BRIGHTON - Langit cerah di Amex Stadium tidak cukup untuk membawa sinar bagi Manchester City, Minggu (31/8).
Alih-alih pulang dengan kemenangan, pasukan Pep Guardiola harus menelan kekalahan 1-2 dari Brighton, hasil yang membuat mereka semakin tertinggal dalam perburuan gelar Liga Primer.
Kekalahan ini menjadi yang kedua secara beruntun setelah sebelumnya mereka takluk dari Tottenham.
Bagi Guardiola, ini bukan sekadar kehilangan tiga poin, melainkan tanda bahwa timnya masih mencari identitas permainan di awal musim yang belum berjalan mulus.
Dilansir dari Manchester Evening News, selama satu jam pertama, City tampil meyakinkan. Pergerakan bola mengalir, serangan terencana, dan Erling Haaland kembali menunjukkan naluri tajamnya dengan gol pembuka di babak pertama.
Guardiola mengakui bahwa fase ini mencerminkan permainan yang ia harapkan. Namun, pertandingan berubah drastis ketika Brighton melakukan empat pergantian sekaligus.
Perubahan energi itu terasa segera. Serangan mereka menjadi lebih hidup, tekanan meningkat, dan pada akhirnya sebuah insiden di kotak penalti, saat bola mengenai siku Matheus Nunes, memberi tuan rumah peluang emas untuk menyamakan kedudukan dari titik putih.
Setelah gol itu, City terlihat goyah. Guardiola menyebut bahwa timnya kehilangan organisasi dan ketenangan.
Ia tidak menyampaikannya dengan nada marah, melainkan dengan nada reflektif. Seolah ia sedang menceritakan pelajaran penting yang harus segera dipahami oleh para pemainnya. "Setelah penalti itu, kami seperti lupa cara bermain," ungkapnya dalam konferensi pers pasca-laga.
Guardiola menjelaskan bahwa timnya mencoba bermain lebih langsung, namun melupakan detail penting seperti memenangkan bola kedua dan menjaga struktur permainan. Menurutnya, detail kecil itu sering menjadi pembeda antara menang dan kalah.
Editor : Arief