RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Harga cabai merah atau tiung tanjung di Kabupaten Balangan melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Namun, kenaikan harga ini berbanding terbalik dengan keuntungan yang didapat oleh para petani di lapangan.
Di pasaran, harga cabai saat ini berada di kisaran Rp65 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram. Lonjakan harga ini dipicu oleh tingginya permintaan yang tidak mampu diimbangi oleh stok hasil panen yang kian menipis.
Menyusutnya ketersediaan cabai ini diakui oleh Su'aib, salah satu petani di Balangan. Ia membeberkan bahwa cuaca dengan intensitas hujan tinggi sejak Maret hingga Mei lalu menjadi penyebab utama anjloknya hasil panen.
Curah hujan tinggi tersebut memicu berbagai serangan penyakit tanaman. Mulai dari bercak daun, busuk batang akibat jamur Fusarium, hingga antraknosa yang membuat tanaman cabai rusak dan akhirnya mati.
"Harga cabai memang sedang tinggi, tetapi hasil panen petani banyak yang berkurang karena serangan penyakit saat musim hujan kemarin. Banyak tanaman yang gagal panen," ujar Su'aib.
Selain faktor cuaca, keluhan petani juga bertambah dengan tingginya biaya sarana produksi pertanian. Kenaikan harga pestisida, herbisida, fungisida, hingga mulsa plastik dirasa kian menambah beban modal yang harus dikeluarkan untuk perawatan kebun.
Menghadapi kendala tersebut, Su'aib berharap adanya pendampingan nyata dan intensif dari pemerintah daerah melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL). Khususnya terkait penanganan penyakit tanaman dan penerapan metode budidaya yang tepat saat menghadapi cuaca buruk.
"Kami berharap ada pendampingan dari PPL kepada masyarakat dan petani di Balangan agar dapat membantu mengatasi berbagai kendala yang dihadapi di lapangan," tutupnya.
Editor : Fauzan Ridhani