BPDP Dan PT Trifos Internasional Sertifikasi Memperkuat Kompetensi 57 Pekebun Sawit Swadaya Kabupaten Barito Kuala Melalui Pelatihan Implementasi ISPO

admin • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 10:52 WIB
shfgs
TINKATKAN KEMAMPUAN: Para pekebun kelapa sawit Kabupaten Barito Kuala berfoto bersama di lapangan dalam rangkaian pelatihan ISPO pada 20-25 Juli 2026 yang digelar PT Trifos Internasional dan didanai BPDP.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Sebanyak 57 pekebun kelapa sawit swadaya asal Kabupaten Barito Kuala (Batola), Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengikuti Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pada 20–25 Juli 2026 di Hotel Novotel Banjarmasin. Kegiatan yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan diselenggarakan oleh PT Trifos Internasional. Sertifikasi (TRIC) ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan teknis pekebun swadaya dalam menerapkan prinsip dan kriteria ISPO di kebun masing-masing. 

Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan BPDP yang menyasar pekebun swadaya, kelompok pekebun yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap pengetahuan teknis dan standar keberlanjutan dibandingkan pelaku usaha perkebunan besar. Melalui pelatihan ini, pekebun diharapkan mampu memenuhi persyaratan sertifikasi ISPO yang bersifat wajib bagi seluruh pelaku usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Penerapan ISPO dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan perkebunan kelapa sawit nasional. Standar ini mengatur berbagai aspek pengelolaan kebun, mulai dari legalitas lahan, praktik budi daya yang baik, pengelolaan lingkungan, hingga tanggung jawab sosial. Bagi pekebun swadaya, sertifikasi ISPO juga menjadi salah satu syarat untuk menembus pasar yang semakin ketat menerapkan persyaratan keberlanjutan.

Acara diawali dengan sambutan dari Direktur Utama TRIC, Rendy Agung Firmansyah S Hut MM yang menyampaikan gambaran umum pelaksanaan pelatihan serta harapan terhadap peningkatan kapasitas pekebun swadaya peserta.

“Dari Kalimantan untuk Negeri: Menjaga Keberlanjutan Sawit, Mengubah ISPO Menjadi Investasi”

Sambutan kemudian disampaikan oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Barito Kuala, Lasiman S ST MP yang menyampaikan dukungannya terhadap pelatihan ini sebagai upaya memperkuat kompetensi pekebun swadaya di wilayahnya.

“ISPO bukan sekadar sertifikasi, tetapi kunci daya saing dan keberlanjutan sawit Indonesia. Dengan mengikuti pelatihan secara sungguh-sungguh, pekebun dapat meningkatkan tata kelola, pemasaran, dan nilai tambah hasil sawit di masa depan,” 

Sambutan terakhir disampaikan oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Pertanian Provinsi Kalsel, Drh Suparmi MS yang sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan perkebunan kelapa sawit rakyat menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah Kalsel. Sehingga, penguatan kapasitas pekebun swadaya perlu terus didorong agar sejalan dengan kebijakan keberlanjutan yang ditetapkan Pemerintah.

“Pembangunan kelapa sawit berkelanjutan dilakukan melalui peningkatan kapasitas pekebun, pemanfaatan pelatihan secara optimal, dan pengelolaan sawit serta limbahnya secara tepat. Upaya ini diharapkan dapat mendukung perolehan sertifikasi ISPO dan kemajuan industri sawit.”

Sejalan dengan upaya memperkuat keberlanjutan dan daya saing sawit, BPDP juga menekankan pentingnya penerapan ketelusuran (traceability) dalam rantai pasok kelapa sawit.

“Ketelusuran menjadi aspek penting dalam memperkuat daya saing sawit Indonesia di pasar global dan mewujudkan rantai pasok yang berkelanjutan.”

Sebagai narasumber pelatihan, Rendy Agung Firmansyah juga menjelaskan bahwa materi pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan teknis yang umum dihadapi pekebun swadaya di lapangan. Peserta dibekali materi mengenai praktik budi daya yang baik, pemeliharaan tanaman, teknik pemupukan berimbang, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), keselamatan dan kesehatan kerja, serta pengelolaan lingkungan sesuai standar ISPO.

Selain teori di kelas, peserta juga mendapatkan praktik dan simulasi penerapan standar tersebut, yang menjadi salah satu syarat penting dalam proses sertifikasi ISPO.

Selama enam hari pelaksanaan, peserta mengikuti rangkaian pembelajaran yang mengombinasikan materi teori dan praktik. Melalui pendekatan tersebut, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat langsung diterapkan di kebun masing-masing peserta sekembalinya ke Kabupaten Barito Kuala.

Setelah mengikuti pelatihan ini, pekebun diharapkan memiliki kompetensi yang lebih baik dalam mengelola kebun, sehingga produktivitas dan kualitas hasil panen kelapa sawit dapat meningkat. Pada akhirnya, peningkatan kompetensi tersebut diharapkan turut memperkuat daya saing industri kelapa sawit Indonesia di pasar global yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Melalui program ini, BPDP bekerja sama dengan TRIC berharap para pekebun mampu menerapkan praktik budi daya yang baik secara konsisten, memenuhi persyaratan sertifikasi ISPO, serta mengelola kebun sesuai prinsip keberlanjutan. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan perkebunan kelapa sawit rakyat yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Editor : Fauzan Ridhani
Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Novotel Banjarmasin Airport banjarmasin Kabupaten Barito Kuala Kelapa Sawit