SEMARANG – Harapan PS Barito Putera untuk bertahan di Liga 1 2024/2025 resmi pupus, meski menutup musim dengan kemenangan 2-1 atas PSIS Semarang di Stadion Jatidiri, Sabtu (24/5/2025) sore.
Kemenangan ini tak mampu menyelamatkan Laskar Antasari dari degradasi karena dua pesaing mereka, Semen Padang dan PSS Sleman, juga meraih kemenangan di laga pamungkas.
Barito sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Lucas pada menit ke-40.
Namun, gol balasan Murilo di masa injury time babak pertama dan sontekan keras Morelatto di menit ke-47 membalikkan keadaan menjadi 2-1. Skor ini bertahan hingga laga usai.
Sayangnya, hasil di partai lain justru menjadi kabar buruk.
Semen Padang menang 2-0 atas Arema FC, sementara PSS Sleman menundukkan Madura United 3-0.
Alhasil, Barito finis di posisi ke-17 klasemen akhir dengan 34 poin, sama dengan PSS, tapi kalah selisih gol.
Pelatih Kepala Barito Putera, Vitor Tinoco tak bisa menyembunyikan kekecewaannya dalam sesi konferensi pers usai laga.
"Kami minta maaf. Kami tidak bisa selamat bertahan di Liga 1. Terima kasih kepada semua yang sudah mendukung, dari suporter sampai manajemen. Para pemain sudah berjuang sekuat tenaga," ucap Tinoco dengan suara berat.
Senada dengan sang pelatih, pemain Barito Putera, Ilham Mahendra menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Banua.
"Mohon maaf untuk Kalimantan Selatan. Kami sudah berjuang, tapi hasilnya belum berpihak. Insya Allah musim depan kita akan bangkit bersama," ucap Ilham.
Ketua Umum Barito Mania, Dedy Sattardi menilai kegagalan ini adalah buah dari ketidakkonsistenan tim sepanjang musim.
"Pemain sudah berjuang, tapi keberuntungan tidak berpihak. Ini konsekuensi dari inkonsistensi. Jangan lama-lama larut dalam kesedihan, manajemen harus segera gerak cepat persiapkan tim di Liga 2. Cukup satu musim saja," tegasnya.
Dedy juga menilai sebagian besar pemain dan jajaran pelatih tidak layak dipertahankan.
"Yang sudah terbukti membawa Barito degradasi ini tak layak diberi kesempatan lagi. Mungkin hanya beberapa pemain yang layak bertahan. Tim pelatih juga wajib dirombak habis." tutupnya.
Editor : Fauzan Ridhani