Dusun Munggu Ringkit berada di Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin. Dari Kota Rantau yang menjadi pusat pemerintahan, dusun ini berjarak 43 kilometer. Posisi dusun ini berbatasan langsung dengan Dusun Munggu Lahung, Kecamatan Paramasan, Kabupaten Banjar.
Dusun Munggu Ringkit setidaknya dihuni oleh sebanyak 80 kepala keluarga, dengan keyakinan agama yang berbeda-beda. Ada Kaharingan, Hindu, Kristen dan Islam.
Seperti dusun-dusun lainnya di Kecamatan Piani, warga dusun itu pun hidup damai dan rukun di tengah keberagaman.
Upaya warga dusun itu mempertahankan kerukunan hingga menghargai perbedaan patut ditiru. Caranya pun cukup sederhana: jangan bosan bergotong royong, kemudian jadikan siapa saja adalah kawan atau saudara.
"Sejak dahulu, kami berprinsip lebih baik perbanyak kawan dari pada punya satu orang musuh," ucap salah seorang warga Dusun Munggu Ringkit, Umin, pada Minggu (10/4) pagi.
Kami berbincang di sela waktu rehatnya, seusai Umin membersihkan lapisan kulit luar kemiri yang dibawanya dari hutan. Setelah dibersihkan kemiri kemudian dijemur. Jemuran kemiri itu berada persis di depan rumahnya.
Proses penjemuran kemiri memerlukan waktu sehari penuh apabila cuaca panas. Paling lambat, memerlukan waktu dua hari. Bila sudah kering, kemiri pun dijual ke pengepul.
Biasanya, pengepul langsung yang datang ke rumah-rumah warga untuk mengambil kemiri, itu."Kemiri ini banyak kegunaanya. Selain sebagai bumbu membuat hidangan, kemiri juga bisa digunakan sebagai bahan pembuatan minyak rambut," ungkapnya.
Umin lantas melanjutkan kisahnya. Dituturkannya, dia memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki, dan seorang perempuan.
Diakuinya, tidak semua anaknya menganut Kaharingan. Salah seorang anaknya, menganut agama Islam. Dan itu, sama sekali bukanlah masalah.
Umin mengaku membebaskan anak-anaknya untuk memeluk agama apa pun yang disukainya. Asalkan tetap bertanggung jawab, dan terus menjaga kerukunan. Demikian pula dalam hal pergaulan. Umin hanya berpesan, agar anak-anaknya menjunjung tinggi rasa saling menghargai. Serta upaya tolong menolong atau gotong royong.
Ambil contoh sederhana, misalnya saat warga penganut Kaharingan menggelar prosesi Aruh Adat. Seperti diketahui, prosesi itu layaknya kenduri atau selamatan.
Aruh Adat sendiri merupakan ritual tahunan yang biasa digelar masyarakat suku Dayak. Sebagai bentuk perjamuan untuk memperingati sebuah peristiwa. Ungkapan syukur, meminta berkat dan sebagainya. Saat itu, biasanya seluruh warga berkumpul. Di situ, semua bahu membahu membantu mensukseskan gelaran Aruh Adat.
"Saya hanya meminta, agar anak-anak tetap datang dan membantu persiapan hingga pelaksanaan Aruh Adat itu. Tapi biasanya, tanpa diminta pun mereka sudah pasti datang," ungkapnya.
Soal memupuk kerukunan di tengah keberagaman itu, penulis juga mewawancarai seorang pemuda di dusun tersebut. Namanya Yardi. Nama lengkapnya, Muhammad Yardi.
Kami berbincang sembari berkunjung ke dusun tetangga, Dusun Munggu Lahung, pada Sabtu (9/10) malam. Saat hendak membeli sejumlah logistik yang nantinya dimasak lalu disantap saat bersahur.
Kepada penulis, Yardi mengungkapkan bahwa ia beserta keluarganya dahulu adalah pemeluk agama Kaharingan. Ketika agama Islam masuk ke dusunnya, ia beserta keluarganya pun lantas tertarik mempelajarinya.
Diakui Yardi, meski ia dan keluarganya sudah memeluk agama Islam, bukan berarti tidak lagi berhadir ketika ada Aruh Adat. Ia beserta keluarganya juga tetap membantu persiapan aruh. "Sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat di sini, bang. Tradisi ini mengajarkan kami memupuk kebersamaan, juga meningkatkan solidaritas," ungkapnya. "Di sisi lain, Aruh Adat, juga menjadi penanda bahwa kami adalah bagian dari suku Dayak," tambahnya.
Soal kerukunan di tengah keberagaman juga diungkapkan salah satu tokoh adat dayak di Kecamatan Piani, Rusdiansyah. Atau yang lebih dikenal dengan Pang Balum.
Sepulang dari Dusun Munggu Ringkit, penulis mampir ke rumah lelaki 78 tahun itu, tepatnya di Desa Pipitak Jaya. Yang kediamannya berseberangan langsung dengan Bendungan Tapin.
Perawakannya tinggi besar. Kumis dan janggutnya tampak panjang dan memutih. Sorot matanya meneduhkan. Tampak berkharisma.
Pang Balum namanya. Semacam nama julukan. Julukan itu didapatnya, lantaran seusai menikah ia tak kunjung dikaruniai seorang pun momongan. Lalu, ketika dikarunia banyak momongan, warga lantas memberikan julukan lain. "Tapi, yang melekat jutru julukan Pang Balum tadi," ungkapnya, seraya terkekeh.
TOKOH ADAT: Rusdiansyah atau yang biasa dikenal dengan nama Pang Balum saat ditemui di kediamannya. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
Dituturkannya, sikap saling bantu adalah kunci kerukunan yang terjalin di Kecamatan Piani. Jangankan saat pelaksanaan Aruh Adat, sikap itu juga berlaku untuk kegiatan lainnya dalam bermasyarakat.
"Misalnya, saat ada warga yang wafat atau meninggal dunia. Lalu, ada warga yang menggelar resepsi perkawinan. Apa yang bisa dibantu, pasti dibantu. Tanpa memandang apapun keyakinannya," ucapnya.
"Walau pun bukan bagian keagamaan atau hidup dalam keberagaman, setidaknya kami dikumpulkan atau dipersatukan melalui adat dan budaya," tambahnya.
Penulis melihat sendiri bagaimana sikap kerukunan antar umat beragama itu diterapkan. Seperti misalnya saat Pang Balum menyilakan kami untuk memakai ruangan di rumahnya bila hendak menunaikan salat.
Padahal seperti diketahui, Pang Balum sendiri adalah tokoh adat Dayak, yang hingga kini masih memegang teguh keyakinan Kaharingan-nya.
Contoh sederhana lainnya, kediaman Pang Balum kerap didatangi pelancong dari berbagai daerah. Tak perduli, dari mana pelancong itu semua dilayani laiknya keluarga.
Di akhir perbincangan, Pang Balum menekankan, perihal agama apa pun yang dianut, menurutnya, baik dan buruknya hingga selamat atau tidaknya seseorang itu tergantung pada pembawaan diri masing-masing.
"Itu pula yang kami tekankan dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan begitu, kami menyakini selama apa pun kita hidup, kerukunan antar umat beragama akan tetap terjaga," pungkasnya. (war/by/ran) Editor : Arief