Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Unik Tiang Guru dan Masjid Al-Anwar

Arief • Jumat, 8 April 2022 | 15:21 WIB
TIGA KALI DIPUGAR: Masjid Agung Al Anwar yang pemugarannya sempat menuai pro dan kontra. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 
TIGA KALI DIPUGAR: Masjid Agung Al Anwar yang pemugarannya sempat menuai pro dan kontra. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN 
Ada banyak cerita di luar nalar yang mengiringi proses pengantaran Tiang Guru, juga ketika 'ditemukannya' Masjid Timbul. Bahkan, MUI Batola pun dikisahkan sampai turun tangan.

Photo
Photo


Tidur di mes pekerja sawit yang berdekatan dengan eks Kampung Sinar Cahaya, jangan coba-coba tak pakai sarung atau selimut.

Cuaca pada Minggu (3/4) dini hari itu sungguh dingin menggigit. Tapi nyaman. Cukup membuat penulis malas untuk bangun.

Andai bukan bulan Ramadan dan mesti bersantap sahur, mungkin penulis masih melanjutkan tidur hingga azan berkumandang.

Selepas sahur, penulis berangkat ke Desa Antar Jaya untuk menemui Kepala Desa Antar Jaya, Kaspul Anwar.

Perjalanan masih menggunakan perahu motor. Bedanya, kali ini diantar oleh Arbain. Ia penjaga keamanan di perkebunan sawit yang berdekatan dengan eks Kampung Sinar Cahaya.

Jarak antara eks Kampung Sinar Cahaya menuju Desa Antar Jaya berjarak 9 kilometer. Perjalanan darat yang cukup singkat, andai saja jalanan mulus. Tidak becek dan lain sebagainya.

Tanpa menunggu lama, pagi itu kami bertiga membelah sungai yang lebarnya tak lebih dari 2,5 meter itu, menuju Desa Antar Jaya.

Kawasan perkebunan sawit kami lewati. Berkali-kali laju perahu dikurangi. Tepatnya, ketika melintas di bawah sejumlah kolong jembatan perkebunan sawit.

Tak kurang dari setengah jam -sungguh perjalanan yang singkat- kami pun tiba di Desa Antar Jaya. Ada pasar tradisional di situ.

Warga setempat menyebutnya Pasar Minggu. Atau pasar yang hanya digelar pada hari Minggu. Hampir semua kebutuhan dapur atau rumah tangga dijual di situ.

Kepala Desa (Kades) Antar Jaya, Kaspul Anwar sudah menunggu di kediamannya. Dia menceritakan tentang lima buah tiang berbahan kayu ulin di Masjid Timbul.

Satu di antaranya, berukuran sangat lebar. Dan memiliki panjang lebih dari 12 meter. Tiang itu merupakan material bangunan eks Masjid Agung Al Anwar.

Semenjak Masjid Timbul atau masjid yang memiliki nama resmi Masjid Sinar Sabilal Muhtadin itu booming, ada banyak cerita yang mengiringinya.

Seperti yang diceritakan oleh sang kades. Dituturkannya, pernah ada orang yang mencoba mengukur lebar Tiang Guru dengan cara memeluk tiang tersebut. Sayang, rupanya saat itu tiang tak bisa dipeluk.

"Menurut cerita, tiang itu tampak menjadi sangat lebar. Padahal yang memeluk tiang itu orang dewasa bertubuh pancau (jangkung, red). Lengannya juga cukup panjang," jelasnya.

Namun sebaliknya, pada suatu ketika, ada anak-anak yang mencoba memeluk tiang itu. Dan berhasil."Padahal, anak-anak kan tubuhnya pendek. Juga lengannya. Malah bisa memeluk tiang itu," lanjut Kaspul.

Tentang keanehan tiang itu juga dituturkan warga Desa Antar Jaya, Salahudin. Kali ini saat pengantaran tiang. Dari Masjid Agung Al Anwar, menuju Masjid Timbul.

Regu pengantar menurutnya seakan tak merasa kerepotan dengan ukuran tiang yang besar itu. Padahal bila dilihat secara kasat mata, tiang itu semestinya cukup sulit dibawa.

"Selain ukurannya yang besar, tiang itu juga berat. Tapi pada saat dibawa, tiang itu justru sangat ringan," tuturnya.

"Selanjutnya, saat menyusuri sungai. Kita tahu, sungai ini sempit. Juga memiliki banyak tikungan. Tapi, saat tiang itu dibawa, tiang seakan-akan lentur. Bisa mengikuti alur sungai," lanjutnya.

"Padahal, tiang itu kan lurus. Tak ada lentur-lenturnya. Pasti sulit melewati tikungan sungai yang sempit," tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan Arbain yang mengantar penulis pagi itu. Ia mengetahui kisah tiang itu dari orang-orang terdahulu.

