Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tiang dan Mimbar Di-Kain Kuningi

Arief • Kamis, 7 April 2022 | 05:56 WIB
LEBAR: Tiang Guru di Masjid Timbul, diwarisi dari Masjid Agung Al Anwar. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
LEBAR: Tiang Guru di Masjid Timbul, diwarisi dari Masjid Agung Al Anwar. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN
Lima tiang ulin kokoh berdiri. Semua berselimut kain kuning. Satu di antaranya disebut Tiang Guru.

Photo
Photo


Tiang itu berada di ruang utama Masjid Timbul. Menancap di lantai, menembus plafon masjid tersebut. Satu di antara lima tiang itu tampilannya cukup mencolok.

Lebar tiang hampir seperti drum minyak. Sedangkan tingginya, mencapai lebih dari 12 meter. Posisinya persis berada di tengah-tengah. Di antara empat tiang lainnya.

Marbot Masjid Timbul, Muhran percaya bahwa kelima tiang itu memiliki kelebihan tersendiri. Khususnya, tiang yang ukurannya paling lebar dan besar itu.

Selain usianya yang dipercaya sudah mencapai ratusan tahun, tiang itu pula yang menarik para pezairah datang ke Masjid Timbul.

"Kata orang yang khawas yang pernah datang ke sini, tiang ini menjadi penanda tempat berkumpulnya 27 waliyullah," bebernya, pada Sabtu (2/4) malam di eks Kampung Sinar Cahaya.

Di masjid itu juga ada sebuah mimbar tua. Compang-camping dan tampak miring. Mimbar itu, juga tampak diselimuti kain kuning.

Diceritakan Muhran, mimbar itu pernah dibongkarnya. Namun kemudian dirakit ulang hingga kembali ke bentuknya semula.

Mengapa demikian? Sebelum menjawabnya, Muhran tampak menghela napas panjang.

Boleh percaya boleh tidak. Suatu hari, saat Masjid Timbul mengalami perbaikan, mimbar itu pun rencananya juga turut diperbaiki. Namun, baru sebagian mimbar kayu itu dibongkar, Muhran mengaku mengalami kejadian aneh.

YANG LAMA DAN YANG BARU: Mimbar tua di Masjid Timbul, diselimuti kain kuning. Ada cerita ganjil saat mimbar tua itu dibongkar. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Cuaca di luar tiba-tiba saja mendung, angin berembus sangat kencang. Berbarengan dengan peristiwa itu, hampir separuh tubuhnya tak bisa digerakan."Mati rasa, seperti lumpuh," tuturnya.

Beruntung, saat itu ada sejumlah buruh sawit yang melintas di depan masjid. Ia pun memanggil buruh itu untuk dimintai pertolongan.
"Saya merasa, itu akibat saya nekat membongkar mimbar ini tanpa permisi," ungkapnya.

Susah payah Muhran dan buruh sawit merakit mimbar agar kembali ke bentuknya semula."Uniknya, ketika semua kayu mimbar itu selesai dirakit, saya bisa berjalan dan tidak lumpuh lagi," lanjutnya."Agar tidak kembali rusak, saya melilit mimbar itu dengan kain kuning," tambahnya.

Kini, mimbar tua itu dibiarkan teronggok di tempatnya dan tidak dipakai lagi. Di sampingnya, sudah ada mimbar baru sebagai penggantinya.

Kembali ke kisah lima tiang yang berada di dalam masjid tersebut.

Dituturkan Muhran, saat pembangunan masjid berlangsung. Warga Sinar Cahaya bahu membahu mendirikan tiang yang ukurannya paling besar itu.

Tak sedikit waktu yang dibutuhkan. Proses mendirikan tiang itu, berlangsung sedari pagi hingga malam hari. Ketika tiang besar berhasil didirikan, warga kelelahan dan kembali ke rumah masing-masing.

"Meskipun pada kenyataannya, tiang itu masih tampak miring seusai didirikan," tuturnya.

Di luar dugaan, ketika warga sudah berada di dalam rumah, terdengar bunyi debumam nyaring dari dalam masjid. Konon, bunyi demumam itu terdengar hingga ke Desa Antar Jaya.

Pagi harinya, warga pun berdatangan menuju masjid. Mereka mengira, tiang besar yang baru selesai didirikan itu roboh."Ternyata tidak. Justru sebaliknya, tiang itu tak lagi miring. Bahkan menancap dengan kokohnya," tekannya.

