Kemarau Ancam Tambak Ikan di Kalsel, Pembudidaya Pilih Pangkas Produksi atau Tekor

Redaksi Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 12:46 WIB
ilustrasi ikan mati
ilustrasi ikan mati

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kemarau tak hanya mengeringkan sungai, tetapi perlahan menggerus produksi dan mengancam modal pembudidaya ikan di Kalsel.

      ***

Kemarau panjang di Kalsel tidak selalu diawali dengan ikan mati mengapung. Bagi pembudi daya ikan air tawar, kerugian justru bisa dimulai jauh sebelumnya.

Debit sungai menyusut. Tepian menjadi dangkal. Keramba yang biasanya penuh perlahan dikosongkan. Benih yang ditebar dikurangi, kepadatan ikan diturunkan, bahkan masa panen dipercepat.

Artinya, yang lebih dulu dipangkas kemarau adalah kapasitas produksi. Gambaran itu terjadi di sejumlah sentra budi daya ikan air tawar di Kalsel sepanjang 2026.

Di Banua Anyar, Kota Banjarmasin, misalnya, pembudi daya ikan Qasthalani harus mengurangi penggunaan keramba akibat pendangkalan sungai. Dari 16 keramba yang dikelolanya, hanya sekitar separuh yang masih dapat digunakan. “Sekitar 7 sampai 8 keramba tidak bisa dipakai karena air di tepian sudah sangat dangkal saat masuk musim panas. Dulu biar kemarau masih bisa dipakai semua,” kata Qasthalani.

Berkurangnya keramba otomatis mengurangi jumlah benih yang bisa ditebar. Ia memperkirakan hasil panennya turun hingga 25 persen dibandingkan kondisi ketika debit sungai normal. “Hasil panen nanti pasti jauh lebih sedikit karena jumlah bibit yang ditebar juga berkurang banyak. Pendangkalan di tepian ini memang kelihatannya semakin parah dari tahun ke tahun,” bandingnya.

Kondisi serupa terjadi ketika kemarau memukul kualitas air. Pembudi daya tidak lagi bisa sekadar mempertahankan jumlah ikan seperti musim normal.

Penyuluh Perikanan DKP3 Banjarmasin, Roslina mengatakan perubahan kondisi sungai harus terus dipantau karena keramba sangat bergantung pada lingkungan perairan. “Karena keramba ada di sungai, jadi sangat bergantung pada kondisi air. Kami sarankan pengecekan rutin tetap dilakukan agar sisa keramba yang ada tetap aman dari risiko kerugian,” ujarnya.

Kapasitas Dipangkas Sebelum Ikan Mati

Kemarau akhirnya memaksa pembudi daya mengubah strategi. Bukan lagi mengejar produksi maksimal, tetapi menghindari kerugian yang lebih besar.

Di Banua Anyar misalnya, Salamiah mengelola 32 keramba. Ketika kematian ikan mulai terjadi pada Agustus, kepadatan langsung dikurangi.

Lebih dari 480 kilogram ikan miliknya mati. Mayoritas merupakan patin, disusul bawal, papuyu, dan toman. Kerugian diperkirakan lebih dari Rp10 juta. “Sementara dikurangi dulu isinya biar tidak terlalu padat. Biasanya satu keramba ada 2.000 bibit ikan, sekarang kita kurangi jadi 1.000,” ujarnya. Artinya, separuh kapasitas tebar harus ditahan demi menyesuaikan kemampuan perairan.

Roslina juga mendorong pembudi daya tidak memaksakan ikan bertahan terlalu lama ketika sudah memenuhi ukuran jual. “Kalau memang sudah mencukupi standar, segera dipanen. Tujuannya agar mengantisipasi terjadinya kematian ikan yang lebih masif,” katanya.

Pola serupa dilakukan pembudi daya di daerah lain. Di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), kematian ikan cukup banyak terjadi pada Agustus. Kepala Dinas Perikanan HSU, Khairi Hanani mengatakan ikan yang mati umumnya sudah mendekati ukuran panen. “Kerugian yang dilaporkan rata-rata untuk ikan yang sudah siap panen dalam satu karamba berkisar Rp10 juta sampai Rp12 juta,” jelasnya.

Menurut Khairi, hingga September 2026 produksi ikan HSU secara keseluruhan masih relatif aman. Bahkan, pasokan masih memungkinkan dikirim ke luar daerah. Namun, kondisi tersebut tidak berarti pembudi daya terbebas dari risiko.

Persoalan muncul ketika ikan ditahan terlalu lama dengan harapan memperoleh harga jual lebih tinggi. Di tengah kemarau panjang, strategi tersebut justru meningkatkan risiko. Volume air terus turun, kualitas perairan memburuk, sementara ikan yang semakin besar membutuhkan ruang dan oksigen lebih banyak.

Khairi menyebut kondisi kemarau tahun ini berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Dalam sekitar satu dekade terakhir, menurut dia, belum ada kemarau yang menyebabkan penurunan volume air sedrastis sekarang.

