RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Nama Liam Otmar Irvan Oetoehganal kembali menjadi perhatian publik sepak bola Indonesia. Gelandang muda kelahiran Belanda yang memiliki garis keturunan Banjar itu disebut-sebut masuk dalam radar Timnas Indonesia untuk memperkuat lini tengah pada masa mendatang.
Liam merupakan produk akademi Feyenoord yang kini bermain bersama Jong Sparta Rotterdam. Meski hingga akhir Juli 2026 belum ada konfirmasi resmi mengenai proses naturalisasi, namanya terus dikaitkan dengan program regenerasi Timnas Indonesia berkat latar belakang keluarga dan perkembangan kariernya di sepak bola Belanda.
Berdarah Banjar, Jawa, dan Suriname
Liam Otmar Irvan Oetoehganal lahir di Nijmegen, Belanda, pada 4 Mei 2004. Ia berasal dari keluarga multikultural yang memiliki garis keturunan Belanda, Banjar, Jawa, dan Suriname.
Darah Indonesia mengalir dari pihak ayahnya, Otmar Oetoehganal. Nenek dari garis ayah diketahui berasal dari Desa Sungkai, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sementara ibunya memiliki keturunan Jawa dan Suriname.
Nama keluarga Oetoehganal juga memiliki makna khas dalam bahasa Banjar. Kata "Oetoeh" atau "Utuh" merupakan sapaan sayang untuk anak laki-laki, sedangkan "Ganal" berarti besar. Nama tersebut dikenal sebagai salah satu nama keluarga yang lekat dengan masyarakat Banjar.
Latar belakang inilah yang membuat Liam menjadi salah satu pemain diaspora Indonesia yang cukup banyak mendapat perhatian, khususnya dari masyarakat Kalimantan Selatan.
Tumbuh di Akademi Feyenoord
Karier sepak bola Liam dimulai di SC Feyenoord sebelum bergabung dengan akademi utama Feyenoord pada 2011.
Selama lebih dari satu dekade, ia menimba ilmu di salah satu akademi terbaik di Belanda. Liam dikenal sebagai gelandang yang memiliki disiplin taktik, kemampuan membaca permainan, serta fleksibilitas untuk bermain di beberapa posisi.
Performa konsistennya membuat Liam sempat mendapat panggilan memperkuat Timnas Belanda U-16 sekitar 2019.
Sempat Berkarier di Belgia
Setelah meninggalkan Feyenoord pada 2022, Liam melanjutkan karier bersama Beerschot VA di Belgia.
Di klub tersebut, ia memperkuat tim muda sekaligus merasakan atmosfer kompetisi sepak bola Belgia sebelum kembali ke Belanda.
Selanjutnya Liam bergabung dengan Excelsior Rotterdam U-21 pada 2024. Meski hanya semusim, ia tetap menjadi salah satu pemain yang rutin mendapat kesempatan tampil sebagai gelandang bertahan maupun gelandang tengah.
Raih Kontrak Profesional di Sparta Rotterdam
Perkembangan karier Liam berlanjut ketika bergabung dengan Jong Sparta Rotterdam pada Juli 2025.
Di klub tersebut, performanya berkembang pesat. Ia menjadi pemain reguler di Tweede Divisie dan beberapa kali dipercaya mengenakan ban kapten ketika pemain senior tidak tampil.
Penampilan konsisten tersebut membuat Sparta Rotterdam memberikan kontrak profesional pertamanya pada 20 November 2025.
Kontrak itu berlaku hingga musim panas 2027 dengan opsi perpanjangan satu musim.
Hingga pertengahan 2026, Liam masih memperkuat Jong Sparta Rotterdam dan belum menjalani debut resmi bersama tim utama Sparta Rotterdam di kompetisi Eredivisie.
Gelandang Modern yang Fleksibel
Liam dikenal sebagai gelandang modern yang mengutamakan keseimbangan permainan.
Ia mampu menjaga ritme pertandingan, membantu distribusi bola, sekaligus melindungi lini belakang.
Selain bermain sebagai gelandang tengah, Liam juga dapat ditempatkan sebagai gelandang bertahan, bek kanan, maupun bek kiri.
Kemampuan bermain di beberapa posisi membuatnya menjadi pemain yang fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan sepak bola modern.
Karakter permainannya lebih menonjol dalam aspek taktik dibanding produktivitas gol. Ia dikenal rajin melakukan pressing, disiplin menjaga posisi, serta piawai membaca arah permainan lawan.
Masuk Radar Timnas Indonesia
Nama Liam mulai ramai dibicarakan publik Indonesia sejak 2020 ketika masih memperkuat akademi Feyenoord.
Memasuki pertengahan 2026, namanya kembali mencuat setelah sejumlah media mengaitkannya dengan program regenerasi Timnas Indonesia menjelang Piala AFF 2026 dan Kualifikasi Piala Dunia 2030.
Karakter permainannya dinilai memiliki kemiripan dengan gelandang bertahan modern seperti Thom Haye maupun Joey Pelupessy, terutama dalam hal distribusi bola, kemampuan bertahan, dan fleksibilitas posisi.
Namun hingga akhir Juli 2026, belum ada pengumuman resmi dari PSSI mengenai proses naturalisasi Liam. Sparta Rotterdam juga belum memberikan pernyataan terkait isu tersebut, begitu pula Liam yang belum menyampaikan sikap resminya.
Dengan demikian, statusnya saat ini masih sebatas pemain diaspora yang ramai dikaitkan dengan peluang memperkuat Timnas Indonesia.
Berpeluang Terus Berkembang
Pada usia 22 tahun, Liam masih berada dalam fase perkembangan sebagai pesepak bola profesional.
Bekal pendidikan di akademi Feyenoord, pengalaman bermain di Belgia, serta kontrak profesional bersama Sparta Rotterdam menjadi modal penting untuk menembus level yang lebih tinggi.
Apabila mampu menembus tim utama Sparta Rotterdam dan tampil reguler di Eredivisie, nilai kompetitifnya diperkirakan akan meningkat signifikan.
Bagi Indonesia, Liam dinilai menjadi salah satu opsi menarik karena memadukan pendidikan sepak bola Belanda dengan garis keturunan Indonesia yang jelas. (*)
Editor : M. Ramli Arisno