Hikmah Dibalik dalamnya Rahasia Hati

admin • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:14 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Orang yang mengetahui rahasia hamba Allah dan orang tersebut belum berakhlak dengan akhlak ilahiyah, maka mengetahui yang demikian itu merupakan fitnah atasnya dan sebab untuk menarik kebinasaan atasnya.”

Hikmah ke-156 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

                ****

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, kenapa Allah tidak memperlihatkan rahasia-rahasia yang ada di dalam hati seorang hamba itu? Karena Allah sayang dengan hamba-Nya. Sebab orang yang mengetahui hati orang dan rahasia lainnya, kalau belum mencukupi syarat dekat dengan Allah, belum mantap dalam musyahadah seperti tauhid af’al dan belum berakhlak dengan akhlak Allah, maka mengetahui rahasia-rahasia hamba itu menjadi fitnah dan musibah yang besar.

Seperti ada teman kita cerita tentang aib orang lain kepada kita, maka kabar itu bisa mencelakakan dan membinasakan kita.

Mengetahui rahasia orang lain juga bisa membuat seseorang merasa memiliki kelebihan, sehingga ia  akan dimasuki sifat sombong dan ujub, di mana keduanya adalah sumber dari segala maksiat.

Sehingga pengetahuan atas rahasia makhluk adalah bentuk ujian dari Allah untuk orang yang sudah taat secara zahirnya. Jika dia tidak dapat melewati ujian tersebut, bisa terkena penyakit sombong, merasa hebat dan dapat memamerkan kelebihan itu kepada orang lain. Pada akhirnya, kelebihan yang diberikan Allah ini hanya seolah menjadi mainan saja, tidak lebih dari itu.

Demikian pula halnya, jika orang yang mengetahui rahasia hamba, tidak berakhlak dengan akhlak Allah Ar-Rahman, maka dia tidak sayang kepada orang lain dan tidak bisa menutupi aib mereka, juga akan jatuh kepada maksiat. Misalnya, semula berteman baik, setelah diberikan Allah keistimewaan dengan tahu isi hati orang lain, maka akhirnya dia benci dengan teman baiknya ini.

Diceritakan zaman dahulu, Nabi Ibrahim As. Sedang berada di rumah dan datang seorang pengemis tua meminta makanan kepada beliau. Nabi Ibrahim pun bertanya kepada pengemis itu ‘apakah kamu beriman kepada Allah?’ pengemis menjawab, ‘aku tidak beriman kepada Allah’, kata Nabi Ibarhim lagi, ‘kalau kamu beriman akan kujamu dengan makanan’, pengemis menjawab lagi, ‘tidak! Biar mati pun aku tidak beriman kepada Allah’. Maka jalanlah pengemis tadi meninggalkan rumah Nabi Ibrahim.

Maka setelah kejadian itu Nabi Ibrahim ditegur oleh Allah Swt. ‘Wahai Ibrahim! Kenapa engkau mengaitkan memberi makan dengan keimanan? Pengemis tua itu sudah berumur lebih 70 tahun dan dia tidak beriman selama itu kepada-Ku dan tetap dia Aku pelihara dan Kuberi makan.’

Dalam kisah ini menunjukan sifat Allah Ar-Rahman, Allah tidak pilih kasih baik itu orang yahudi, nasrani, majusi, orang durhaka kepada Allah, dsb. Semuanya dikasihani Allah tapi kalau sayang berbeda. Allah menyayangi orang yang disayanginya saja.

Maka dikhawatirkan jika kita belum punya sifat Ar-Rahman seperti itu dan melihat rahasia orang yang punya hati pendendam dan penyakit hati lainnya lalu kita benci kepadanya, dan kita memutuskan silaturrahim dengannya.

Inilah yang dikhawatirkan dampak dari diberi keistimewaan seperti itu sementara kita belum mantap musyahadah dan sifat Ar-Rahman yang ada pada diri kita ini.

Diceritakan ada seorang ulama, Ma’ruf al-Karkhi, beliau berjalan di tepi sungai Nil dengan sahabat beliau dan mereka melihat kapal, di kapal itu ada pesta yang identik dengan maksiat. Maka sahabat ulama ini merespon dengan pemandangan itu untuk mendo’akan tenggelam kapal itu.

Kata Ma’ruf al-Karkhi: jangan seperti itu wahai sahabatku, do’akan saja mereka dengan do’a “Ya Allah, sebagaimana engkau telah menggembirakan mereka di dalam dunia ini maka gembirakanlah pula mereka nanti di dalam akhirat.” Artinya, orang seperti ini akan diberi hidayah dan taufik oleh Allah dan berakhir husnul khatimah serta di akhirat bahagia.

Maka ini adalah contoh orang yang sudah berakhlak dengan akhlak Ar-Rahman, artinya selalu mengasihi siapa pun bahkan kepada ahli maksiat sekalipun. Dengan kasih yang berbeda seperti mendoakan dia dapat hidayah sebelum akhir hayatnya dan seterusnya.

Jadi, apabila kita mengetahui isi hati seorang hamba sementara kita belum mantap tauhid dan belum berakhlak dengan akhlak yang mulia, maka pengetahuan kita terhadap hati seorang hamba itu akan mendatangkan bala, musibah serta maksiat kepada kita sendiri.

Oleh karena itulah Allah Swt. tidak memberi mukasyafah (rahasia-rahasia hamba) kepada setiap orang yang dicintai-Nya. Sebagian orang yang dicintai Allah diperlihatkan alam malakut tapi dia tidak tahu dengan isi hati orang rumahnya sendiri. Itu bisa terjadi karena Allah memberikan rahmat kepada mereka itu.

Kalau seandainya suami tahu isi hati seorang istri saja, maka jika tidak siap konsekuensinya adalah akan terjadi pertengkaran atau hal jelek lainnya. Maka tidak mengetahui isi hati orang lain ini adalah bentuk rahmat dari Allah Swt. (*)

Editor : Arief
Tarbiyah