Pembudi daya pemula disebut lebih rentan karena belum memiliki pola pengelolaan yang matang menghadapi kondisi ekstrem.

Ikan Enggan Makan, Terancam Tekor

Tekanan ekonomi juga dirasakan pembudi daya keramba di Balangan. Rasyha, salah satu pembudi daya, mengatakan ikan kini sering terlihat megap-megap di permukaan dan tidak mau makan. Setiap hari terdapat ikan yang mati meski jumlahnya tidak sekaligus banyak.

“Air sungai yang surut dan panas membuat ikan stres dan kekurangan oksigen. Ikan sering terlihat megap-megap di permukaan dan tidak mau makan. Setiap hari pasti ada saja yang mati nyicil, sekitar lima sampai sepuluh ekor,” ungkapnya.

Dampaknya bukan hanya pada jumlah ikan, tetapi juga lama pemeliharaan. Siklus panen yang normalnya sekitar enam bulan, kini molor menjadi delapan hingga sembilan bulan.

Pakan tetap menjadi biaya yang harus dikeluarkan, sementara nafsu makan ikan menurun dan hasil panen menyusut. “Kalau dihitung, kerugian kami bisa lebih dari 50 persen. Dari tebaran 15 ribu ekor, normalnya bisa untung Rp50 juta. Tapi sekarang kami malah terancam tekor Rp20 juta sampai Rp30 juta. Sekarang bisa balik modal saja sudah sangat bersyukur, susah mengharapkan untung,” keluhnya.

Untuk menyelamatkan ikan yang tersisa, Rasyha memindahkan keramba ke bagian sungai yang lebih dalam, membersihkan jaring agar sirkulasi air tetap berjalan, serta memangkas pemberian pakan menjadi sekali sehari.

Ia berharap ada dukungan berupa subsidi pakan, bantuan bibit setelah kemarau, kincir air, pemantauan kualitas air, hingga pengerukan sungai yang semakin dangkal.

Empat Kelompok Terdampak di HST

Di Hulu Sungai Tengah (HST), tekanan kemarau juga mulai menggerus usaha kelompok pembudi daya. Sekitar 8.000 dari 10.000 ekor ikan nila milik Pokdakan Raudatul Ulum Mubarak di Desa Pemangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara, mati akibat meningkatnya suhu air kolam.

Misera, anggota kelompok tersebut, mengatakan kini hanya sekitar 2.000 ekor yang tersisa. “Yang mati sekitar 8.000 ekor. Awalnya ada 10.000 ekor, sekarang tersisa sekitar 2.000 ekor,” katanya.

Kabid Perikanan DKPP HST, Syaifuddin Noor menyebut empat pokdakan telah melaporkan terdampak kemarau. Selain Raudatul Ulum Mubarak, terdapat Pokdakan Awang Maju Bersama di Desa Jamil dan Pokdakan Anugerah Tatah Makmur di Kecamatan Labuan Amas Selatan yang membudidayakan ikan gabus menggunakan kolam tanah. Pokdakan Mufakat di Desa Mahang Baru juga mengalami kesulitan air. “Kalau kolam tanah, kendalanya air yang semakin berkurang karena kekeringan. Sedangkan pada kolam terpal, cuaca panas membuat suhu air meningkat, sehingga bisa menyebabkan ikan mengalami kematian,” jelas Syaifuddin.

Nila dan Bawal Paling Rentan

Di HSU, seluruh jenis ikan tetap memiliki risiko ketika kualitas air memburuk. Namun, tingkat ketahanannya berbeda.

Khairi menyebut nila dan bawal termasuk komoditas yang menghadapi risiko tinggi pada kondisi tertentu. Dalam kondisi normal, tingkat mortalitas nila hingga panen disebut dapat mencapai 75 persen. Sementara bawal yang normalnya berada pada kisaran 10–20 persen, pada lokasi dengan kepadatan tebar tinggi kini dilaporkan bisa mencapai 50 persen.

Meski demikian, pasokan nila di pasar HSU masih tersedia, karena sebagian kebutuhan ditopang hasil tangkapan alam.

Persoalan mendasar tetap sama: ketika air menyusut, daya dukung lingkungan ikut turun. Karena itu, kemarau bukan sekadar cerita tentang ikan yang mati. Ada benih yang tidak jadi ditebar, keramba yang tidak bisa digunakan, ikan yang dipanen lebih cepat, masa pemeliharaan yang molor, hingga keuntungan yang tergerus biaya pakan.

Produksi ikan mungkin masih berjalan. Namun bagi pembudi daya, kemampuan untuk menghasilkan seperti kondisi normal telah lebih dulu menyusut.

Dan selama kemarau belum berakhir, ancaman terhadap modal usaha masih belum selesai. (zkr/mpi/mud/mar /dly/mal/gr/sbx/dye)

Editor : Arief M
Sumber : RADAR BANJARMASIN edisi cetak
Indepth Perikanan kemarau kekeringan usaha