Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

4 Bulan yang Membuat Belanda Frustrasi

Arief • Kamis, 14 April 2022 | 15:59 WIB
SEMBURANNYA LEMAH: Pengunjung Taman Minggu Raya atau akrab disapa Taman Air Mancur menyoroti semburan air mancur tak sekuat biasanya. Disperkim Banjarbaru janji akan segera memperbaiki. FOTO : MUHAMMAD RIFANI/RADAR BANJARMASIN
SEMBURANNYA LEMAH: Pengunjung Taman Minggu Raya atau akrab disapa Taman Air Mancur menyoroti semburan air mancur tak sekuat biasanya. Disperkim Banjarbaru janji akan segera memperbaiki. FOTO : MUHAMMAD RIFANI/RADAR BANJARMASIN
Di persembunyian itu, pejuang kemerdekaan seakan tak bisa dilihat, apa lagi ditumpas. Sebaliknya, penjajah Belanda yang datang hanya mengantar nyawa.

RAMAI: Rantau Baru yang menjadi ikon Kabupaten Tapin setiap hari ramai dikunjungi orang. | FOTO: Rasidi Fadli/RADAR BANJARMASIN
RAMAI: Rantau Baru yang menjadi ikon Kabupaten Tapin setiap hari ramai dikunjungi orang. | FOTO: Rasidi Fadli/RADAR BANJARMASIN


"Setop! Ucapkan sandi-nya," tegas seorang pejuang kemerdekaan yang berjaga di pos pengintaian.

Nahas. Seorang yang tak dikenal, yang hendak memasuki sebuah kawasan di Desa Paku Alam itu justru salah mengucapkan sandi. Orang yang tak dikenal itu pun langsung dihadapkan dengan pejuang kemerdekaan lainnya yang tiba-tiba saja muncul.

Diintrograsi, ternyata benar, ia mata-mata Belanda. Nyawanya berakhir di tangan pejuang kemerdekaan. Orang tak dikenal itu dieksekusi mati. Seusai dieksekusi, mayatnya pun langsung dibuang ke sungai. Dibiarkan hanyut begitu saja.

Sudah tak terhitung mayat yang dibuang atau dihanyutkan di aliran Sungai Martapura. Tidak hanya dari pihak Belanda, tapi juga dari para pengkhianat, warga pribumi."Sandi para pejuang tak mudah diketahui, selalu berganti-ganti. Dan pengkhianat pantas mati," ucap warga Desa Paku Alam, Riduansyah.

"Ada nama-nama buah dan lain sebagainya," jelasnya, ketika menceritakan sekelumit kisah para pejuang kemerdekaan di desanya.

Ekspedisi Ramadan di Pelosok Banua kali ini bergeser ke Desa Paku Alam. Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Desa Paku Alam dipilih sebagai jalur ekspedisi, lantaran memiliki kisah sejarah yang menarik. Di desa itu berdiri dua buah monumen peringatan. Yakni Monumen ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang diresmikan pada tanggal 16 Mei 1983 oleh Gubernur Kalsel, Gt Syamsir Alam.

Lalu, ada satu monumen lain yang bertuliskan Tugu Peringatan Perjuangan Menegakan Kemerdekaan RI. Tentu bukan tanpa alasan mengapa ada dua monumen didirikan di situ. Dahulu, di desa itu, pernah berdiri markas pejuang pertahanan kemerdekaan rakyat Kalsel.

Hebatnya, markas yang ini tak pernah ditemukan, bahkan bisa dijangkau oleh Belanda.

Gerakan pejuang di situ dikenal dengan nama Alam Roh. Nama yang membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik. Nama yang membuat penjajah belanda berikut para pengkhianat bangsa ketar-ketir.

Nama gerakan itu sendiri, hingga kini menjadi julukan penanda lokasi kedua monumen peringatan itu berada."Lebih terkenal dengan sebutan Alam Roh. Meskipun sebenarnya, kawasan ini masih berada di Desa Paku Alam," ucap Riduansyah, ketika ditemui penulis pada Sabtu (9/10) lalu.

Dari Kota Banjarmasin, desa ini hanya berjarak 19 kilometer. Atau, hanya terpaut jarak 500 meter, dari lokasi objek wisata Pasar Terapung Lokbaintan yang tersohor itu.

Adapun dua lokasi yang menjadi tempat monumen itu didirikan, pertama berada di Desa Paku Alam di RT 3. Persis di tepi Handil atau Sungai Bujur yang merupakan anak Sungai Martapura.

Dan yang kedua, didirikan di kawasan eks Markas Alam Roh. Lokasinya juga masih berada di Desa Paku Alam. Di kawasan Handil atau Sungai Bujur. Berjarak sekitar 2 hingga 3 kilometer dari lokasi monumen pertama.

Namun, lokasinya tidak di tepi sungai. Hanya di pinggir jalan lingkungan. Sebuah kawasan yang dikelilingi rimbunnya semak belukar. Di lokasi pertama, selain berdiri monumen yang lengkap dengan halaman yang biasanya dipakai untuk upacara peringatan, juga dibangun sebuah museum mini.

Bangunannya berupa Rumah Banjar bertipe Bubungan Tinggi. Di museum ini, pengunjung bisa melihat benda-benda peninggalan para pejuang kemerdekaan dahulu, berikut sejumlah arsip dan foto lawas.

