Spanyol Sempurna, Argentina Gagal Pertahankan Gelar Juara Piala Dunia

M Idris Jian Sidik • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 12:28 WIB
Timnas Spanyol menutup perjalanan luar biasa di Piala Dunia 2026 dengan cara paling sempurna. La Furia Roja sukses menumbangkan juara bertahan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu pada partai final di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7) dini hari Wita.
Timnas Spanyol menutup perjalanan luar biasa di Piala Dunia 2026 dengan cara paling sempurna. La Furia Roja sukses menumbangkan juara bertahan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu pada partai final di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7) dini hari Wita.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, NEW JERSEY – Timnas Spanyol menutup perjalanan luar biasa di Piala Dunia 2026 dengan cara paling sempurna. La Furia Roja sukses menumbangkan juara bertahan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu pada partai final di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (20/7) dini hari Wita.

Gol tunggal pemain pengganti Ferran Torres pada menit ke-106 menjadi penentu kemenangan sekaligus mengantarkan Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah setelah sebelumnya berjaya pada edisi 2010.

Namun, trofi tersebut hanyalah puncak dari sederet pencapaian luar biasa yang membuat banyak pihak menyebut Spanyol 2026 sebagai salah satu tim juara paling dominan dalam sejarah Piala Dunia.

Sejak fase grup hingga final, pasukan Luis de la Fuente tampil nyaris tanpa cela. Mereka menuntaskan turnamen dengan rekor tak terkalahkan dalam 38 pertandingan beruntun di semua kompetisi, sebuah catatan yang menjadi rekor dunia baru sekaligus mempertegas dominasi Spanyol dalam beberapa tahun terakhir.

Tak hanya itu, Spanyol juga menorehkan rekor pertahanan terbaik sepanjang sejarah tim juara Piala Dunia. Dari delapan pertandingan yang dijalani, gawang yang dikawal Unai Simon hanya kemasukan satu gol, yakni ketika menang 2-1 atas Belgia di babak perempat final lewat sundulan Charles De Ketelaere.

Tak hanya itu, torehab juara Spanyol semakin sempurna setelah tiga pemainnya meraih penghargaan individu. Mereka adalah Rodri (Pemain Terbaik/Golden Ball), Unai Simon (Kiper Terbaik/Golden Glove), dan Pau Cubarsi (Pemain Muda Terbaik).

Perjalanan menuju gelar juga tidak mudah. Spanyol harus melewati deretan lawan bertabur bintang dunia. Mereka menghadapi Portugal yang diperkuat Cristiano Ronaldo, Prancis dengan Kylian Mbappe, hingga akhirnya menumbangkan Argentina yang masih dipimpin Lionel Messi sekaligus berstatus juara bertahan dan tim peringkat satu FIFA.

Keberhasilan mengalahkan Argentina juga sekaligus mematahkan ambisi Albiceleste mempertahankan mahkota dunia yang mereka raih pada Piala Dunia 2022.

Final sendiri berlangsung dalam tensi tinggi. Spanyol mendominasi penguasaan bola dan terus menekan sepanjang pertandingan. Namun, pertahanan Argentina tampil disiplin. Situasi berubah setelah gelandang Enzo Fernandez menerima kartu kuning kedua menjelang berakhirnya waktu normal sehingga Argentina harus bermain dengan 10 orang.

 

Meski unggul jumlah pemain, Spanyol tetap membutuhkan kesabaran. Gol yang ditunggu akhirnya lahir pada menit ke-106 ketika Ferran Torres, yang masuk dari bangku cadangan, memanfaatkan peluang di kotak penalti untuk membobol gawang Argentina dan memastikan kemenangan 1-0.

Kemenangan itu sekaligus menyempurnakan dominasi Spanyol yang sebelumnya juga berhasil menjuarai Piala Eropa 2024. Dalam kurun dua tahun, La Furia Roja sukses menguasai Eropa sekaligus dunia.

Pelatih Spanyol Luis de la Fuente mengaku emosinya sulit dibendung usai pertandingan. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras generasi pemain yang tetap setia pada filosofi permainan Spanyol.

"Saya sangat bangga dengan generasi pemain ini. Mereka tumbuh bersama filosofi kami, terus mengembangkannya, dan menjadi contoh sebagai sebuah tim dan keluarga," ujar De la Fuente.

Pelatih berusia 65 tahun itu mengatakan gelar Piala Dunia melengkapi seluruh pencapaian yang telah diraih skuadnya. "Saya sangat terharu. Ketika melihat ke belakang, kami telah memenangkan segalanya bersama generasi pemain ini. Mereka adalah pesepak bola kelas dunia dengan bakat yang luar biasa," katanya.

Di kubu lawan, pelatih Argentina Lionel Scaloni mengakui keunggulan Spanyol. "Mereka lebih baik, itulah kenyataannya," kata Scaloni.

Ia mengaku kecewa gagal mempertahankan gelar juara dunia, namun tetap bangga terhadap perjuangan para pemainnya. "Kami telah melakukan segalanya. Kami harus tahu bagaimana menerima kekalahan seperti ketika kami menerima kemenangan. Perjalanan hingga kembali ke final tetap menjadi sesuatu yang patut kami hargai," ujar Scaloni.

Kemenangan atas Argentina semakin memperkuat status Spanyol sebagai kekuatan baru sepak bola dunia. Dengan rekor 38 laga tanpa kekalahan, hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, menaklukkan juara bertahan sekaligus tim peringkat satu FIFA, serta mengawinkan gelar Euro 2024 dan Piala Dunia 2026, generasi emas La Furia Roja kini menempatkan diri dalam jajaran tim nasional terbaik yang pernah menghiasi panggung sepak bola dunia. (bir/mof)

Editor : Arief
piala dunia 2026 timnas spanyol