Sejak saat itu, baik tiang maupun mimbar tua yang ada di dalam Masjid Timbul, seakan dikeramatkan oleh penduduk setempat.

Lantas, dari mana tiang besar itu berasal? Mengingat dari bentuk dan ukurannya, sangat jauh berbeda dari empat tiang lainnya.

Muhran menjelaskan bahwa kelima tiang itu berasal dari satu tempat yang sama. Diwarisi dari salah satu masjid tertua, yang menjadi kebanggan warga di Kabupaten Barito Kuala (Batola): Yakni, Masjid Agung Al Anwar.

"Saat itu, Masjid Agung Al Anwar mengalami pemugaran secara menyeluruh. Panitia pembangunan Masjid Timbul, meminta sejumlah materialnya. Salah satunya, adalah tiang ini," tutupnya.

Cerita tentang asal muasal tiang Masjid Timbul itu dibenarkan oleh seorang warga asal Marabahan, H Aslani Effendy. Ia kini tinggal di Jalan Handil Bakti, Kabupaten Batola.

Seingatnya, berkisar antara tahun 1982 hingga 1984 Masjid Agung Al Anwar, mengalami pemugaran total.

Dalam kurun waktu itu, sepengetahuannya ada dua Kepala Padang (sebutan untuk tokoh yang mengetuai pembukaan lahan) di Kabupaten Batola, yang mendatangi panitia pemugaran Masjid Agung Al Anwar.

"Dua tokoh itu bernama Rapi'i dan Abdul Muin. Keduanya adalah perantau," ungkapnya, ketika ditemui penulis, pada Senin (4/4) petang di kediamannya.

Rapi'i dikenal dengan nama Maturis, perantau asal Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Ia merupakan Kepala Padang Kampung Dahirang.
Sedangkan Abdul Muin, perantau asal Kabupaten Tapin. Ia merupakan Kepala Padang Kampung Sinar Cahaya.

Keduanya, sama-sama meminta material masjid agung untuk dimanfaatkan kembali. Dan sama-sama menggunakan material itu untuk pembangunan masjid.

Dijelaskan Aslani, Rapi'i membangun masjid di Kampung Dahirang. Masjid itu, kini dikenal dengan nama Masjid Al Anwar Mujahidin.

Sedangkan Abdul Muin, membangun masjid di Kampung Sinar Cahaya. Masjid itu bernama Masjid Sinar Sabilal Muhtadin. Atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Timbul.

"Saya sendiri yang mengantarkan materialnya. Menggunakan perahu motor," jelasnya mantan Anggota DPRD Batola periode DPRD Batola periode tahun 1999 hingga 2004, itu.

Aslani mengatakan, tiang yang ukurannya paling besar memang di antar ke Kampung Sinar Cahaya. Sedangkan kampung lain, hanya kebagian tiang-tiang berukuran lebih kecil.

"Perahu mesin yang saya gunakan panjanganya sekitar 12 meter. Tiang itu lebih panjang dari perahu saya. Jadinya, tiang itu hanya diikat di luar badan perahu. Tidak dimasukan ke dalam perahu," jelasnya.

Untuk lebih memastikan tiang yang dimaksud, penulis juga memperlihatkan foto tiang yang diambil di Masjid Timbul. Aslani pun kembali membenarkan.
"Karena ukurannya yang besar itu, kami biasa menyebutnya: Tiang Guru," jelasnya.

Diungkapkan Aslani pula, material bekas pemugaran Masjid Agung Nurul Anwar, sungguh berkah. Buktinya, dua kampung yakni Kampung Dahirang dan Sinar Cahaya, mampu mendirikan masjid dari sisa material masjid agung tersebut.

"Ada banyak sekali material yang kami antar. Bahkan, atapnya pun kami serahkan juga kepada dua tokoh atau kepala padang itu," jelasnya.

Disinggung terkait alasan mengapa ada pemugaran menyeluruh terhadap Masjid Agung Al Anwar, Aslani menjelaskan, waktu itu pemerintah setempat menginginkan berdirinya sebuah masjid yang tampak modern.

"Masjid Agung Al Anwar, dahulu tidak mengalami kerusakan atau dalam kondisi membutuhkan pemugaran menyeluruh. Buktinya, materialnya saja masih bisa dimanfaatkan. Tapi memang, masjid itu usianya sudah sangat tua," tutupnya. (war) Editor : Arief
#Masjid #Ekspedisi Ramadan