Dikisahkannya, tiang besar yang dibawa menuju Masjid Timbul itu seakan meluncur dengan sendirinya di sungai. Seakan hendak segera tiba di lokasi Masjid Timbul berada."Seperti memang ingin ditancapkan di masjid itu," tekannya.

Di sisi lain, jauh sebelum tiang itu dibawa hingga ditancapkan untuk pembangunan Masjid Timbul, tersiar kabar tiang itu memang memiliki keanehan.

Hal itu diungkapkan oleh H Jahran. Warga yang tinggal tak jauh dari lokasi Masjid Agung Al Anwar, di Jalan Panglima Wangkang.

Ketika hujan mengguyur, deras atau pun tidak, siang atau pun malam, selalu terdengar ada suara banyak orang di dalam Masjid Agung Al Anwar.

"Cerita itu, saya dapatkan dari mantan imam tua di Masjid Agung Al Anwar ini," ucap H Jahran, ketika ditemui penulis di Masjid Agung Al Anwar, pada Minggu (3/4) petang.

"Imam masjid itu menceritakan, seperti ada banyak jemaah yang ikut salat di belakangnya. Ia juga mendengar dengan jelas ucapan 'Aamiin'. Padahal waktu itu, ia salat sendirian di dalam masjid ini," tuturnya.

"Semenjak itu, ada yang berpendapat bahwa suara-suara itu, konon berasal dari Tiang Guru," tutupnya.

Berbagai cerita tentang Tiang Guru itu, juga penulis tanyakan kepada H Aslani Effendy. Warga asli Marabahan yang kini menetap di Handil Bakti, ini dahulunya pernah ditugasi membawa tiang tersebut. Dari Masjid Agung Al Anwar, ke kawasan didirikannya Masjid Timbul. Yakni Kampung Sinar Cahaya.

Diungkapkannya, ia mengaku tidak berani memastikan kebenaran cerita itu. Alasannya, karena saat mengantar Tiang Guru, perahunya hanya bisa sampai ke depan Desa Antar Jaya."Selebihnya, Kepala Padang Desa Sinar Cahaya yakni Abdul Muin dan warga lainnya lah yang melanjutkan pengantaran," ucapnya.

"Perahu saya, waktu itu terlalu besar untuk bisa menyusuri sungai yang ada di Kampung Sinar Cahaya," jelasnya.

Kendati demikian, Aslani mengaku berani memastikan, Tiang Guru yang berada di Masjid Timbul adalah tiang yang sama saat berada di Masjid Agung Al Anwar.

Diceritakannya, saat geger tentang adanya Masjid Timbul, pada periode tahun 2005 hingga 2006, ia ditugasi mendatangi masjid itu memastikan sesuatu. Salah satunya, tentang keberadaan Tiang Guru."Itu, atas permintaan ayah angkat saya. Saat itu, beliau menjabat sebagai Kepala MUI Batola, H Asranuddin," ungkapnya.

Diutarakan Aslani pula, geger tentang Masjid Timbul, juga menjadikan banyaknya cerita yang berseliweran di tengah warga Kabupaten Batola. Hal itu, sontak menjadi keriuhan tersendiri.

"Setelah geger, masjid itu kembali dimanfaatkan. Diperbaiki, sampai ada yang meletakan kain kuning. Ada penjaga atau pembaca doa yang duduk di masjid. Mendoakan orang-orang yang datang," kisahnya.

Gegernya tentang keberadaan Masjid Timbul, menurut Aslani, juga memantik reaksi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Batola. Organisasi besar yang saat itu diketuai oleh H Asranuddin, lantas ingin mengklarifikasi cerita yang beredar di tengah warga Batola.

"Para pemuai sarang lebah, yang 'menemukan' Masjid Timbul pun diundang berdialog. Tak lain dan tak bukan, hanya untuk mengklarifikasi cerita yang beredar," tutur Aslani.

Ambil contoh, cerita tentang saat hujan deras, tak ada setetes pun air hujan yang mengenai tubuh para pemuai sarang lebah. Tepatnya, ketika berteduh hingga beristirahat di Masjid Timbul.

Padahal seperti diketahui, saat ditemukan, atap Masjid Timbul itu sendiri tampak mengalami kerusakan. Banyak atapnya yang bolong."Menurut yang dikisahkan ayahanda Asranuddin kepada saya, cerita itu hanyalah guyonan para pemuai sarang lebah," ucapnya.

"Memang, tidak ada setetes air yang yang jatuh ke tubuh mereka, tapi air yang jatuh itu mandasau (mengguyur deras)," jelasnya.

Lalu, ada pula cerita tentang ketika salah satu pemuai sarang lebah yang mencoba memeluk tiang besar di masjid itu, untuk mengetahui seberapa lebar ukurannya. Yang konon, ketika dipeluk, tiang itu justru malah 'kadada' (menghilang).

"Menurut si pemuai sarang lebah, yang ia maksud itu sebenarnya 'ka dada' (ke dada). Bukan 'kadada' (menghilang)," tekannya.

