RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA – Harapan petani di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar untuk mendulang untung pupus. Setelah lahan sawah mereka terendam intrusi air laut yang datang lebih cepat dari perkiraan.
Dampaknya fatal. Produksi padi petani diprediksi merosot tajam. Tanaman padi yang sedang dalam masa pertumbuhan dan belum sempat mengisi bulir (padi hampa), terpaksa mati muda.
Kondisi ini membuat para petani harus menelan pil pahit kerugian, terutama mereka yang sudah mengeluarkan modal besar untuk membeli benih.
Camat Aluh-Aluh, Aditya Yudi Dharma, membenarkan kondisi memprihatinkan tersebut. Ia menyebut fenomena air asin tahun ini di luar kebiasaan. Menurutnya, selama kurang lebih tiga tahun terakhir, air tidak pernah terasa asin saat masa padi mulai berisi. "Baru tahun ini masin (asin) benar. Jadi terkejut juga, benih orang yang belum berisi, begitu dihantam air asin, langsung kosong (hampa)," kata Aditya.
Padahal, ungkapnya bagi petani Aluh-Aluh, air asin sebenarnya bukan musuh abadi. Secara alamiah, sisa air laut yang menggenangi lahan justru berfungsi menetralkan asam tanah dan bertindak layaknya pupuk alami untuk musim tanam tahun berikutnya. Tanah akan menjadi lebih subur.
Persoalannya ada pada waktu kedatangan. Normalnya, air asin masuk setelah masa panen selesai.
Kondisi geografis dan sistem irigasi di wilayah Kecamatan Aluh-Aluh, membuat persoalan pertanian di sana berbeda 180 derajat dibandingkan daerah lain di Kabupaten Banjar.
Aditya menjelaskan, jika wilayah seperti Kecamatan Astambul, Karang Intan, atau Mataraman mengalami gagal panen akibat kekeringan dan tanah yang retak, Aluh-Aluh tidak demikian.
Sebagai daerah pesisir yang menggunakan sistem pertanian pasang surut, air selalu tersedia. "Kalau kami di sini tidak terpengaruh kemarau atau tanah bangkang (retak). Pasang surut air selalu ada. Mau musim kemarau, kami tetap mengandalkan air pasang dari laut," jelasnya.
Biasanya, pada musim kemarau sekalipun, air pasang yang naik ke sungai belum terasa asin. Sehingga petani masih bisa memanfaatkannya untuk mengairi sawah. “Namun tahun ini, tingkat salinitas air begitu tinggi sejak awal. Sehingga banyak petani yang salah hitung,” imbuhnya.
Perihal ini, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, Warsita, membenarkan memburuknya kondisi pertanaman padi di wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa kegagalan panen kali ini merupakan imbas dari serangan penyakit mematikan pada tanaman padi, di samping adanya paparan air asin. “Kalau di Aluh-Aluh itu, kemungkinan karena air asin kemungkinan memang ada. Namun, laporan yang masuk ke kami gagal panennya karena tungro,” ungkap Warsita.
Ia menjelaskan, tungro menjadi ancaman serius karena virus ini langsung mengganggu fase pertumbuhan tanaman. “Rantai serangannya sangat jelas. tanaman terserang, pertumbuhan terganggu, produksi turun drastis, hingga akhirnya risiko gagal panen meningkat tajam,” imbuhnya.
Gagal panen berarti pendapatan keluarga petani terancam. Biaya produksi yang sudah terlanjur dikeluarkan menjadi sia-sia, dan yang paling mengkhawatirkan, modal untuk musim tanam berikutnya ikut dipertaruhkan.
"Satu musim gagal panen bisa berarti satu keluarga kehilangan sumber penghasilan. Petani tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian menghadapi situasi ini," katanya.
Merespon ini, pihaknya mulai memperkuat langkah perlindungan melalui tiga pilar penanganan. Pertama, pemantauan intensif untuk mengantisipasi meluasnya serangan penyakit. Kedua, pendampingan langsung kepada petani terkait informasi pola tanam. Ketiga, pencegahan sejak dini. (zkr/mof)
Editor : Arief M