Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Menghidupkan Ramadan dengan Badamaran

Arief • Rabu, 13 April 2022 | 09:45 WIB
NYALAKAN OBOR: Santri Ponpes Al Fatih Wal Imdad di Batu Ampar, Banjarbaru merayakan malam salikur dengan Badamaran pada Ramadan. | FOTO: MUHAMMAD RIFANI/RADAR BANJARMASIN
NYALAKAN OBOR: Santri Ponpes Al Fatih Wal Imdad di Batu Ampar, Banjarbaru merayakan malam salikur dengan Badamaran pada Ramadan. | FOTO: MUHAMMAD RIFANI/RADAR BANJARMASIN
Menyemarakan bulan Ramadan bisa dengan berbagai cara. Ponpes Al Fatih Wal Imdad melakukannya dengan tradisi lama Urang Banjar: Badamaran.



Di tengah modernisasi, Badamaran masih menjadi tradisi yang tak dapat dipisahkan bagi pengurus dan santri Ponpes Al Fatih Wal Imdad di bulan Ramadan.

Dijelaskan pimpinan ponpes tersebut, Syaifullah, Badamaran sudah ada sejak zaman dahulu dan merupakan tradisi masyarakat Banjar menyambut datangnya bulan Ramadan.

Badamaran, secara umum adalah kegiatan menyalakan lampu penerangan sebanyak mungkin. Lampu-lampu yang dinyalakan diletakan di pekarangan rumah selama bulan Ramadan. Khususnya, memasuki malam ke-21 di bulan Ramadan. Atau, biasa disebut dengan Malam Salikur.

Di sisi lain, dari informasi yang dihimpun. Konon, Badamaran itu ada ketika para ulama zaman dahulu menganjurkan umat Islam, agar menyemarakkan datangnya bulan Ramadan dengan memberikan penerangan di depan rumah masing-masing.

Tujuannya, agar umat Islam yang hendak bepergian ke masjid atau musala merasa terbantu dan nyaman karena ada penerangan di sepanjang jalan yang dilewati.

Namun demikian, dahulu, tentu lampu yang dinyalakan atau diletakan di pekarangan rumah bukanlah lampu listrik. Melainkan, nyala api berbahan bakar getah dari pohon damar.

"Maka dari itu, tradisi itu pun disebut Badamaran. Yang asal katanya diambil dari damar," jelasnya, Syaifullah, ketika ditemui penulis, pada Kamis (7/4) lalu.

Diungkapkan warga asli Batu Ampar itu, dahulu, wadah nyala api untuk Badamaran dibuat dari tempurung kelapa. Di dalam tempurung kelapa itu, diletakan sedikit sabut kelapa dan getah damar, kemudian dinyalakan.

Di Desa Batu Ampar, tradisi Badamaran sudah ada sejak dulu. Namun, ketika listrik sudah merambah kawasan pedesaan, dan seiring berjalannya waktu, tradisi ini kian tergerus dengan nyala lampu hias yang kerlap-kerlip, itu.

Alhasil, perlahan tradisi Badamaran pun kian memudar."Agar tradisi itu tak hilang, maka setiap Malam Salikur, ponpes menggelar tradisi ini. Selain melibatkan para santri, kami juga melibatkan masyarakat setempat," bebernya.

"Masing-masing menyalakan damarnya. Kemudian diletakan di depan masing-masing rumah. Untuk di ponpes, kegiatan digelar di tengah lapangan," tambahnya.

"Kegiatan ini selalu ramai. Biasanya, pejabat-penjabat Pemko Banjarbaru juga berhadir. Dahulu, Badamaran di sini sampai dihadiri almarhum Pak Nadjmi Adhani, yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Banjarbaru," jelasnya.

"Beliau bilang (Nadjmi Adhani, red), Badamaran ini mengingatkan kenangannya akan semasa kecil dahulu," tambahnya.

Diakui oleh Syaifullah, dibanding dengan tradisi Badamaran di zaman dahulu, Badamaran kini juga tampak mengalami perubahan.

Yang dahulunya memakai getah damar sebagai bahan bakar, kini memakai minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Kemudian, yang dahulunya hanya memakai wadah yang dibuat dari batok kelapa, kini memakai obor yang dibuat dari batang bambu.

"Getah damar, kini cukup sulit ditemukan. Itu pula yang saya rasa, mengapa tradisi Badamaran kian terkikis. Bahkan saat ini pun, minyak tanah juga sulit didapatkan," ungkapnya.

Namun, terlepas dari sulitnya bahan bakar berupa damar maupun minyak tanah itu, Syaifullah meyakini bahwa tradisi ini akan terus dipertahankan. Khususnya, oleh pengurus dan seluruh santri di ponpes Al Fatih Wal Imdad.

Lantas, apakah ada makna khusus terkait Badamaran, selain memeriahkan malam di bulan suci Ramadan, itu?

Syaifullah mengatakan, Badamaran tak sekadar menerangi rumah-rumah dengan cahaya atau pun juga untuk memudahkan warga menjalankan ibadah saja.

"Dahulu ada filosofi bahwa malaikat Jibril dan malaikat lainnya akan mampir ke rumah. Karena rumahnya terang, dan dengan adanya ibadah yang dijalankan di malam-malam bulan Ramadan," tutupnya. (war/by/ran)
Editor : Arief
#Ekspedisi Ramadan