RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Kalsel menyatakan perekonomian Kalsel terus menunjukkan resiliensi yang solid memasuki pertengahan kuartal II 2026. Neraca Perdagangan Kalsel pada Mei 2026 mencatatkan surplus sebesar US$922,44 juta. Surplus ini mengalami pertumbuhan positif sebesar 6,19% (yoy) dan 14,45% (mtm). Sementara, kinerja perdagangan luar negeri yang impresif ini ditopang oleh nilai ekspor pada Mei 2026 yang mencapai US$1.108,56 juta atau tumbuh 7,7% (yoy).
"Peningkatan nilai ekspor tersebut utamanya disebabkan oleh peningkatan volume ekspor komoditas batubara yang menjadi penopang utama ekspor Kalsel dengan kontribusi mencapai lebih dari 50 persen," ungka Kepala Kanwil DJPb Kalsel, Catur Ariyanto Widodo saat media briefing di Aula Kanwil DJPb Kalsel, Kamis (25/6/2026).
Di sisi lain, Catur menambahkan nilai impor Kalsel juga mengalami peningkatan sebesar 16,1% (yoy) menjadi US$186,12 juta. Kenaikan dari sisi impor ini disebabkan oleh naiknya nilai impor komoditas terbesar di Kalsel, yaitu minyak petroleum.
"Dari sisi pergerakan harga, Kalsel mengalami inflasi pada Mei 2026 sebesar 4,22% (yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,98. Angka ini berada di atas level inflasi nasional yang mengalami inflasi sebesar 3,08% (yoy). Secara bulanan (mtm), terjadi inflasi sebesar 0,20% di Kalsel, yang sedikit lebih rendah sementara nasional mengalami inflasi sebesar 0,28%," sambungnya.
Catur menuturkan Kabupaten Tanah Laut tercatat sebagai wilayah dengan inflasi (yoy) tertinggi di regional sebesar 5,03% dengan IHK sebesar 112,32. Dan terendah terjadi di Kotabaru sebesar 3,53% dengan IHK sebesar 112,34.
"Tekanan inflasi tahunan (yoy) didominasi oleh komoditas emas perhiasan, beras, minyak goreng, ikan nila, dan sigaret kretek mesin. Secara bulanan (mtm), inflasi utamanya disumbang oleh beras, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, ikan patin, dan emas perhiasan. Namun, dorongan inflasi bulanan ini sebagian berhasil diredam oleh penyumbang deflasi (mtm) seperti daging ayam ras, ikan nila, telur ayam ras, ikan gabus, dan udang basah," sebutnya.
Sebagai langkah pengendalian inflasi, TPID di wilayah Kalsel terus memperkuat sinergi. Diantaranya, berupa Operasi Pasar/Gerakan Pasar Murah komoditas pangan strategis telah dilaksanakan sebanyak 355 kali hingga Mei dan telah disalurkan beras SPHP di Kalsel sebesar 5,47 ribu ton.
"Langkah strategis lainnya juga terus diimplementasikan, meliputi panen raya jagung serentak di Tanah Laut dan program cetak sawah seluas 30 ribu hektar, perbaikan jalan dari simpang menuju Tanjung Seloka hingga Tanjung Ujung di Kotabaru sepanjang kurang lebih 13 km, serta kegiatan HLM TPID Kota Banjarbaru dalam rangka menghadapi HBKN dan persiapan Kota Banjarbaru menuju Kota Penghitung Inflasi 2028," tandasnya.