Inflasi di Kalsel Mencapai 4,28 Persen, Beras dan Bensin jadi Pemicu

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 17:26 WIB
BERAS BULOG: Ilustrasi beras di gudang Bulog.
BERAS BULOG: Ilustrasi beras di gudang Bulog.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Inflasi tahunan Provinsi Kalimantan Selatan pada Juli 2026 mencapai 4,28 persen. Dua komoditas kebutuhan pokok, yakni beras dan bensin, tercatat sebagai penyumbang utama kenaikan harga yang menekan daya beli masyarakat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, Muhammad Mukhanif, menjelaskan inflasi Juli 2026 tercatat dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,55. Secara bulanan inflasi hanya sebesar 0,03 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 2,24 persen. “Seluruh kabupaten dan kota yang menjadi cakupan penghitungan IHK mengalami inflasi tahunan,” ujarnya, Rabu (5/8).

Ia menyebut, kenaikan harga terjadi pada sebelas kelompok pengeluaran. Inflasi tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 14,52 persen, diikuti kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,59 persen serta transportasi sebesar 4,20 persen.

Sejumlah komoditas menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan, di antaranya emas perhiasan, beras, bensin, minyak goreng, daging ayam ras, ikan gabus, ikan nila, angkutan udara, telepon seluler, nasi dengan lauk, hingga biaya pendidikan.

Beras memberikan andil terbesar terhadap inflasi kelompok makanan dengan kontribusi 0,49 persen. Disusul minyak goreng 0,21 persen dan daging ayam ras 0,15 persen. Sementara itu, bensin menjadi penyumbang utama inflasi di sektor transportasi. “Komoditas seperti tomat, telur ayam ras, bawang merah, dan cabai justru menahan laju inflasi,” jelas Mukhanif.

Menurutnya, kondisi inflasi di Kalsel masih dipengaruhi dinamika harga pangan, energi, transportasi, serta komoditas konsumsi masyarakat yang bergerak sepanjang tahun. “BPS akan terus memantau perkembangan harga melalui IHK agar dinamika inflasi dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan pengendalian harga dan menjaga daya beli masyarakat,” tutupnya. (zkr/mof)

Editor : Arief
BBM Sembako inflasi Ekonomi Bisnis Beras