Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kadar Oksigen di Waduk Riam Kanan Turun, Ikan di Keramba Berpotensi Mati Massal

M Fadlan Zakiri • Rabu, 8 Juli 2026 | 10:01 WIB
AMBIL SAMPEL: Petugas DKPP Kabupaten Banjar mengukur kualitas air di kawasan keramba jaring apung di Desa Mali-Mali. (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN
AMBIL SAMPEL: Petugas DKPP Kabupaten Banjar mengukur kualitas air di kawasan keramba jaring apung di Desa Mali-Mali. (Foto: FADLAN ZAKIRI/RADAR BANJARMASIN

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, MARTAPURA – Penurunan kualitas air di kawasan budidaya ikan keramba jaring apung Kabupaten Banjar mulai menimbulkan kekhawatiran serius. Para pembudidaya kini merasakan langsung dampak dari berkurangnya kadar oksigen terlarut (DO) di sungai, menyusul penyesuaian operasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ir. P.M. Noor akibat surutnya debit Waduk Riam Kanan di musim kemarau.

Hasil pemantauan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar menunjukkan kadar DO di sejumlah lokasi hanya berkisar 0,61–1 mg/liter. Kondisi ini berisiko tinggi memicu stres hingga kematian massal ikan bila berlangsung lama.

Di Sungai Arfat, kadar oksigen terlarut tercatat sekitar 1 mg/liter dengan suhu air 29,7 derajat Celsius, pH 6, dan kedalaman 1,5–3 meter. Sementara di Desa Mali-Mali, situasi lebih mengkhawatirkan, kadar oksigen terlarut hanya 0,61–1,3 mg/liter, kedalaman sungai tinggal 1–2,5 meter, dan permukaan air turun sekitar dua meter dari kondisi normal.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKPP Kabupaten Banjar, Bandi Chairullah, menegaskan kondisi ini harus segera diantisipasi. “Kalau berlangsung lama, ikan bisa stres, sulit bernapas, bahkan berpotensi mati massal,” ujarnya.

Sementara, Kasubbag Perencanaan DKPP, Apriyan Mindar Waspodo, menyebut tim telah turun langsung ke Sungai Arfat dan Mali-Mali untuk mengecek kualitas air sekaligus mengimbau pembudidaya agar segera mengambil langkah antisipasi.

Imbauan disampaikan melalui media sosial DKPP dan siaran Radio Al Karomah, termasuk saran mempercepat jadwal panen serta mengurangi kepadatan tebar benih agar kebutuhan oksigen ikan tetap tercukupi.

Dampak penurunan kualitas air sudah nyata dirasakan. Salmi, pembudidaya di Desa Mali-Mali, memilih memanen lebih awal sekitar 500 kilogram ikan bawal. “Alhamdulillah masih sempat dipanen. Kalau terlambat beberapa hari saja, kemungkinan ikannya sudah mati karena oksigen sangat rendah,” katanya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Iwan Hadruni, pembudidaya di Desa Tambela, Kecamatan Aranio. Ia mengaku baru mengetahui adanya penyesuaian operasi PLTA setelah melihat permukaan air turun lebih dari dua jengkal.

“Bekas air di tebing sungai masih terlihat. Kalau debit terus berkurang, oksigen ikan makin menipis,” ujarnya.

Seperti diketahui, PLN Indonesia Power UBP Barito sejak 1 Juli 2026 menyesuaikan pola operasi PLTA Ir. P.M. Noor dengan hanya mengoperasikan satu unit turbin berkapasitas 5 megawatt. Kebijakan ini diambil karena Tinggi Muka Air (TMA) Waduk Riam Kanan turun hingga 57 meter di atas permukaan laut.

Manager ULPLTAD Gunung Bamega, Reza Permana, menjelaskan langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air hingga musim hujan tiba.

“Agar aliran air di hilir tetap terjaga, dilakukan pengaturan beban melalui pengoperasian satu unit turbin,” jelasnya.

Ia menegaskan penyesuaian operasi PLTA bukan penyebab utama pemadaman listrik yang terjadi belakangan.

Baca Juga: Debit Air Waduk Riam Kanan Mulai Menurun, Pembangkit PLN Hanya Operasikan Satu Turbin

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Riam Kanan #Perikanan #kabupaten banjar