NOTTINGHAM - Kursi pelatih di Premier League kembali berguncang. Setelah Nuno Espirito Santo dan Graham Potter, kini giliran Ange Postecoglou yang posisinya mulai goyah, padahal musim baru berjalan tujuh pertandingan.
Fenomena ini menandakan betapa rapuhnya stabilitas manajerial di Liga Inggris, terutama ketika klub promosi tampil mengejutkan.
Melansir dari Daily Mail Sport, awal musim ini, klub-klub promosi seperti Sunderland, Leeds United, dan Burnley, menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar numpang lewat di Premier League.
Sunderland mengoleksi tiga kemenangan dan 11 poin, sedangkan Leeds hanya tertinggal tiga angka dan tampil kompetitif, terutama saat bermain di kandang.
"Sunderland telah mengumpulkan tiga kemenangan dan 11 poin, dengan Leeds United hanya tiga poin di belakang mereka dan sangat kompetitif, terutama di kandang," tulis laporan tersebut.
Sementara itu, Burnley memang terlihat lebih rapuh. Namun, mereka tetap mendapat pujian karena mampu bersaing dalam jadwal berat yang mempertemukan mereka dengan empat klub anggota big six.
Fenomena klub promosi yang tampil berani ini memicu efek domino. Klub-klub mapan yang khawatir terseret ke zona degradasi menjadi panik dan sering mengambil langkah instan yaitu memecat pelatih.
Liga Manajer Inggris (LMA) mencatat tiga tren utama penyebab meningkatnya pergantian pelatih. Globalisasi sepak bola Inggris, yang membuat klub lebih mudah mencari pelatih dari seluruh dunia.
Selanjutnya, model kepemilikan yang semakin terdesentralisasi, menyulitkan manajer menjalin hubungan jangka panjang dengan pemilik. Selain itu, budaya jangka pendek yang ekstrem, baik dalam sepak bola maupun kehidupan modern.
"Ini adalah bagian dari fanfare Premier League, di mana selalu harus ada manajer yang disorot. Saya mengerti itu. Sekarang giliran saya," kata Postecoglou yang dikutip dari Daily Mail Sport.
Kisah yang dialami Postecoglou bukanlah hal baru. Ketika menangani Tottenham Hotspur, dia juga pernah mengeluhkan siklus pendek dalam dunia kepelatihan modern. Ironisnya, Tottenham yang dulu menunjuknya untuk menghadirkan sepak bola menyerang justru kini kembali pada pendekatan defensif di bawah Thomas Frank.
"Sepertinya sekarang begitu ada yang salah, orang langsung bilang: ‘Itu salah, ubah saja, hancurkan semuanya'. Pada titik tertentu, klub harus berpegang pada satu hal," ujar Postecoglou.
Editor : Arief