RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat pengendalian inflasi, terutama terhadap perkembangan harga pangan di tengah dampak kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.
Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Kalsel, Eddy Elminsyah Jaya, mengatakan berdasarkan hasil rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama Kementerian Dalam Negeri RI secara virtual, Senin (14/9), kondisi inflasi Kalsel secara mingguan masih relatif aman.
Menurut Eddy, pada pekan kedua September 2026, Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kalsel tercatat mengalami kenaikan sekitar 0,5 persen dan tidak masuk dalam 10 daerah dengan kenaikan IPH tertinggi secara nasional.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai pergerakan harga beras di sejumlah daerah. Salah satunya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang berdasarkan data mencatat perkembangan harga beras hingga 6,6 persen.
“Di sisi lain beras kita berlimpah, namun dari data ini terlihat ada pergerakan harga 6,6 persen. Kita berharap Bulog bisa melakukan operasi pasar melalui penyaluran beras SPHP,” ujar Eddy.
Ia berharap operasi pasar juga dapat diarahkan ke pasar-pasar yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keterjangkauan harga sekaligus memastikan masyarakat tetap mendapatkan kebutuhan pangan dengan harga yang wajar.
Secara umum, Eddy menyebut kondisi inflasi Kalsel masih aman dan terkendali. Namun, jika dilihat secara tahunan, inflasi Kalsel masih berada di atas angka nasional, yakni sebesar 4,69 persen.
Eddy menjelaskan, salah satu komoditas yang memberikan kontribusi besar terhadap inflasi tahunan adalah emas. Kenaikan harga emas yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya turut memengaruhi angka inflasi Kalsel. (al/ris)
Editor : Arief M