RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BARABAI - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) terus menunjukkan perkembangan positif, terutama di sektor kuliner dan makanan olahan khas daerah.
Di tengah persaingan pasar yang semakin ketat, para pelaku UMKM memilih bertahan dengan terus berinovasi tanpa meninggalkan cita rasa yang menjadi ciri khas produk mereka.
Salah satunya disampaikan Muzalifah, pelaku UMKM di HST. Menurutnya, usaha kuliner tidak selalu ramai setiap hari. Karena itu, pelaku usaha dituntut untuk terus beradaptasi dan menghadirkan variasi produk agar tetap diminati konsumen.
“Makanya para pedagang tidak hanya menjual wadai cincin saja. Ada beberapa olahan kue lain sebagai alternatif untuk pembeli,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Strategi serupa juga dilakukan Asmaliyah, pedagang wadai cincin yang telah puluhan tahun menjalankan usahanya.
Baginya, menjaga kualitas dan mempertahankan resep turun-temurun menjadi kunci agar produk tetap dipercaya pelanggan.
“Sudah puluhan tahun berjualan, bentuk dan rasa wadai cincin di warung kami tidak pernah banyak berubah,” katanya.
Konsistensi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa makanan tradisional masih mampu bertahan di tengah gempuran produk modern dan tren kuliner yang terus berubah.
Sementara itu, Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Dinas Perindustrian, Tenaga Kerja, Koperasi dan UMKM HST, Hasanah, menilai perkembangan UMKM di daerah dapat dilihat dari semakin luasnya jangkauan pemasaran produk lokal.
Meski jumlah pelaku UMKM sulit dipastikan secara akurat karena sifat usaha masyarakat yang dinamis, aktivitas ekonomi di sektor tersebut dinilai terus bergerak dan berkembang.
Sebagian pelaku usaha berhasil memperluas pasar, sementara sebagian lainnya menyesuaikan produk dan jenis usaha sesuai kebutuhan konsumen serta peluang yang tersedia.
Salah satu contoh keberhasilan tersebut adalah produk kacang jaruk milik Hj Ati yang kini telah menembus pasar di luar Kalimantan.
“Produk kacang jaruk dari Hj Ati itu sudah dipasarkan sampai ke luar daerah,” ujar Hasanah.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa produk-produk UMKM asal HST memiliki daya saing dan peluang besar untuk berkembang lebih jauh.
Saat ini, sektor kuliner dan makanan olahan masih menjadi salah satu bidang usaha yang paling aktif tumbuh. Berbagai produk khas daerah terus diproduksi dan dipasarkan, baik melalui penjualan langsung maupun memanfaatkan platform digital.
Dengan semakin luasnya akses pemasaran dan meningkatnya kualitas produk, UMKM di HST diharapkan mampu naik kelas dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat.
Di balik kesederhanaannya, produk-produk lokal tersebut tidak hanya menyimpan cita rasa khas daerah, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga serta bagian penting dalam menjaga identitas kuliner Banua.
Editor : Eddy Hardiyanto