Deltras FC membuat gebrakan menjelang Championship 2025/2026 dengan memilih lapangan voli pasir sebagai arena latihan. Langkah nyentrik ini langsung menyita perhatian, karena jarang dilakukan klub profesional untuk membangun daya ledak pemain.
The Lobster kembali berlatih setelah libur sepekan dan langsung digenjot dengan menu fisik ekstra berat. Permukaan pasir membuat pemain harus bekerja dua kali lipat, sehingga setiap gerakan menuntut kekuatan otot dan kontrol tubuh yang lebih stabil.
Pelatih Widodo Cahyono Putro menjelaskan alasan utama memilih lapangan voli pasir untuk meningkatkan daya tahan skuatnya. “Tujuan dari latihan di lapangan voli pasir ini untuk meningkatkan daya tahan pemain,” ujar Widodo.
Ia menegaskan intensitas yang diberikan tidak sekadar untuk menguras tenaga pemain. Tetapi untuk mempersiapkan tubuh mereka menghadapi latihan harian yang lebih berat. “Saya harapkan apa yang sudah kita latih dalam seminggu ini, nanti bisa menjadikan modal untuk latihan setiap hari di intensitas yang tinggi,” katanya.
Widodo ingin seluruh pemain memahami pentingnya menjaga performa fisik sejak awal masa persiapan. Ia mengungkapkan pemain sudah diberi arahan secara langsung agar mampu mempertahankan kondisi terbaik mereka. “Jadi pemain sudah saya kasih pemahaman bagaimana nanti menjaga performa mereka yaitu meningkatkan daya tahan fisik mereka,” tegasnya.
Tekstur pasir dinilai ideal untuk membangun kekuatan inti, stabilitas, serta daya ledak karena kaki pemain harus bekerja ekstra keras untuk menapak dan melompat. Kondisi itu membuat tubuh terbiasa menghadapi tekanan, tanpa risiko cedera berlebih.
Program fisik tersebut menjadi pondasi sebelum Deltras beralih ke fase taktik dalam dua pekan mendatang. Setelah kondisi fisik mencapai level yang diinginkan, tim akan mulai fokus pada pengembangan skema permainan.
Latihan taktik akan dipadukan dengan uji coba untuk mengukur bagaimana hasil latihan fisik diterjemahkan ke dalam pertandingan. “Terus kita merotasi beberapa posisi untuk bisa menciptakan tim yang lebih bagus,” tegas Widodo.
Uji coba tersebut juga menjadi alat evaluasi bagi Widodo untuk mematangkan struktur permainan. Ia ingin melihat sejauh mana pemain mampu bergerak lebih eksplosif, cepat mengambil keputusan, dan bertahan stabil selama 90 menit.
Sejauh ini, seluruh pemain Deltras berada dalam kondisi prima dan bisa menjalani program tanpa kendala serius. Widodo memastikan tidak ada yang mengalami cedera berat selama masa persiapan. “Hanya Panggih (Sambodo), mungkin hanya dengan pemulihan beberapa hari, saya kira dia sudah bisa ikut latihan,” sebutnya. Kondisi ini membuat skuat tetap solid dan proses latihan berjalan sesuai rencana.
Kebugaran tim yang relatif terjaga memberi keuntungan bagi Deltras untuk mengeksekusi program intensitas tinggi. Tanpa banyak pemain yang absen, komposisi latihan bisa dijalankan optimal dan terstruktur.
Latihan di lapangan pasir juga memberi suasana baru yang membuat pemain lebih bersemangat. Variasi program dianggap penting oleh Widodo untuk menjaga motivasi tim sepanjang masa pramusim yang cukup panjang.
Rutinitas yang tidak monoton diyakini membuat pemain lebih fokus dan tidak cepat jenuh. Widodo ingin persiapan ini menjadi momen pemain membangun kepercayaan diri sebelum memasuki atmosfer kompetisi yang ketat.
Championship 2025/2026 diprediksi menghadirkan persaingan berat, sehingga kesiapan fisik dan taktik menjadi elemen penting. Deltras menyadari mereka harus tampil konsisten sejak pekan pertama agar mampu bersaing dengan klub-klub unggulan.
Latihan fisik ekstrem seperti di lapangan pasir diharapkan menjadi senjata tambahan untuk meningkatkan kualitas permainan pemain. Ketika nantinya kembali ke rumput, gerakan pemain akan terasa lebih ringan, sehingga mereka bisa tampil lebih cepat dan efisien.
Langkah nyentrik ini juga menjadi bukti keseriusan Deltras dalam membentuk tim yang kompetitif. Dengan pendekatan latihan yang kreatif, The Lobster berambisi mencuri perhatian dan mencatat hasil positif sejak awal musim.
Editor : Arief