RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, INGLEWOOD – Empat puluh tahun telah berlalu, tetapi kenangan pahit itu belum benar-benar hilang dari benak sepak bola Spanyol. Kini, La Roja mendapat kesempatan untuk menuntaskan dendam lama ketika berhadapan dengan Belgia pada babak perempat final Piala Dunia 2026 di Stadion SoFi, Inglewood, Amerika Serikat, Sabtu (11/7) dini hari Wita.
Bagi Spanyol, pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiket menuju semifinal. Di balik duel dua tim elite Eropa itu tersimpan kisah lama yang masih membekas sejak Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Saat itu, langkah La Roja menuju empat besar harus terhenti secara dramatis setelah kalah dari Belgia melalui adu penalti. Empat dekade kemudian, kesempatan membalas luka sejarah akhirnya kembali datang.
Spanyol menatap laga dengan modal yang sangat meyakinkan. Tim asuhan Luis de la Fuente melaju ke delapan besar setelah menyingkirkan rival abadinya, Portugal, dengan kemenangan tipis 1-0. Gol tunggal Mikel Merino pada masa injury time memastikan langkah La Roja sekaligus mempertahankan rekor impresif mereka yang belum sekalipun kebobolan sepanjang turnamen.
Solidnya pertahanan menjadi fondasi utama keberhasilan Spanyol. Duet Pau Cubarsi dan Aymeric Laporte tampil kokoh di jantung pertahanan, sementara Rodri terus menjadi pengendali permainan di lini tengah. Di sektor sayap, kecepatan Lamine Yamal dan Nico Williams menjadi senjata utama yang mampu membuka ruang bagi lini serang.
Selain disiplin dalam bertahan, permainan berbasis penguasaan bola yang diterapkan Luis de la Fuente juga semakin matang dari pertandingan ke pertandingan. Kombinasi umpan-umpan pendek, pergerakan tanpa bola, serta tekanan tinggi membuat Spanyol menjadi salah satu tim paling konsisten sepanjang Piala Dunia 2026.
Namun, Belgia datang dengan kepercayaan diri yang tak kalah besar. Tim berjuluk Setan Merah memastikan tempat di perempat final setelah menghancurkan tuan rumah Amerika Serikat dengan skor telak 4-1 pada babak 16 besar.
Charles De Ketelaere tampil sebagai bintang kemenangan lewat dua gol yang dicetaknya. Sementara Hans Vanaken dan Romelu Lukaku masing-masing turut menyumbang satu gol untuk memastikan Belgia melangkah dengan meyakinkan.
Produktivitas lini depan kembali menjadi kekuatan utama Belgia. Di bawah arahan pelatih Rudi Garcia, mereka mampu memaksimalkan setiap peluang melalui permainan transisi cepat yang dipimpin Kevin De Bruyne, kreativitas De Ketelaere, serta naluri mencetak gol Romelu Lukaku.
Meski demikian, kemenangan besar atas Amerika Serikat meninggalkan kerugian yang tidak kecil. Gelandang bertahan Amadou Onana mengalami cedera ligamen lutut anterior (ACL) dan dipastikan mengakhiri turnamen lebih cepat.
Absennya pemain Aston Villa tersebut diperkirakan akan memengaruhi keseimbangan lini tengah Belgia. Selama ini, Onana menjadi sosok penting dalam memutus serangan lawan sekaligus memberikan perlindungan bagi lini belakang.
Rudi Garcia mengakui kehilangan pemain berusia 24 tahun itu menjadi pukulan berat bagi timnya. Namun, ia memastikan Belgia tetap memiliki keyakinan penuh untuk menghadapi salah satu kandidat juara dunia tersebut.
"Kami kehilangan pemain yang sangat penting, tetapi kami memiliki skuad yang siap menghadapi tantangan. Fokus kami sekarang sepenuhnya tertuju kepada Spanyol," ujar Garcia.
Pelatih asal Prancis itu juga tidak ragu memberikan pujian terhadap kualitas permainan La Roja yang dinilainya sebagai salah satu tim paling komplet di turnamen ini. "Spanyol sangat nyaman menguasai bola dan memiliki organisasi permainan yang luar biasa. Kami harus tampil sempurna jika ingin lolos ke semifinal," katanya.
Di kubu Spanyol, Luis de la Fuente memilih mengesampingkan cerita masa lalu. Menurutnya, sejarah tidak akan menentukan hasil pertandingan apabila timnya gagal menunjukkan kualitas terbaik di atas lapangan.
Pelatih berusia 65 tahun itu meminta seluruh pemain tetap fokus menghadapi tantangan yang ada di depan mata dan tidak terjebak pada euforia maupun kisah balas dendam. "Di fase gugur tidak ada pertandingan yang mudah. Belgia memiliki kualitas, pengalaman, dan pemain-pemain hebat. Kami harus bermain dengan karakter serta menunjukkan identitas kami sejak menit pertama," ujar De la Fuente.
Kapten Spanyol, Rodri, juga menyadari bahwa Belgia merupakan lawan paling berat yang mereka hadapi sejauh ini. Meski demikian, ia menegaskan La Roja datang dengan satu tujuan, yakni melanjutkan perjalanan menuju semifinal. “Kami menghormati Belgia karena mereka memiliki banyak pemain kelas dunia. Namun kami datang untuk menang dan membawa Spanyol melangkah lebih jauh," katanya.
Sementara itu, Romelu Lukaku menegaskan Belgia tidak gentar menghadapi dominasi permainan Spanyol. Baginya, tim yang ingin menjadi juara dunia harus mampu mengalahkan lawan-lawan terbaik. "Jika ingin menjadi juara dunia, kami harus mengalahkan tim terbaik. Kami siap menerima tantangan itu," tegas penyerang Napoli tersebut.
Secara taktikal, pertandingan diprediksi menjadi pertarungan dua filosofi yang berbeda. Spanyol akan berusaha mengendalikan tempo melalui penguasaan bola dan dominasi lini tengah, sedangkan Belgia kemungkinan memilih menunggu sambil mengandalkan serangan balik cepat yang selama ini terbukti efektif.
Kehilangan Onana membuat Belgia diperkirakan lebih berhati-hati dalam menghadapi tekanan Spanyol. Sebaliknya, La Roja juga dituntut tetap waspada karena kecepatan transisi Belgia, terutama melalui Kevin De Bruyne, Charles De Ketelaere, dan Romelu Lukaku, mampu mengubah jalannya pertandingan hanya dalam beberapa detik.
Dengan kualitas pemain, kedalaman skuad, serta kepentingan sejarah yang menyelimuti kedua tim, duel di Stadion SoFi diprediksi menjadi salah satu laga paling menarik pada babak perempat final Piala Dunia 2026.
Bagi Spanyol, ini adalah kesempatan menghapus luka yang telah tersimpan selama 40 tahun. Sementara bagi Belgia, kemenangan akan menjadi bukti bahwa generasi emas mereka masih layak diperhitungkan dalam perburuan gelar juara dunia pertama sepanjang sejarah.
Editor : Arief