Oleh: Muhamad Yusuf, SPd
Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin
“Perempuan yang tercerahkan tidak hanya mengubah nasibnya sendiri, tetapi juga menerangi masa depan bangsanya.”
Setiap peringatan Hari Kartini selalu mengajak kita untuk menengok kembali jejak perjuangan Raden Ajeng Kartini, seorang perempuan yang dengan gagasan dan keberaniannya membuka jalan bagi kemajuan perempuan Indonesia. Namun, semangat Kartini tidak berhenti pada masa lalu. Ia hidup, tumbuh, dan menjelma dalam sosok sosok Kartini muda yang hari ini memenuhi ruang ruang kelas di sekolah sekolah di seluruh negeri.
Kartini-Kartini muda itu hadir dalam berbagai wajah dan latar belakang. Mereka adalah siswi yang tekun membaca di sudut perpustakaan, yang berani berbicara di depan kelas, yang menulis puisi dengan penuh perasaan, yang unggul dalam sains, yang piawai berolahraga, hingga yang diam diam menyimpan mimpi besar untuk masa depan. Mereka adalah bibit harapan bangsa yang tumbuh dalam tanah pendidikan yang terus berusaha memperbaiki diri. Di tangan mereka, masa depan Indonesia sedang dirajut secara perlahan namun pasti.
Pendidikan menjadi ruang paling strategis dalam melahirkan generasi perempuan yang tangguh dan berdaya. Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, melainkan ruang pembentukan karakter, ruang pembuktian diri, dan ruang penemuan jati diri. Dalam konteks ini, Kartini masa kini tidak lagi berjuang melawan larangan belajar seperti yang dialami Kartini dahulu, tetapi menghadapi tantangan yang berbeda, seperti ketimpangan kesempatan, tekanan sosial, hingga kurangnya kepercayaan diri.
Pakar pendidikan Ki Hajar Dewantara pernah menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi tingginya. Dalam kerangka ini, Kartini muda membutuhkan tuntunan yang tepat, bukan sekadar pengajaran. Mereka perlu didampingi agar potensi yang dimiliki tidak padam oleh keadaan.
Sayangnya, tidak semua Kartini muda memiliki jalan yang mulus. Masih ada anak perempuan yang harus berjuang melawan keterbatasan ekonomi, norma sosial yang membatasi, bahkan lingkungan yang tidak mendukung. Ada yang harus menunda mimpi karena tuntutan keluarga, ada yang kehilangan kepercayaan diri karena kurangnya apresiasi, dan ada pula yang tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak. Di sinilah peran pemerintah, masyarakat, dan guru menjadi sangat penting.
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan bahwa setiap anak perempuan mendapatkan akses pendidikan yang adil dan berkualitas. Kebijakan yang berpihak pada pendidikan inklusif, beasiswa bagi siswa berprestasi, serta perlindungan terhadap anak dari kekerasan dan diskriminasi harus terus diperkuat. Kartini muda tidak boleh kehilangan kesempatan hanya karena faktor ekonomi atau latar belakang sosial.
Masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Lingkungan sosial yang mendukung akan menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya kepercayaan diri dan keberanian. Orang tua harus menjadi pendukung utama, bukan penghambat. Mereka perlu melihat anak perempuan bukan sebagai beban, melainkan sebagai investasi masa depan. Memberikan ruang untuk bermimpi, mencoba, bahkan gagal adalah bentuk dukungan yang sangat berarti.
Guru, sebagai ujung tombak pendidikan, memegang peran strategis dalam menjaga cahaya Kartini muda tetap menyala. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Seorang guru yang peka akan mampu melihat potensi tersembunyi dalam diri siswinya. Ia akan mendorong, membimbing, dan memberikan kepercayaan. Dalam banyak kasus, satu kalimat penyemangat dari guru mampu mengubah arah hidup seorang anak.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Paulo Freire yang menekankan bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan mengekang. Kartini muda membutuhkan pendidikan yang memerdekakan, yang memberi ruang untuk berpikir kritis, berani berpendapat, dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Pendidikan yang hanya menuntut tanpa memahami akan membuat potensi mereka layu sebelum berkembang.
Lebih jauh, dalam era digital saat ini, Kartini muda menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Media sosial bisa menjadi ruang ekspresi, tetapi juga dapat menjadi sumber tekanan. Standar kecantikan yang tidak realistis, budaya perbandingan, hingga perundungan daring dapat menggerus kepercayaan diri mereka. Oleh karena itu, literasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Mereka perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi, menjaga diri, dan tetap fokus pada pengembangan diri.
Namun, di balik tantangan itu, ada harapan besar. Banyak Kartini muda yang berhasil menunjukkan prestasi gemilang di berbagai bidang. Mereka menjadi juara lomba, peneliti muda, aktivis sosial, bahkan pelopor gerakan perubahan di lingkungan mereka. Mereka membuktikan bahwa ketika diberi kesempatan dan dukungan, perempuan mampu bersaing dan berkontribusi secara nyata.
Momentum Hari Kartini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan dengan kebaya dan lomba lomba simbolik. Ia harus menjadi refleksi bersama tentang sejauh mana kita telah memberi ruang bagi Kartini masa kini untuk tumbuh. Apakah sekolah sudah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi mereka. Apakah kebijakan pemerintah sudah benar benar berpihak. Apakah masyarakat sudah cukup adil dalam memandang perempuan.
Kartini muda adalah cahaya yang harus dijaga. Jika cahaya itu redup, maka kita kehilangan arah. Jika cahaya itu padam, maka kita kehilangan masa depan. Oleh karena itu, menjaga mereka agar tetap bersinar bukanlah tugas satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama.
Kita perlu menciptakan ekosistem yang mendukung, di mana setiap anak perempuan merasa dihargai, didengar, dan diberi kesempatan. Kita perlu memastikan bahwa tidak ada mimpi yang terhenti di tengah jalan. Kita perlu percaya bahwa di balik seragam sekolah yang sederhana, tersimpan potensi luar biasa yang suatu saat akan mengubah dunia.
Pada akhirnya, Kartini tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam setiap langkah berani Kartini muda hari ini. Ia hadir dalam setiap mimpi yang diperjuangkan, dalam setiap suara yang disuarakan, dan dalam setiap karya yang diciptakan. Tugas kita adalah memastikan bahwa api itu tetap menyala, menerangi jalan mereka hingga kelak mereka berdiri di tengah masyarakat sebagai perempuan perempuan yang kuat, cerdas, dan berdaya.
Karena dari ruang ruang kelas hari ini, sedang lahir masa depan Indonesia yang lebih terang. (*)