BANJARMASIN - Drama mewarnai laga penutup putaran ketiga Pegadaian Championship (Liga 2) 2025/2026 di Stadion 17 Mei Banjarmasin, Minggu (29/3/2026).
Barito Putera harus puas dengan hasil imbang 1-1 melawan Persiku Kudus, setelah kemenangan yang sudah hampir pasti digenggam buyar di menit-menit akhir yang penuh petaka.
Barito Putera sempat membuka asa lewat gol Rizky Pora pada menit ke-72 melalui tendangan bebas yang berhasil menggetarkan jala Persiku.
Keunggulan 1-0 itu bertahan cukup lama dan membuat ribuan pendukung tuan rumah sudah bersorak menyambut kemenangan.
Namun, harapan itu sirna di pengujung laga yang dramatis. Pada menit ke-95, Renan Silva secara tragis mencetak gol bunuh diri yang menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Situasi semakin memburuk bagi Barito Putera ketika pada menit ke-99, saat tim berusaha mengejar gol kemenangan, Bagas Kaffa melakukan kesalahan fatal dan langsung diusir wasit dengan kartu merah.
Hasil imbang ini membuyarkan ambisi Barito Putera untuk merebut posisi runner up Grup 2 Timur dari Persipura Jayapura.
Barito Putera kini berada posisi ketiga mengoleksi 42 poin, tertinggal satu angka dari Persipura yang mengemas 43 poin, sementara PSS Sleman masih kokoh di puncak klasemen dengan 45 poin.
Usai laga, Asisten Pelatih Barito Putera Isnan Ali tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
Ia mengakui timnya sebenarnya telah berupaya memperbaiki penampilan di babak kedua dengan aktif mencari peluang hingga berhasil mencetak gol.
Namun, kecolongan di menit-menit akhir menjadi pukulan telak yang sulit diterima. "Kami sudah melihat peluang, memperbaiki permainan di babak kedua dan menghasilkan gol. Kami terus mencoba lebih baik lagi, namun akhirnya kecolongan," ujar Isnan.
Dengan lima laga tersisa, Isnan tetap mengapresiasi kerja keras seluruh pemain meski hasil akhir tidak berpihak kepada Barito Putera.
Pemain Barito Putera, Bagas Kaffa yang harus menerima kartu merah langsung di menit ke-99 juga angkat bicara.
Ia mengakui Persiku Kudus bukanlah lawan yang asing, namun timnya kurang fokus dan konsentrasi di saat-saat krusial.
"Kami sudah beberapa kali bertemu dan saling tahu kekuatan masing-masing. Tapi kami kecolongan karena kurang fokus dan konsentrasi. Ini menjadi pelajaran. Dari pinggiran pun saya selalu mengingatkan rekan-rekan untuk tetap fokus, tapi kecolongan juga di menit akhir," kata Bagas.
Ia menambahkan bahwa emosi di lapangan turut mempengaruhi jalannya pertandingan, mengingat kedua tim saling jual beli serangan dengan strategi masing-masing.
Editor : Fauzan Ridhani