RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, SEATTLE - Di Stadion Seattle, Amerika Serikat, dua negara yang sudah lama bermimpi tentang Piala Dunia akan saling berhadapan dalam laga yang sarat gengsi, kualitas, dan nilai sejarah, Selasa (16/6) dini hari.
Tergabung di Grup G, laga ini mempertemukan dua bintang yang berada di persimpangan karier. Kevin De Bruyne dan Mohamed Salah. Sulit menemukan duel yang lebih simbolis dibanding pertemuan dua pemain ini di Piala Dunia 2026. De Bruyne dan Salah telah mengukir nama sebagai ikon sepak bola dunia. Mereka meraih berbagai gelar bergengsi di level klub. Namun, masih mengejar satu pencapaian yang belum pernah diraih, membawa negaranya berjaya di Piala Dunia. Kevin De Bruyne tetap menjadi pusat permainan Belgia.
Visi bermain, akurasi umpan, dan kemampuannya membaca pertandingan membuat gelandang yang kini membela Napoli itu masih menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di dunia. Di sisi lain, Mohamed Salah datang sebagai harapan terbesar Mesir. Penyerang yang menjadi legenda Liverpool tersebut bertekad menorehkan jejak yang lebih besar setelah kesempatan tampil maksimal pada Piala Dunia 2018 terganggu cedera.
Menariknya, kedua pemain sudah sangat akrab satu sama lain. Mereka pernah bertemu sebanyak 17 kali saat memperkuat Manchester City dan Liverpool. Dari catatan tersebut, Salah unggul dengan delapan kemenangan, sementara De Bruyne meraih lima kemenangan dan empat laga lainnya berakhir imbang.
Laga ini juga menghadirkan kisah tersendiri bagi pelatih Belgia, Rudi Garcia. Ia pernah bekerja sama dengan Salah ketika menangani AS Roma sebelum sang pemain berkembang menjadi salah satu penyerang terbaik dunia. Garcia mengaku sangat memahami kualitas yang dimiliki Mesir, terutama keberadaan Salah yang masih menjadi ancaman utama di lini depan. “Kami sangat menghormati tiga tim lain yang berada di grup kami. Inilah yang membuat Piala Dunia begitu istimewa,” ujar Garcia.
Menurutnya, Mesir merupakan salah satu kekuatan besar sepak bola Afrika yang tidak boleh dipandang sebelah mata. “Kami mengenal Mesir dengan baik. Mereka adalah salah satu tim terbaik di Afrika,” katanya.
Ia bahkan memiliki kedekatan personal dengan Salah yang membuatnya memahami karakter dan kemampuan pemain berusia 34 tahun tersebut. “Saya sangat mengenal Mo Salah karena saya pernah melatihnya di Roma,” tambahnya.
Meski demikian, pelatih asal Prancis itu menegaskan Belgia belum ingin berbicara terlalu jauh mengenai peluang menjadi juara dunia. “Mari mulai dengan menghormati lawan-lawan kami di fase grup,” tegasnya.
Di kubu Mesir, pelatih Hossam Hassan menyadari laga pembuka menghadapi Belgia menjadi tantangan berat bagi timnya. “Pertandingan pembuka melawan Belgia di Piala Dunia akan sangat sulit,” ujarnya.
Ia menilai persaingan di Grup G akan berlangsung ketat karena seluruh peserta memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda. “Grup ini kuat dan sangat kompetitif,” imbuhnya.
Meski menghormati kekuatan Belgia, Hassan tetap percaya timnya mampu memberikan perlawanan. Apalagi Mesir datang dengan modal tidak terkalahkan sepanjang babak kualifikasi.
Salah menjadi tumpuan utama di lini depan, didukung Omar Marmoush, Emam Ashour, dan Trezeguet dalam skema serangan cepat yang menjadi ciri khas Mesir.
Secara historis, Mesir justru memiliki catatan yang cukup baik saat menghadapi Belgia. Dalam empat pertemuan sebelumnya yang seluruhnya berlangsung dalam laga persahabatan, Mesir meraih tiga kemenangan dan satu hasil imbang. Pertemuan terakhir terjadi pada November 2022 ketika Mesir menang 2-1. Dalam laga tersebut, Salah berperan penting dengan menyumbangkan assist untuk gol Trezeguet. Meski demikian, rekor masa lalu tidak selalu menjadi jaminan dalam turnamen sebesar Piala Dunia.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief