Bendera Merah Putih Mulai Berkibar, Omzet Pedagang di HSS Malah Terjun Bebas

M Padil Ihsan • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:16 WIB
BENDERA: Salah satu lapak penjuak bendera merah putih di HSS. (Foto: M Padil Ihsan/Radar Banjarmasin) 
BENDERA: Salah satu lapak penjuak bendera merah putih di HSS. (Foto: M Padil Ihsan/Radar Banjarmasin) 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kandangan - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, penjualan bendera Merah Putih dan berbagai atribut kemerdekaan biasanya menjadi peluang bisnis bagi pedagang musiman di jalanan. Namun, kondisi berbeda dirasakan sejumlah penjual bendera di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Alih-alih mengalami peningkatan omzet menjelang Agustus, penjualan bendera tahun ini justru mengalami penurunan cukup drastis. Bahkan, salah seorang pedagang mengaku omzetnya turun hingga 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal itu disampaikan Saipul, salah seorang penjual bendera asal Bandung, Jawa Barat, yang setiap tahun berjualan di HSS. Tahun ini merupakan tahun keenam dirinya menjajakan bendera dan atribut kemerdekaan di wilayah tersebut.

"Sudah tahun keenam saya jualan bendera ke HSS. Biasanya omzet penjualan mencapai Rp21 juta, paling sedikit Rp18 juta. Tapi sekarang anjlok 80 persen. Untuk mencapai Rp8 juta saja sangat susah," ujarnya pada Minggu (9/8/2026) kepada media ini. 

Menurut Saipul, salah satu penyebab menurunnya penjualan karena masyarakat masih banyak menggunakan bendera lama sehingga tidak membeli yang baru. Kondisi itu membuat pembeli yang datang lebih banyak berasal dari instansi pemerintahan.

"Pembelinya hanya ada dari kantor dinas. Dari desa-desa maupun perorangan sangat jarang. Mungkin karena tidak adanya kewajiban di desa untuk mengadakan acara Agustusan. Kalau tahun kemarin masih banyak yang membeli bendera dalam jumlah banyak, sekarang paling ada yang beli satuan," ungkapnya.

Penurunan penjualan juga dirasakan Elin Sumandri, yang sesama penjual bendera asal Bandung. Menurutnya, kondisi tersebut hampir dirasakan seluruh pedagang bendera yang berjualan di HSS.

"Faktornya sekarang banyak yang memilih beli di toko online karena harganya lebih murah. Semua penjual memang saat ini sangat jelek hasil penjualannya," ujarnya.

Sementara itu, Saipul menilai menurunnya daya beli masyarakat juga ikut memengaruhi penjualan. Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan harga agar dagangan tetap bisa terjual.

"Dengan suasana yang begini, kalau kita jual dengan harga normal yang memang mahal, susah jadinya. Jadi kami jual murah saja, yang penting barang ada yang keluar," pungkas Saipul.

Di tengah lesunya penjualan, para pedagang bendera kini hanya bisa berharap suasana menjelang 17 Agustus kembali ramai. Bagi mereka, setiap bendera yang terjual tetap berarti, setidaknya untuk mengurangi stok yang dibawa dari Bandung dan menutup biaya berjualan selama berada di HSS.

Editor : Arif Subekti
omzet menurun dari tahun lalu hulu sungai selatan penjualan bendera merah putih