Sedangkan lokasi berdirinya monumen kedua, selain ada monumen peringatan, di situ juga terdapat tiang bendera. Yang ditancapkan di atas gundukan tanah berbentuk sebuah bintang besudut lima.

Lalu, ada pula sebuah batang pohon yang tak lagi berdaun, tampak sangat tua dan lapuk. Pohon ini, oleh warga setempat yang juga disebut-sebut sebagai peninggalan para pejuang.Baik gundukan tanah berbentuk sebuah bintang bersudut lima dan sebuah batang pohon itu, juga santer dengan cerita menarik.

Kedua tempat tersebut, hingga kini dikelola oleh Pemprov Kalsel beserta Pemkab Banjar, dan dijaga oleh Riduansyah. Selaku juru kunci."Sebelumnya, dua situs bersejarah ini dijaga oleh ayah saya. Abdul Hamid. Saya hanya meneruskan," ungkapnya.

Abdul Hamid sendiri diketahui adalah mantan Kepala Desa Paku Alam. Ia wafat pada tahun 2020 tadi. Abdul Hamid pula yang mengusulkan kawasan itu menjadi situs bersejarah.

Di sisi lain, Abdul Hamid juga merupakan keturunan dari seorang pejuang kemerdekaan yang berasal dari Desa Paku Alam. Namanya, Sidik. Ia dikaruni umur panjang. Wafat tepat di usia 105 tahun.

Mengunjungi dua situs bersejarah itu, penulis terbayang aksi heroik para pejuang pertahanan kemerdekaan. Setidaknya, setelah melihat diorama yang berada di samping monumen di kompleks museum.Tampak di situ, pasukan pejuang kemerdekaan Indonesia tengah saling berhadapan dengan pasukan musuh.

Menukil informasi dari buku berjudul Alam Roh, Sepenggal Sejarah Perjuangan Rakyat Kalsel Melawan Kolonial Belanda, yang ditulis oleh Hendraswati. Yang diterbitkan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak pada tahun 2010 lalu, juga diceritakan bahwa tempat berdirinya dua buah monumen itu dahulunya adalah markas pertahanan.

Disebutkan di situ, bahwa gerakan Alam Roh juga menjadi sandi Markas Besar Sektor Selatan.Markas itu didirikan atau resmi dibentuk pada tanggal 6 Juni 1949. Sebagai strategi, juga instruksi dari Pahlawan Nasional, Bapak Gerilya Kalimantan, Brigjen Hasan Basry.

Hasan Basry menginstruksikan kepada Pangeran Arya, untuk mendirikan markas perjuangan di berbagai tempat.

Namun karena luasnya wilayah dan banyaknya kesatuan perjuangan di Kalsel, akhirnya dibagi menjadi dua sektor. Yakni, perjuangan di sektor utara dan perjuangan di sektor selatan.

Sektor pertama yang disebutkan tadi, meliputi daerah Hulu Sungai dan berpusat di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Di situ, dipimpin sendiri oleh Hasan Basry dan Aberani Sulaiman.



Sedangkan sektor selatan, meliputi wilayah Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Barito Kuala, dan Banjarmasin. Sektor selatan sendiri semula berpusat di Banjarmasin. Yakni di kawasan Teluk Tiram, Sungai Mesa, Kuin Utara dan Kuin Selatan. Dipimpin oleh Pangeran Arya.

Riduansyah, warga Desa Paku Alam yang juga juru kunci dua kawasan tersebut mengatakan tempat yang menjadi lokasi monumen pertama berikut museum mini, dulunya merupakan hanyalah pos pengintaian."Sedangkan markas utama, ada di lokasi monumen kedua. Yang berada agak ke dalam itu," jelasnya."Yang datang otomatis melintas di sini dahulu. Makanya, di sini menjadi tempat eksekusi," ungkapnya.

Kemudian, seperti yang dituturkan pendahulunya, di tanah berdirinya markas pertahanan itu, konon juga ditanami sesuatu oleh para ulama di Martapura, Kabupaten Banjar.
Karena itu pula, markas Alam Roh, tak pernah dijangkau atau ditemukan Belanda."Maka, ketika Belanda datang bahkan mengobrak-abrik sekeliling kawasan Desa Paku Alam ini, mereka tak menemukan kawasan yang dijadikan markas oleh pejuang," jelasnya.

"Justru sebaliknya, pejuang dengan mudah melihat Belanda atau musuh yang datang. Melucuti persenjataan, hingga menumpasnya," tekannya.

Sayangnya, perjuangan yang dilancarkan melalui markas Alam Roh itu rupanya tidak berlangsung lama. Hal itu juga seiring dengan disepakatinya perundingan di daerah Munggu Raya, di Kabupaten HSS.

Tepatnya, pada tanggal 2 September 1949. Adapun isi kesepakatan itu, menghentikan persengketaan antara Pemerintah Belanda dengan para pejuang di Kalsel.

Meski kondisi keamanan belum pulih sepenuhnya, dan masih ada beberapa peristiwa yang terjadi antara Belanda dengan pejuang kemerdekaan, namun tidak mempengaruhi hasil perundingan itu. (war/by/ran) Editor : Arief
#Sejarah Banua