RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, AMERIKA – Aroma final sudah mulai terasa ketika empat raksasa sepak bola dunia bersiap menjalani babak semifinal Piala Dunia 2026. Dua laga sarat gengsi akan tersaji, yakni Spanyol menghadapi Prancis di Dallas Stadium, Rabu (15/7) pukul 03.00 Wita, disusul duel klasik Inggris melawan juara bertahan Argentina di Atlanta Stadium sehari kemudian.
Semifinal pertama mempertemukan dua kekuatan besar Eropa yang dalam beberapa tahun terakhir kerap bertemu di pertandingan penting. Bagi Prancis, duel ini juga menjadi kesempatan membalas dua kekalahan beruntun dari Spanyol, masing-masing pada semifinal Euro 2024 dan final UEFA Nations League 2025.
La Furia Roja datang dengan modal yang sangat meyakinkan. Tim asuhan Luis de la Fuente belum sekalipun menelan kekalahan di Piala Dunia 2026. Dari enam pertandingan, Spanyol meraih lima kemenangan dan sekali bermain imbang melawan Cape Verde di fase grup.
Perjalanan mereka menuju semifinal juga diwarnai kemenangan dramatis atas Belgia dengan skor 2-1 pada babak perempat final. Di sisi lain, Prancis tampil bahkan lebih konsisten. Les Bleus selalu meraih kemenangan dalam enam pertandingan yang telah dijalani, termasuk menyingkirkan Maroko 2-0 di babak delapan besar.
Catatan pertemuan juga sedikit berpihak kepada Spanyol. Dari 38 duel sepanjang sejarah, La Roja membukukan 18 kemenangan, sementara Prancis meraih 13 kemenangan dan tujuh laga lainnya berakhir imbang.
Spanyol kembali mengandalkan kolektivitas permainan yang dipimpin Rodri di lini tengah, dipadukan kreativitas Lamine Yamal, Nico Williams, Dani Olmo, hingga ketajaman Mikel Oyarzabal yang sudah mencetak empat gol sepanjang turnamen.
Sementara Prancis tetap bertumpu pada kecepatan Kylian Mbappe, kreativitas Michael Olise, serta kontribusi Ousmane Dembele yang terus tampil konsisten di lini depan.
Jelang pertandingan, pelatih Spanyol Luis de la Fuente mulai memainkan perang urat saraf. Ia mengingatkan bahwa Spanyol merupakan satu-satunya tim yang mampu mengalahkan Prancis dalam dua pertemuan terakhir.
Menurutnya, rasa khawatir bukan hanya dirasakan Spanyol, tetapi juga kubu Les Bleus. "Saya yakin mereka juga akan khawatir saat menghadapi kami. Kami adalah satu-satunya tim di dunia yang berhasil mengalahkan mereka dalam dua pertemuan beruntun," ujar De la Fuente.
Meski percaya diri, pelatih berusia 65 tahun itu tetap menaruh respek tinggi terhadap kualitas lawannya. "Prancis adalah salah satu tim terbaik di dunia. Pertandingan nanti akan sangat sulit dan kami harus bekerja sangat keras jika ingin kembali mengalahkan mereka," katanya.
Di kubu lawan, Didier Deschamps memastikan Prancis tidak akan mengubah identitas permainannya. Menurutnya, kekuatan Les Bleus justru terletak pada kedisiplinan dan efektivitas ketika menyerang maupun bertahan.
"Saya sangat puas dengan kerja keras para pemain depan kami. Mbappe, Michael Olise, hingga Dembele tidak hanya menyerang, tetapi juga melakukan pressing yang sangat baik untuk menghentikan serangan lawan sejak awal," ujarnya.
Deschamps menilai Spanyol merupakan tim yang sangat nyaman menguasai bola. Namun, ia menegaskan penguasaan bola bukan satu-satunya cara untuk memenangkan pertandingan.
