Salat tarawih baru saja usai Senin (4/4) malam itu. Di musala bernama Darus Solihin yang bangunannya terbuat dari kayu, jemaah tarawih meluber hingga ke titian kayu yang jadi akses utama di pulau tersebut.
Seusai doa yang dihaturkan sang imam yang memimpin salat tarawih, sejumlah bocah berikut orang dewasa pun membubarkan diri.
Sesudahnya, hanya beberapa orang yang tersisa di musala kecil itu. Membuka kitab suci Alquran, kemudian membacanya secara bergantian. Pemandangan yang lumrah ketika di bulan Ramadan.
Namun, bagaimanapun juga, mengunjungi kawasan Pulau Bromo pada malam itu menghadapkan penulis pada sensasi yang cukup berbeda.
Pulau Bromo tampak sunyi. Hampir saja tak ada warga yang tampak keluar dari rumahnya.
"Seperti inilah malam Ramadan kami, sepi," ucap Anang, warga Rt 6, Pulau Bromo, ketika ditemui penulis malam itu, tak jauh dari musala Darus Solihin.
Dituturkannya, suasana seperti itu bukanlah hal yang aneh bagi warga yang tinggal di pulau tersebut. Bahkan, sudah menjadi hal yang biasa."Sampai-sampai ada yang bilang seperti ini: ingin merasakan ketenangan (menyepi), berkunjunglah ke Pulau Bromo," ungkapnya, kemudian terkekeh.
Lelaki 48 tahun itu menjelaskan, warga Pulau Bromo adalah warga yang memiliki semangat bekerja keras. Menurutnya, bersantai, bukanlah gaya warga Pulau Bromo.
"Malam hari, adalah waktunya istirahat. Tak ada alasan untuk keluyuran. Lagi pula, memang mau kemana?," tekannya.
Pulau bromo berada di Kelurahan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Pulau yang diapit oleh Sungai Martapura dan Sungai Barito itu, terdiri dari empat rukun tetangga. Jumlah penduduk setidaknya lebih dari 1.000 jiwa.
Mayoritas warga bekerja sebagai petani, buruh pabrik, juga pengepul batu bara. Kalau pun ada yang bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN), hanya segelintir saja.
Akses utama penunjang mobilitas warga di pulau tersebut hanya titian kayu.
Dahulu, untuk bisa menyeberang ke daratan Banjarmasin, warga mengandalkan jasa kapal feri. Biayanya cukup murah. Untuk sekali menyeberang, cukup dengan membayar Rp2 ribu. Namun rupanya, kini feri itu tak lagi difungsikan.
Di tahun 2020 lalu, Pemko Banjarmasin, membangunkan sebuah jembatan penyeberangan menuju Pulau Bromo. Bahkan jembatan itu dinamai Jembatan Antasan Bromo.
Lokasi pembangunan jembatan berada di Jalan Halinau, Kelurahan Mantuil. Panjangnya sekitar 100 meter. Bentuknya jembatan gantung. Cukup megah. Lantaran di bawah jembatan juga dibangun sebuah taman, lengkap dengan lahan parkirnya.
Saat jembatan seharga Rp40 miliar itu diresmikan pada 4 Januari 2021 lalu, kawasan tersebut sontak diserbu warga. Tidak hanya warga yang berasal dari Kota Banjarmasin saja.
Bahkan sesudah peresmian itu, kawasan jembatan masih dipenuhi warga. Pelapak dagangan dan lain sebagainya. Andai tak ada pandemi, mungkin kondisinya bisa jadi lebih semarak lagi.
TAMBAL SULAM: Kondisi akses jalan titian di Pulau Bromo kian mengkhawatirkan. Tak sebanding dengan megahnya pembangunan Jembatan Antasan Bromo. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
Namun sayang, rupanya kemegahan jembatan itu tak diiringi dengan adanya perbaikan akses titian bagi warga di Pulau Bromo. Akses utama warga di situ, rupanya masih jauh dari kata layak.
Titian masih tampak tambal sulam. Di beberapa bagian tampak bolong, kayunya terlepas, jangan dilintasi sepeda motor, dilangkahi kaki pun berderak.
Kondisi itu, kian lengkap dengan suasana malam yang gelap. Penerangan, hanya sebatas mengandalkan lampu yang ada di teras rumah warga. Sungguh membahayakan pengguna jalan titian.
"Sudah banyak yang jadi korban. Dari anak-anak hingga orang dewasa. Dari yang terperosok, sampai yang tercebur ke sungai," ucap Anang.
Dijelaskan Anang, sebenarnya titian rusak bukanlah hal yang baru bagi warga Pulau Bromo. Ini adalah kisah lama yang sudah terjadi lebih dari 10 tahun."Sampai sekarang tak ada perbaikan. Kalau pun ada, perbaikan hanya dilakukan oleh warga," jelasnya yang berharap pemerintah bisa membenahi lagi titian itu.
"Kami mungkin jadi nyaman untuk ke seberang. Gorengan yang saya beli, masih hangat ketika dibawa ke rumah. Tapi selebihnya, kami masih merasa sunyi," tuturnya.
