Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Permintaan Mobil Listrik di Kalsel Meningkat, Penjualan Mobil Bekas Terdampak

Zulvan Rahmatan • Kamis, 18 Juni 2026 | 08:05 WIB
MOBIL LISTRIK: Kenaikan harga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi menjadi pemicu tingginya permintaan mobil listrik. (Foto: Fadlan Zakiri/Radar Banjarmasin)
MOBIL LISTRIK: Kenaikan harga harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi menjadi pemicu tingginya permintaan mobil listrik. (Foto: Fadlan Zakiri/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi memunculkan tren keresahan. Satu persatu tarif per liternya merangkak naik. Sebelum heboh, BBM Jenis Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite sudah naik duluan, terbaru menyusul Pertamax.

Harga Pertamax Kalsel yang semula hanya Rp12.900 kini melonjak menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikannya mencapai Rp4.100. Penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak mulai berpikir cermat dalam membuat keputusan.

Bahkan ada yang mengurungkan niatnya untuk membeli mobil baru dengan konsumsi BBM. Salah satunya diakui Agus, warga Banjarmasin Utara. Padahal ia berencana membeli mobil unit baru. Namun, keinginannya tersebut harus ditunda. Ia pun berpikir ulang. “Melihat pergerakan harga BBM, jadi ragu untuk membeli kendaraan. Apakah langsung beralih ke kendaraan listrik atau tetap kendaraan dengan berbahan bakar minyak,” ujarnya Jumat (12/6).

Baca Juga: Permintaan Mobil Listrik di Kalsel Meningkat, Dampak Kenaikan BBM?

Menurutnya, di situasi sekarang, memilh kendaraan, apalagi dengan jenis konsumsi BBM harus lebih cermat. Salah-salah, justru berat untuk dipakai harian, atau justru hanya berakhir jadi penghias garasi alias jarang terpakai. “Ongkos beli BBM saat ini lumayan menguras biaya,” imbuhnya.

Bukan hanya bagi calon konsumen, kondisi serupa juga menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah pengusaha mobil bekas. Seperti yang disampaikan Rian, ia mengaku peminat mobil dengan konsumsi BBM belakangan lesu peminat jika dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Ia menilai, hal tersebut dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat, tak luput pula akibat sejumlah jenis BBM non-subsidi yang belakangan harganya meroket.

“Saat ini lesu. Ditambah kondisi sejumlah BBM yang naik, akhirnya jadi salah satu pertimbangan calon pembeli, terutama yang konsumsinya selain Pertalite,” ungkapnya.

Selama 12 tahun berprofesi sebagai pengusaha jual beli mobil, menurutnya hanya dua momen yang membuatnya terasa berat. Yakni covid-19 dan harga BBM seperti sekarang yang terus merangkak naik. Dalam kondisi yang lebih stabil, ia menyebut biasanya sekitar 20 unit mobil bisa terjual dalam sebulan. Namun, sekarang jumlahnya jauh menurun.

Pelaku usaha serupan Afif menyebut, kesesuaian konsumsi jenis BBM jadi salah satu pertimbangan yang tak terlewatkan oleh calon pembeli. Hal tersebut, menurutnya tak luput dari tren harga BBM yang belakangan merangkak naik. Bahkan peminat di tempatnya cenderung memilih mobil ber-CC di bawah 1.500 yang masih bisa menggunakan Pertalite. “Sedikit banyaknya, itu salah satu pertimbangan mereka,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan pedagang mobil bekas lain Dayat. Ia mengungkap, pihaknya bahkan cenderung menolak untuk menerima mobil bermesin diesel yang menggunakan BBM non-subsidi.

“Kami tidak berani membeli, kecuali ada kecocokan harga, karena ketika dipasarkan lagi peminatnya lebih sulit,” ucapnya.

Sebagai pengusaha, di situasi sekarang mereka mengaku harus lebih cermat. Terutama dalam menentukan strategi usaha dan arah pasar ke depannya. “Karena BBM jadi salah satu pertimbangan yang kini tak bisa dilewatkan,” tandasnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Otomotif #kalimantan selatan #banjarmasin #Mobil Listrik