injak, red) tanaman semangka. Warga yang keheranan, sebagian memilih tidak melakukan hal yang dianjurkan oleh Datuk Daha.
Dan sebagian warga lainnya, memilih melakukan apa yang dianjurkan sang datuk.
Seusai melincai tanaman, warga kemudian kembali melaporkan hal itu ke Datuk Daha. Sang datuk, lantas meminta warga menunggu beberapa hari.
Beberapa hari berselang, tanaman yang sudah hancur dilincai itu rupanya kembali tumbuh. Bahkan lengkap dengan buah semangkanya. Tak ayal, warga yang sebelumnya enggan melincai tanamannya, kemudian juga melakukan hal yang sama. "Akhirnya, warga pun beramai-ramai memanen buah semangka," tutup Hatta.
Itulah sebagian cerita dari banyaknya karamah tentang Datuk Daha.
Kembali ke kisah bangunan yang menjadi saksi sejarah, ketika Datuk Daha menyebarkan ilmu agamanya itu. Sebelum menuju masjid Ath Thahiriyah, penulis berbincang dengan sejumlah warga Desa Taluk Haur. Zainal, salah satunya. Lelaki 48 tahun itu membenarkan bahwa musala Syamsu wal Qamar di desanya itu, dahulunya menjadi lokasi majelis ilmu yang dibuka oleh Datuk Daha."Cerita orang tua terdahulu, musala itu bentuknya tidak seperti sekarang. Musala itu, dahulunya bertingkat-tingkat," ucapnya.
"Selain di musala, jemaah majelis atau pengajian yang diisi Datuk Daha juga meluberi jalanan," tambahnya.
Pun demikian menurutnya dengan Masjid Ath Thahiriyah. Bentuknya juga mengalami banyak perubahan. Bahkan, hampir tak menyisakan bentuk masjid terdahulu.Penulis sendiri tiba di masjid itu bertepatan saat azan ashar berkumandang.
Masjid itu kini bahan utamanya adalah beton. Dinding luar beserta pagarnya, dicat berwana hijau muda. Sedangkan bagian dalam masjid, didominasi oleh cat berwana putih. Di dalam ruangan masjid, tiang utamanya menggunakan balok kayu ulin yang tinggi dan lebarnya lumayan besar.
Selepas ashar, penulis berbincang dengan salah satu imam, juga sekaligus pengurus Masjid Ath Thahiriyah, Hamdan. Lelaki 52 tahun itu menuturkan, bahwa dahulunya masjid tersebut memang diinisiasi oleh Datuk Daha."Di sini, datuk tidak hanya menyebarkan ilmu agama. Tapi, juga mengelola masyarakat. Mengelola kampung," ungkapnya.
Hamdan menjelaskan, bangunan Masjid Ath Thahiriyah dahulu menurutnya tak sebesar sekarang. Dahulu, bentuknya hampir menyerupai rumah persegi panjang. Sepeninggal sang datuk, masjid tersebut lalu berkali-kali mengalami pemugaran. Yang ketika selesai, penamaan masjid itu diambil dari nama Datuk Daha.
Dijelaskan Hamdan, ada pun sisa bangunan dari masjid terdahulu yang dipertahankan yakni berupa tiang, mimbar, kemudian les kayu berukir ayat alquran. Les kayu itu menghiasi sebagian dinding ruangan Masjid Ath Thahiriyah."Saya rasa, itu saja yang tersisa," ungkapnya.
Hamdan menuturkan, Masjid Ath Thahiriyah juga mempunyai sejarah yang tak banyak diketahui. Yakni tentang adanya lubang peluru di mimbar masjid tersebut.
Secara resmi, Presiden RI Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi di Pulau Kalimantan, khususnya provinsi Kalsel, itu belum berlaku. Revolusi fisik setidaknya masih berlangsung hingga tahun 1949.
Dalam kurun waktu itu, menurut Hamdan sebuah peristiwa menimpa Masjid Ath Thahiriyah. Entah pada waktu siang atau malam hari, secara tiba-tiba, berondongan peluru terdengar nyaring hingga memekakan telinga. Membuat kaget warga.
Belakangan, berondongan peluru itu rupanya diketahui menghantam bangunan masjid dan tembus hingga ke mimbar. "Tidak diketahui siapa yang saat itu memberondongkan peluru. Tapi berdasarkan cerita orang tua terdahulu, saat itu ada pejuang yang melawan penjajah belanda," ucapnya.
Lantas, apakah masjid itu pernah menjadi markas para pejuang? Misalnya, untuk mengatur strategi perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Menjawab hal itu, Hamdan mengaku tidak mengetahui hal itu. Yang ia tahu, hanya sebatas cerita tentang berondongan peluru itu saja.
Penulis pun lantas diajak Hamdan melihat lubang yang diakibatkan berondongan peluru itu. Jumlahnya ada tiga lubang. Dua di sisi kiri mimbar. Dan satu lubang di sisi kanan."Sengaja tidak diapa-apakan atau diperbaiki. Agar masih ada tanda-tanda bukti sejarahnya," pungkasnya. (war/by/ran) Editor : Arief