"Kami menghormati kualitas Spanyol. Mereka sangat baik dalam mengontrol permainan. Tetapi kami percaya efisiensi akan menjadi kunci. Kami harus mampu memanfaatkan setiap peluang yang kami miliki jika ingin mencapai final," imbuhnya.
Semifinal lainnya mempertemukan dua negara dengan sejarah panjang dan rivalitas yang selalu menarik perhatian dunia, Inggris dan Argentina.
Pertemuan ini menjadi duel pertama kedua negara di era Lionel Messi pada ajang Piala Dunia. Laga terakhir mereka terjadi pada 2005, sedangkan dalam sejarah Piala Dunia duel kedua negara selalu menghadirkan cerita besar, mulai dari gol "Tangan Tuhan" Diego Maradona hingga kartu merah David Beckham.
Argentina memang masih berstatus juara bertahan, tetapi perjalanan mereka menuju semifinal tidak sepenuhnya mulus. Albiceleste memang sukses menyingkirkan Cape Verde, Mesir, dan Swiss secara beruntun, namun mereka sudah kebobolan lima gol hanya dalam tiga pertandingan fase gugur.
Lini pertahanan Argentina beberapa kali terlihat rapuh saat menghadapi serangan balik cepat. Di sisi lain, Inggris juga belum tampil sempurna. Kemenangan dramatis atas Norwegia menunjukkan kedalaman skuad menjadi kekuatan utama tim asuhan Thomas Tuchel.
Harry Kane dan Jude Bellingham masih menjadi andalan utama. Keduanya telah menyumbang 12 dari total 13 gol Inggris sepanjang turnamen.
Sementara Argentina tetap bertumpu pada magis Lionel Messi yang tampil luar biasa pada usia 39 tahun. Kapten Albiceleste itu sudah mengoleksi delapan gol dan dua assist serta menjadi pemain dengan rating tertinggi sepanjang Piala Dunia 2026.
Selain Messi, Argentina juga mendapat tambahan kekuatan setelah Julian Alvarez dan Lautaro Martinez kembali menemukan ketajamannya pada fase gugur.
Namun, kecepatan Bukayo Saka, Anthony Gordon, maupun Jude Bellingham diperkirakan bakal menjadi ancaman serius bagi pertahanan Argentina yang beberapa kali kesulitan menghadapi serangan dari sisi sayap.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni menegaskan bahwa laga melawan Inggris tidak boleh dibebani sejarah panjang kedua negara. Menurutnya, seluruh fokus tim hanya tertuju pada pertandingan di atas lapangan.
"Pesan saya sederhana. Ini adalah pertandingan sepak bola. Kami menghadapi lawan yang sangat kuat dengan pelatih yang luar biasa. Tidak ada yang lain selain sepak bola," ujarnya.
Ia mengakui timnya masih memiliki sejumlah kelemahan yang harus segera diperbaiki sebelum menghadapi Inggris. "Kami memang lolos ke semifinal, tetapi masih ada banyak aspek permainan yang harus ditingkatkan. Kami tidak boleh memberikan terlalu banyak ruang kepada lawan," imbuhnya
Sementara itu, Thomas Tuchel menyambut semifinal dengan penuh optimisme. Ia mengakui Inggris memang banyak bergantung kepada Harry Kane dan Jude Bellingham, tetapi tidak menganggap hal tersebut sebagai sebuah masalah.
"Harry dan Jude adalah pemain yang mampu menentukan pertandingan. Mereka telah membuktikannya sepanjang turnamen. Tidak ada alasan untuk menyembunyikan fakta bahwa mereka adalah pemain yang sangat penting bagi kami," katanya.
Meski demikian, Tuchel menegaskan keberhasilan Inggris tidak hanya bergantung pada dua nama tersebut. "Kami harus bermain sebagai sebuah tim. Argentina memiliki pemain-pemain kelas dunia dan seorang Lionel Messi yang selalu mampu mengubah pertandingan. Karena itu kami membutuhkan penampilan terbaik dari seluruh pemain jika ingin mencapai final," ujarnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief