RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Sebuah detail kecil dari laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Portugal dan Spanyol di Dallas, beberapa waktu lalu, justru menjadi perbincangan besar di luar lapangan.
Bukan hanya soal gol Mikel Merino di injury time yang memupus harapan Portugal, tetapi juga soal lubang mencolok di tumit sepatu Pedro Neto yang tertangkap kamera.
Winger Chelsea itu bermain dengan lubang menganga di bagian tumit sepatunya hingga kaus kaki menyembul keluar.
Awalnya publik menduga itu akibat tekel keras atau kerusakan biasa. Namun dugaan itu runtuh ketika sepatu pengganti yang dipakai Neto ternyata berlubang di titik yang persis sama. Ini bukan kecelakaan, tapi modifikasi yang disengaja.
Fisioterapis olahraga Akhmad Ferdian, langsung mencermati fenomena tersebut dari perspektif medis. Menurutnya, apa yang dilakukan tim medis Portugal terhadap sepatu Neto adalah respons terhadap kondisi yang dikenal dalam dunia medis sebagai Haglund's Deformity — tonjolan tulang abnormal di bagian belakang tumit, tepat di area lekat tendon Achilles.
"Kondisi ini bukan sesuatu yang baru di kalangan pemain elite. Sejumlah pemain top dunia pernah mengalami hal serupa. Bagian belakang sepatu bola memang sengaja dibuat kaku untuk menstabilkan kaki, tapi pada penderita Haglund's Deformity, bagian itu justru terus menekan dan menggesek tonjolan tulang sepanjang lebih dari 90 menit permainan," jelas Akhmad Ferdian, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan, kondisi ini umumnya melibatkan tiga persoalan sekaligus yang saling memperburuk satu sama lain: tonjolan tulang di tumit, radang pada bursa atau bantalan berisi cairan antara tulang tumit dan tendon Achilles, serta iritasi pada tendon Achilles itu sendiri.
"Tonjolan menimbulkan gesekan, gesekan memicu radang, dan radang mengganggu tendon. Pemain sayap seperti Neto yang identik dengan lari cepat dan perubahan arah mendadak termasuk paling rentan karena beban pada area ini sangat berulang dan intens," terangnya.
Namun Akhmad Ferdian mengingatkan hal yang paling krusial: melubangi sepatu bukan solusi medis, melainkan hanya pengelola gejala sesaat.
"Tonjolan tulang tidak hilang hanya karena sepatunya dilubangi. Yang kita saksikan di lapangan itu murni tambal darurat agar seorang profesional bisa melewati satu laga besar. Bukan penanganan yang benar untuk jangka panjang. Bahkan modifikasi sepatu yang tidak tepat bisa merusak kestabilannya, dan itu justru menambah risiko cedera lain," tegasnya.
Lantas, bagaimana penanganan yang seharusnya? Akhmad Ferdian menjelaskan bahwa pendekatan yang benar harus dimulai dari memahami akar persoalannya — menganalisis pola berjalan dan pijakan kaki, memeriksa kelenturan otot betis, serta mengelola beban latihan agar area tumit tidak terus teriritasi.
Modifikasi alas kaki pun perlu dilakukan secara tepat, misalnya dengan penambah tinggi tumit atau bantalan khusus untuk mendistribusikan tekanan secara merata. Latihan penguatan otot betis secara bertahap juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
"Barulah jika semua pendekatan konservatif itu gagal setelah beberapa bulan, opsi operasi bisa dipertimbangkan. Bagi Neto sendiri, jalan operasi bukan hal asing — cedera pergelangan kaki pernah membuatnya absen dari Piala Dunia 2022," ujarnya.
Di penghujung penjelasannya, Akhmad Ferdian menarik pesan yang relevan bagi siapa pun, bukan hanya atlet profesional.
"Kita sering tergoda solusi cepat untuk keluhan tubuh — melubangi sepatu, membeli bantalan sembarangan, atau terus meminum pereda nyeri tanpa mencari sumber masalahnya. Nyeri yang hilang sesaat bukan berarti masalahnya selesai.
Penanganan yang benar-benar tuntas selalu berangkat dari memahami akar penyebabnya, bukan sekadar meredam gejalanya hingga peluit babak berikutnya berbunyi," pungkas Akhmad Ferdian.
Editor : Sutrisno