"Buktinya, seusai jembatan ini diresmikan, banyaknya warga yang datang dan suasana ramai itu kan ada di seberang (Jalan Halinau). Bukan di pulau ini," tekannya.
Hal senada juga diungkapkan oleh warga lainnya, Ijom. Menurutnya, ketika Jembatan Gantung Pulau Bromo selesai dibangun, kerusakan titian justru malah bertambah parah.
"Warga dari ujung ke ujung, pasti melintasi titian ini. Akhirnya, titian menjadi tambah rusak karena sering dilintasi," ucapnya.
"Bukan saya tidak bersyukur dengan adanya jembatan gantung ini. Tapi semestinya, pemerintah juga memikirkan akses titian yang rusak ini," lanjutnya."Kami di sini sudah cukup sering gotong royong menambal titian ini. Dari yang sebulan sekali, bahkan dua pekan sekali," tutupnya.
Seperti diketahui, jarak antara Pulau Bromo dan pusat pemerintahan Kota Banjarmasin, hanya berjarak kurang dari 9 kilo meter. Lantas, benarkah titian itu tak pernah disentuh perbaikan?
Berdasarkan data yang dihimpun penulis, Pemko melalui Dinas PUPR Kota Banjarmasin, sebenarnya pernah melakukan perbaikan akses titian di Pulau Bromo.
Tepatnya, pada tahun 2017 lalu. Titian yang ada, dibangun ulang dengan bahan beton. Lebar lantainya 2 meter. Ada pun dana yang digelontorkan saat itu, Rp3,8 miliar.
Namun, perbaikan hanya menyentuh 480 meter saja, dari total panjang titian yakni 1.500 meter. Jadi setidaknya, ada lebih dari 800 meter lagi yang belum disentuh perbaikan.
Kemarin (8/4) petang, penulis kembali menyambangi kawasan itu. Hasil perbaikan yang pernah dilakukan Pemko Banjarmasin itu masih tampak kokoh.
Di sisi lain, kali ini penulis juga bisa melihat lebih jelas kerusakan titian. Titian yang rusak dan belum diperbaiki, berada di Rt 6 dan Rt 7.
Salah seorang warga yang ditemui penulis di Rt 7 Pulau Bromo, Selamet, membenarkan bahwa titian tak sepenuhnya diperbaiku oleh pemko. Ketika ditanyakan tahun berapa adanya perbaikan titian tersebut, ia mengaku lupa."Tapi yang saya ingat dahulu kenapa titian ini tak ikut diperbaiki, karena masih dianggap bagus. Tapi itu dulu, coba dilihat yang sekarang," ucapnya.
"Kami di sini tak pernah berharap yang muluk-muluk. Cukup perbaiki saja titian ini. Kami sudah terlalu sering memperbaiki secara swadaya," tutupnya.
Di sisi lain, pada petang itu, Jembatan Gantung Antasan Bromo tampak kian kokoh lantaran diterpa cahaya senja. Tampak dramatis. Sayang, jembatan yang sempat menjadi daya tarik warga itu rupanya mulai kurang diminati.
Buktinya, taman hingga parkiran yang dibangun di bawah jembatan, yang ada di Jalan Haliau itu tak tampak lagi adanya kerumunan warga. Hanya beberapa saja.
Dituturkan salah seorang warga setempat, Adawiah, kawasan itu menurutnya sudah sepi sejak awal tahun tadi."Sekarang, orang sudah semakin jarang datang ke sini. Kalau pun ada, ya orang kampung sini," ucapnya."Yang dulunya tiap akhir pekan selalu ramai, juga sepi. Tak banyak. Hanya satu atau dua orang saja," tambahnya.
Hal senada juga diungkapkan warga lainnya, Junaidi. Ia adalah penjaga parkir di kawasan tersebut. Saking sepinya, ia mengaku jadi tak bisa membayarkan retribusi parkir ke dinas perhubungan (dishub) setempat.
"Apa yang disetor kalau parkiran saja sepi," ucapnya.
Sebenarnya, menurut warga yang juga aktif dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Bromo itu, kawasan jembatan itu bisa saja kembali ramai. Paling tidak, saat bulan Ramadan. Andaikan menurutnya, pemerintah setempat mau memindahkan Pasar Wadai (Kue) Ramadan, ke kawasan Jembatan Antasan Bromo.
"Tapi kan tidak, pemko menginstruksikan masing-masing kecamatan hanya ada satu. Kalau di sini (Kecamatan Banjarmasin Selatan), setahu saya di dekat kantor kecamatan sana," jelasnya.
"Saya tidak tahu pasti apa alasannya. Tapi, kalau tidak digelar di sini lantaran takut pengunjung membeludak ataui takut Covid-19. Bukannya sama saja, di sana pun juga bisa membludak. Kalau dibiarkan seperti ini, ya bisa jadi terus-terusan sepi," pungkasnya. (war/by/ran) Editor : Arief