Di balik hasil 1-0 tersebut, tersimpan gambaran tantangan baru yang mulai dihadapi Laskar Antasari sebagai pemuncak klasemen Pegadaian Championship 2025/2026. Yakni lawan-lawan yang datang dengan pendekatan bertahan total.
Pelatih Barito Putera, Stefano “Teco” Cugurra, mengakui posisi timnya di puncak klasemen membuat lawan cenderung bermain lebih dalam dan ekstra hati-hati.
Persiku Kudus menjadi contoh nyata bagaimana tim tamu mencoba meredam agresivitas Barito dengan menumpuk pemain di lini belakang.
“Masalahnya mungkin kita main lawan tim yang pakai tiga center back. Lawan bertahan dengan banyak pemain di belakang, jadi kita butuh support lebih dari lini tengah, kombinasi yang lebih dekat, dan penetrasi ke dalam area,” ujar Teco seusai laga.
Situasi tersebut terlihat jelas pada babak pertama. Barito Putera menguasai permainan, namun kesulitan menembus rapatnya pertahanan Persiku yang kerap berubah menjadi blok rendah dengan lima pemain di area bertahan. Aliran bola kerap terputus sebelum masuk kotak penalti.
Teco menilai timnya memang belum sepenuhnya nyaman menghadapi skema seperti itu di awal pertandingan.
“Di babak pertama kita cukup kesulitan. Tapi di babak kedua kita langsung koreksi, kita atur lagi cara main, dan pertandingannya jadi lebih bagus,” katanya.
Gol Rizky Pora di menit ke-53 menjadi bukti penyesuaian tersebut. Barito mulai bermain lebih cepat, memaksimalkan lebar lapangan, serta meningkatkan intensitas kombinasi antarlini—sebuah respons terhadap pertahanan berlapis yang diterapkan lawan.
Menariknya, Teco mengungkapkan bahwa skema tiga bek yang digunakan Persiku bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Barito. Namun, variasi dan kedalaman blok bertahan membuat tantangan terasa berbeda.
“Saya sudah nonton beberapa pertandingan Kudus. Ini pertama kali mereka main pakai tiga bek lawan kita. Tapi sebelumnya kita juga pernah lawan tim lain yang pakai sistem sama, seperti Tornado,” ungkapnya.
Dari situ, Teco menegaskan pentingnya kesiapan taktis tim menghadapi berbagai pendekatan permainan, terutama karena ia memprediksi semakin banyak tim akan mengadopsi strategi serupa saat menghadapi Barito.
Baca Juga: Suporter Barito Putera Deg-degan hingga Akhir, Atmosfer 17 Mei Bikin Merinding
“Kita harus latihan dan siap main lawan dua bek atau tiga bek. Kita harus punya variasi waktu menyerang, dan juga mengerti sistem waktu kita bertahan. Bertahan kita sudah cukup bagus, tapi menyerang harus lebih kombinatif,” jelasnya.
Menurut Teco, konsistensi di puncak klasemen bukan hanya soal menjaga hasil, tetapi juga kemampuan beradaptasi. Ketika lawan bermain terbuka, Barito bisa memanfaatkan ruang. Namun ketika lawan memilih low block, kesabaran dan kreativitas menjadi kunci.
Di luar aspek taktik, Teco juga menyoroti sisi mental pemain. Bermain menghadapi pertahanan rapat dan tekanan suporter menuntut keseimbangan antara emosi dan fokus.
“Kita harus tahu sepak bola itu main pakai emosi dan hati. Tapi kita juga tidak mau pemain terlalu diam di lapangan, tanpa semangat. Harus ada energi, tapi tetap terkontrol,” tegasnya.
Kemenangan atas Persiku Kudus akhirnya menjadi lebih dari sekadar hasil positif. Bagi Barito Putera, laga tersebut adalah pelajaran penting tentang realitas baru sebagai tim yang diburu. Lawan datang bukan untuk bermain indah, melainkan untuk mencuri poin.
Dan bagi Teco, tantangan itu justru menjadi penanda bahwa Barito kini berada di jalur yang benar—jalur tim yang harus siap menghadapi segala bentuk perlawanan jika ingin tetap bertahan di puncak.
Editor : Sutrisno