Sorotan dunia kini tak lagi sepenuhnya milik Eropa dan Amerika Selatan jelang Piala Dunia 2026. Jepang muncul sebagai cahaya baru Asia dengan performa yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Kemenangan demi kemenangan yang diraih Samurai Biru bukan sekadar hasil pertandingan biasa. Ini adalah akumulasi dari proses panjang yang kini mulai menunjukkan puncaknya.
Dalam dua tahun terakhir, Jepang menjelma menjadi tim yang konsisten, solid, dan mematikan. Hanya lima kekalahan dari 40 pertandingan sejak 2023 menjadi bukti betapa kokohnya fondasi yang mereka bangun.
Rekor 30 kemenangan dari total 40 laga menghadirkan persentase kemenangan mencapai 75 persen. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan sinyal kuat Jepang sedang menuju level elite dunia.
Semua berawal dari 2023, saat Jepang membangun ulang kekuatan pasca Piala Dunia Qatar 2022. Kala itu, target utama adalah menjaga konsistensi sekaligus mengamankan tiket ke Piala Dunia kedelapan berturut-turut.
Perjalanan awal memang tidak sepenuhnya mulus. Hasil imbang melawan Uruguay dan kekalahan dari Kolombia sempat menimbulkan tanda tanya.
Namun, sejak kemenangan telak atas El Salvador pada Juni 2023, arah permainan Jepang berubah drastis. Mereka mulai menemukan ritme dan identitas baru yang lebih fleksibel dan efektif.
Lima kemenangan beruntun kala itu menjadi titik balik yang krusial. Jepang tidak hanya menang, tetapi juga tampil dominan dengan total 22 gol dan hanya kebobolan lima kali.
Permainan mereka berkembang jauh dari sekadar penguasaan bola. Jepang kini mampu bermain sabar, bertahan rapat, lalu menghukum lawan lewat serangan balik cepat.
Transformasi itu terlihat jelas sejak kemenangan mengejutkan atas Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022. Filosofi tersebut terus diasah hingga menjadi senjata utama saat ini.
Kekuatan Jepang tidak lepas dari melimpahnya pemain berkualitas di Eropa. Lebih dari 50 pemain mereka kini berkarier di berbagai liga top, membawa pengalaman yang sangat berharga ke tim nasional.
Kaoru Mitoma menjadi wajah baru kebangkitan Jepang. Ia tidak hanya bersinar di klub, tetapi juga tampil konsisten bersama tim nasional. Mitoma menjadi simbol kecepatan dan kecerdasan di sisi sayap.
Menariknya, Jepang tidak lagi bergantung pada satu atau dua pemain bintang. Kedalaman skuad mereka kini menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola Jepang.
Siapa pun yang dimainkan, kualitas tim tetap terjaga. Bahkan pemain terbaik pun tidak dijamin mendapat tempat di starting line-up.
Situasi ini menciptakan persaingan sehat di dalam tim. Setiap pemain dipaksa tampil maksimal untuk mempertahankan posisinya.
Jika dibandingkan era sebelumnya, perubahan ini sangat terasa. Dulu, Jepang sangat bergantung pada figur seperti Keisuke Honda atau Hidetoshi Nakata.
Kini, ketergantungan itu telah hilang. Jepang menjelma menjadi tim kolektif yang sulit diprediksi dan lebih berbahaya.
Di balik semua itu, sosok Hajime Moriyasu memainkan peran sentral. Keputusan mempertahankannya setelah Piala Dunia 2022 terbukti sangat tepat.
Moriyasu menjadi pelatih Jepang pertama yang melanjutkan tugas setelah turnamen besar. Ia mendapat kepercayaan penuh hingga 2026 untuk membangun generasi baru.
Kepercayaan itu dijawab dengan keberanian melakukan regenerasi. Ia memasukkan banyak pemain muda tanpa mengorbankan keseimbangan tim. (jp)
Editor : Arief