BARCELONA – Bek tengah Barcelona Ronald Araujo memilih untuk jujur kepada publik. Setelah sempat menghilang dari lapangan hijau selama lebih dari satu bulan, pemain berkebangsaan Uruguay ini membuka tabir mengenai perjuangan melawan masalah kesehatan mental yang selama ini dia sembunyikan.
Kini, Ronald Araujo telah kembali. Senyumnya merekah lagi saat dia kembali merumput dan mencetak gol untuk Barcelona dalam laga melawan Albacete. Sebuah gol yang bukan sekadar angka di papan skor, melainkan simbol keberhasilannya menaklukan badai batin.
Dalam wawancara eksklusif bersama Mundo Deportivo, Ronald Araujo mengungkapkan bahwa performa di lapangan bersama Barcelona selama ini hanya topeng dari kondisi mental yang rapuh.
"Saya mengalami kecemasan selama satu setengah tahun yang kemudian berkembang menjadi depresi. Saya bermain dalam kondisi seperti itu,” ungkap Ronald Araujo dikutip melalui laman Marca, Rabu (11/2).
Keputusan untuk menepi sejenak bukanlah perkara mudah bagi seorang atlet profesional. Namun, bagi Araujo, itu adalah sebuah keniscayaan. Dia merasa perlu melakukan setel ulang (reset) pada kesehatan mental demi kelangsungan hidup dan karirnya.
”Saya merasa berada sekarang dan saya bahagia. Saya kembali bisa menikmati sepak bola. Waktu istirahat itu ada tujuannya, karena saya bisa bekerja sama dengan para profesional, keluarga, hingga aspek spiritual. Itu adalah hal-hal yang memang saya butuhkan,” ujar Ronald Araujo.
Dia mengakui selama ini terjebak dalam stigma untuk selalu terlihat kuat. Sebagai pemain yang dikenal tangguh, Araujo terbiasa memendam beban sendirian.
”Saya adalah tipe orang yang menyimpan semuanya sendiri. Namun, saya sampai pada titik di mana saya harus mengangkat tangan dan meminta bantuan. Ternyata, mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja adalah langkah awal untuk pulih,” bebernya.
Araujo mengisahkan, momen kartu merah saat melawan Chelsea menjadi puncak dari tekanan mental yang ia rasakan. Di balik ketegangan laga, dia merasa ada beban yang lebih berat dari sekadar kegagalan di lapangan.
”Jujur, saat itu saya sudah tidak merasa baik. Hari itu saya tersadar bahwa saya tidak bisa lagi berjalan sendirian. Saya harus berbicara dengan klub dan para ahli,” kenangnya.
Editor : Arief