RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, LONDON - Menurunnya performa Chelsea sejak di bawah kendali pelatih Liam Rosenior mendapat sorotan tajam dari para pendukung mereka.
Bahkan, sebelum kekalahan 0-1 melawan Manchester United di Stamford Bridge, Minggu (19/4) dini hari, para pendukung Chelsea menggelar aksi protes.
Terdengar nyanyian "kami ingin Chelsea kami kembali" selama pawai protes sebelum pertandingan dimulai. Kemudian seruan itu menyebar ke tribun selama babak kedua setelah The Blues tertinggal lewat gol pemain Manchester United, Matheus Cunha pada babak pertama.
Liam Rosenior pun mengakui timnya menghadapi tantangan berat dalam upaya mereka lolos ke Liga Champions karena kekalahan ini. The Blues tertinggal empat poin dari lima besar, setelah memainkan satu pertandingan lebih banyak.
"Ini bukan hal yang tidak mungkin diatasi, tetapi ini memberi kita tantangan besar dan kita harus pergi ke Brighton dengan tekad untuk memenangkan pertandingan itu dan memulai kembali musim kita," kata Rosenior.
Meski gagal memberikan perubahan di putaran kedua musim ini, posisi Liam Rosenior tetap aman bahkan jika Chelsea gagal lolos ke Liga Champions.
Manajemen Chelsea baru akan mengevaluasi Rosenior pada akhir musim depan setelah musim penuh pertamanya. "Saya rasa kami mendukung Liam. Tentu saja, ini bisnis yang berorientasi pada hasil, tetapi kami pikir dia bisa sukses dalam jangka panjang," kata pemilik berpengaruh Chelsea, Behdad Eghbali.
Lebih lanjut, Eghbali mengungkap masalah besar yang dihadapi Chelsea beberapa musim terakhir karena kurangnya stabilitas manajerial. Namun, mempertahankan Rosenior akan menjadi langkah berani jika pesan yang ia sampaikan tidak mampu dipahami oleh para pemain.
Terlebih lagi, para pendukung Chelsea dikenal kurang sabar, terutama setelah melihat pola perekrutan dan pemecatan pada era kepemilikan sebelumnya di bawah Roman Abramovich.
Selain kepada Rosenior, kemarahan pendukung Chelsea juga menunjuk jari ke arah Eghbali, Boehly, dan seluruh pemilik BlueCo.
Editor : Arief