Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Revolusi di Piala Dunia 2026, FIFA dan IFAB Menerapkan Aturan Paling Ambisius Sepanjang Sejarah

admin • Kamis, 11 Juni 2026 | 10:20 WIB
Kiper Tunisia bernomor punggung 01, Mouhib Chamakh, melakukan penyelamatan saat pertandingan persahabatan sepak bola antara Austria dan Tunisia di Wina, Austria pada 1 Juni 2026 menjelang turnamen Piala Dunia FIFA 2026. (Foto oleh Joe Klamar / AFP)
Kiper Tunisia bernomor punggung 01, Mouhib Chamakh, melakukan penyelamatan saat pertandingan persahabatan sepak bola antara Austria dan Tunisia di Wina, Austria pada 1 Juni 2026 menjelang turnamen Piala Dunia FIFA 2026. (Foto oleh Joe Klamar / AFP)

 

AMERIKA - Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen yang lebih besar. Ini adalah titik balik sepak bola dunia.

Untuk pertama kalinya, 48 tim dari seluruh penjuru bumi akan bersaing di tiga negara sekaligus (Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada). Tapi yang membuat edisi ini benar-benar berbeda bukan semata soal kuota peserta yang bertambah. Melainkan karena FIFA dan International Football Association Board (IFAB) memilih momentum ini untuk menerapkan perubahan regulasi paling ambisius dalam beberapa dekade terakhir.

Perubahan-perubahan itu menyentuh hampir setiap aspek permainan. Dari cara wasit mengambil keputusan, cara pemain bersikap, hingga teknologi yang membantu mata manusia yang tidak sempurna.

Salah satu aturan yang paling banyak diperbincangkan adalah larangan menutupi mulut saat terlibat konfrontasi dengan lawan menggunakan tangan, lengan, atau jersey. Terdengar sepele, tapi ini bukan soal kebiasaan, melainkan tentang transparansi dan akuntabilitas.

FIFA dan IFAB menilai tindakan tersebut berpotensi menyembunyikan komentar bernada diskriminatif atau rasis yang sulit terdeteksi oleh wasit dan kamera. Perlu dicatat, aturan ini tidak berlaku untuk percakapan biasa. Hukuman kartu merah baru dijatuhkan jika situasi dinilai konfrontatif dan memicu ketegangan.

Praktik mengulur waktu ketika pemain diganti, berjalan pelan, berputar dulu, senyum ke penonton  kini resmi dihabisi. Pemain yang ditarik keluar hanya punya 10 detik untuk meninggalkan lapangan melalui titik keluar terdekat.

Jika melewati batas itu, pemain pengganti tidak boleh langsung masuk. Ia harus menunggu jeda permainan berikutnya. Konsekuensinya, tim akan bermain dengan jumlah pemain berkurang untuk sementara. Aturan yang sederhana tapi menyentil langsung ke jantung masalah.

Wasit kini bisa melakukan hitungan mundur lima detik jika pemain dinilai sengaja memperlambat lemparan ke dalam atau tendangan gawang. Jika bola belum dimainkan setelah hitungan selesai, lemparan ke dalam diserahkan ke lawan, sementara tendangan gawang berubah menjadi tendangan sudut untuk lawan.

Sementara, pemain lapangan yang mendapat perawatan medis di dalam lapangan diwajibkan meninggalkan area permainan selama satu menit setelah penanganan selesai. Pengecualian diberikan untuk penjaga gawang, cedera serius, benturan keras, atau situasi yang memerlukan evaluasi medis lanjutan.

Aturan ini juga menutup celah lama yang kerap dimanfaatkan ketika cedera kiper dijadikan kesempatan bagi seluruh tim untuk berkumpul di area teknis menerima instruksi pelatih. Mulai Piala Dunia 2026, pemain wajib tetap berada di area masing-masing saat kiper mendapat perawatan.

Pemain yang sengaja meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit akan langsung menerima kartu merah. Sanksi serupa juga berlaku bagi staf tim yang memerintahkan tindakan tersebut. Dalam kasus yang lebih serius, apabila tindakan tim menyebabkan pertandingan terhenti tim tersebut bisa dinyatakan kalah.

VAR mendapat perluasan kewenangan yang signifikan. Kini teknologi tersebut juga dapat meninjau tendangan sudut yang diberikan secara keliru, pelanggaran menyerang sebelum permainan dimulai yang berujung gol atau penalti, kartu merah akibat kartu kuning kedua yang terbukti tidak sah, serta kesalahan identifikasi ketika kartu diberikan kepada pemain yang bukan pelaku.

Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi pertama yang menyediakan jeda hidrasi resmi di setiap babak, diperkirakan sekitar menit ke-22 dengan durasi sekitar tiga menit. Ini diperlukan mengingat sejumlah pertandingan akan berlangsung dalam kondisi suhu ekstrem.

Dan di partai final di Stadion MetLife, New Jersey, ada yang berbeda. FIFA memastikan akan ada pertunjukan hiburan ala Super Bowl di jeda babak pertama, dengan jaminan bahwa durasi istirahat tidak akan jauh melampaui batas normal 15 menit.

Di antara semua perubahan, teknologi offside semiotomatis menjadi yang paling revolusioner. Dua belas kamera khusus akan melacak pergerakan seluruh pemain hingga 50 gambar per detik, menganalisis posisi penyerang dan bek terakhir saat umpan dilepaskan secara otomatis.

Jika sistem mendeteksi offside yang sangat jelas, dengan selisih lebih dari 10 sentimeter, asisten wasit akan menerima pesan suara otomatis melalui earphone

Tapi Micheal Barwegan, asisten wasit asal Kanada yang telah mencoba sistem ini di Piala Dunia Antarklub, mengingatkan bahwa teknologi ini bukan jaminan kesempurnaan. "Saya akan memberi tahu Anda, sistem semiotomatis ini tidak sempurna. Pekerjaan kami tetap sama persis," kata Barwegan.

Ia mengakui bahwa sistem ini memang sangat membantu, terutama dalam mempercepat komunikasi antara asisten wasit dan wasit utama. Tapi dalam situasi yang rumit, ketika posisi pemain sangat berdekatan atau ada pergerakan tanpa bola yang membingungkan, sistem tidak memberikan keputusan otomatis. Saat itulah insting, pengalaman, dan penilaian manusia masih menjadi elemen yang tidak tergantikan. “Komputer harus berpikir, dan itu sangat cepat — tapi di lapangan rasanya seperti selamanya,” ungkap Barwegan. (jp/bir/mof)

Editor : Muhammad Rizky
#Kiper Tunisia #turnamen #piala dunia 2026