Gol dari set-piece memang meningkat signifikan. Namun di balik efektivitas itu, muncul pertanyaan besar apakah pertandingan masih enak ditonton ketika pemain lebih sibuk bergulat dibanding mengejar bola?
Sorotan tajam muncul setelah laga antara Everton dan Manchester United. Dalam satu momen sepak pojok, nyaris seluruh pemain berkumpul di depan gawang. Bek dan penyerang saling tarik, bahkan kiper kesulitan bergerak karena dikepung lawan.
Mantan asisten wasit Premier League, Darren Cann, menilai situasi ini sudah di level yang menyulitkan perangkat pertandingan.
Menurutnya, ketika hingga 15-16 pemain menumpuk di kotak kecil, pengawasan jadi jauh lebih rumit.
Pendapat serupa datang dari manajer Everton, David Moyes. Ia merasa wasit terlalu jarang mengambil tindakan tegas dalam duel fisik di sepak pojok.
Moyes menilai pembiaran tersebut membuat pemain semakin berani melakukan pelanggaran halus.
Tak bisa dimungkiri, taktik ini memang dirancang. Penyerang sengaja menutup ruang gerak kiper agar kehilangan momentum saat meloncat. Sementara bek lebih fokus menahan lari lawan daripada mengantisipasi arah bola.
Beberapa pihak bahkan menyebut Arsenal sebagai salah satu tim yang paling efektif memanfaatkan situasi ini.
Dalam laga kontra Chelsea, duel fisik di kotak penalti terjadi berulang kali sebelum bola benar-benar disundul.
Data musim ini menunjukkan Premier League menjadi liga dengan persentase gol set-piece tertinggi di antara lima liga top Eropa, mencapai sekitar 27 persen. Fakta ini mempertegas betapa pentingnya detail kecil dalam situasi bola mati.
Meski begitu, pihak liga merasa standar pelanggaran saat ini masih dalam batas wajar. Sejumlah penalti memang sudah diberikan akibat tarik-menarik di kotak terlarang, sebagian melalui bantuan VAR. Namun di mata suporter, masih banyak momen yang luput dari hukuman.
Editor : Arief