TIANG GURU: ‘Warisan’ Masjid Agung Al Anwar yang berada di Masjid Timbul.

Terakhir, perihal Masjid Timbul yang tak tersentuh kobaran api yang membakar lahan. Menurut Aslani, itu tak lain lantaran karena adanya parit besar yang mengelilingi Masjid Timbul.

Dituturkannya, dahulu, Kepala Padang Kampung Sinar Cahaya, Abdul Muin hanya berencana membuat sebuah surau. Namun, ketika penduduk semakin bertambah, keinginan membangun masjid pun dicetuskan.

"Ditaksir, waktu itu ada lebih dari 300 kepala keluarga yang bermukim di kampung itu. Sangat banyak. Maka dibangunlah masjid itu," ucapnya.

"Nah, Abdul Muin sadar bahwa lahan itu rentan terbakar. Ia pun membuat parit yang besar mengelilingi masjid. Tujuannya agar api tak sampai melahap bangunan masjid itu," tekannya.

Lantas bagaimana dengan adanya cerita tentang nazar yang terkabul? Menurut Aslani. Itu adalah hal yang wajar. Karena berdoa, sungguh tak salah. Bahkan dianjurkan. Di mana pun dan kapan pun kita mau.

Terlepas dari kisahnya yang kontroversial, di tengah kesunyian, Masjid Timbul hingga kini masih tegak berdiri, Pintunya tak pernah terkunci. Seakan selalu siap menyambut jemaah atau peziarah yang datang.

Pemugaran yang Disayangkan



Tiang Masjid Timbul diambil dari tiang soko guru di Masjid Agung Al Anwar. Masjid bersejarah itu diperkirakan dibangun pada abad ke-19 di Batola.

Adanya pemugaran menyeluruh terhadap masjid agung tersebut, sempat menuai pro dan kontra di tengah masyarakat Kabupaten Barito Kuala (Batola).

Dari informasi yang beredar, tidak sedikit yang menyayangkan adanya pemugaran masjid itu. Masyarakat menilai, masjid yang dahulu sarat akan sejarah.

Konon, masjid itu pernah jadi benteng pertahanan pejuang kemerdekaan dalam melawan penjajah Belanda.

Di sisi lain, bila melihat dari segi faktor usia hingga keindahannya, masjid itu dahukunya dinilai sebagai bangunan yang sarat akan nilai jual.

"Konon, saking indah dan megahnya masjid agung itu dahulunya, setiap perahu yang melintas di perairan Barito, akan terlihat miring, bang," ucap wartawan Radar Banjarmasin yang ngepos di Kabupaten Batola, Ahmad Mubarak.

Ia sendiri mengaku, mendengar cerita itu dari sang ayah, yang merupakan warga asli Kelurahan Ulu Benteng, Kebupaten Batola.

"Maksud saya, pengemudi perahu beserta penumpangnya sangat antusias hendak melihat masjid itu. Makanya perahu jadi sampai miring," timpalnya.

Sementara itu, penulis juga mengulik kisah dari warga yang tinggal di lokasi Masjid Agung Al Anwar, itu berada.

M Mawardi salah satunya. Ia menjelaskan bahwa dirinya juga pernah mendengar kisah orang dahulu tentang masjid agung tersebut.

"Yang membangun masjid agung ini (sebelum dipugar) tidak hanya warga dari Marabahan. Tapi juga warga daerah lain di Kabupaten Batola. Mereka bahu membahu. Bergantian tiap pekannya," ungkapnya.

Mawardi pun lantas mengatakan, dari pemugaran masjid yang dilakukan, ciri-ciri Masjid Agung Al Anwar berusia tua, kini hanya bisa dilihat dari bentuk mimbarnya saja. Sisanya, lenyap.

Senada dengan apa yang disampaikan warga lainnya, H Jahran. Ia juga membenarkan bahwa hanya sebuah mimbar saja yang masih tersisa dari proses pemugaran itu.

Kemudian, seingat lelaki yang bekerja di Kantor Kemenag Batola itu, pemugaran masjid agung dilaksanakan sebanyak tiga kali.

Sayang, ia tidak mengetahui secara pasti kapan saja pemugaran itu dilakukan.

"Yang saya ingat pemugaran pertama kali dilakukan pada masa Bupati Batola dijabat oleh H Abdul Aziz. Lalu dilanjutkan oleh Bupati Hasanuddin Murad," tutupnya warga Jalan Panglima Wangkang, tersebut.

Dari penelusuran penulis, H Abdul Aziz tercatat menjabat sebagai Bupati Batola sebanyak dua kali. Yakni pada periode tahun 1972-1973. Kemudian periode tahun 1983-1987.

Sementara H Hasanuddin Murad, menjabat sebagai Bupati Batola, pada periode tahun 2007-2012. Dan periode tahun 2014-2017. (war/by/ran) Editor : Arief
#Masjid #Ekspedisi Ramadan