Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dampak Haga Pertamax Naik, Pengendara Beralih ke Pertalite

admin • Kamis, 11 Juni 2026 | 10:31 WIB
 penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM)
penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM)

 

BANJARBARU – Kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp17 ribu per liter, Rabu (10/6) kemarin, menambah beban masyarakat. Kenaikan ini pukulan telak bagi kantong rakyat yang setiap hari bergantung pada kendaraan bermotor untuk bekerja dan beraktivitas.

Di sejumlah SPBU, aktivitas pengisian memang terlihat normal, namun di balik itu riak keluhan mulai menyeruak. Herdi, karyawan swasta di Banjarbaru, mengaku tidak bisa berpaling dari Pertamax karena spesifikasi motornya menuntut oktan tinggi.

“Kalau dipaksa pakai BBM lebih rendah, performa mesin kurang bagus. Jadi mau tidak mau tetap isi Pertamax, meski pengeluaran bulanan bertambah,” keluhnya.

Hal serupa dirasakan Maulida, ibu rumah tangga pengguna mobil keluaran anyar. Rekomendasi pabrikan yang mewajibkan RON 92 membuatnya tetap bertahan, meski harus lebih ketat mengatur anggaran dapur.

Keluhan semakin nyata ketika Herdiandi Tandi Salla Dakator menuturkan bahwa biaya transportasi bulanannya melonjak tajam. “Motor saya memang harus menggunakan Pertamax. Kalau diganti ke Pertalite atau BBM lain biasanya bermasalah. Mau tidak mau harus tetap menggunakan Pertamax, sehingga biaya transportasi untuk bekerja ikut meningkat,” ujarnya.

Ia bahkan khawatir kenaikan BBM akan memicu efek domino pada harga kebutuhan pokok. “Yang paling terasa nanti beras, sayur, sampai susu anak. Kami berharap kondisi seperti itu tidak terjadi karena masyarakat kecil yang paling berat menanggung dampaknya,” tambahnya.

Muhammad Rofhal Akwan, warga Martapura, menegaskan bahwa pengguna Pertamax tidak melulu dari kalangan ekonomi atas. “Motor saya termasuk motor tua yang harus dirawat menggunakan Pertamax. Kalau kenaikannya cukup jauh seperti sekarang tentu semakin membebani, apalagi jarak rumah ke tempat kerja cukup jauh,” ungkapnya.

Menurutnya, banyak masyarakat menengah yang tetap memilih Pertamax demi menjaga kondisi kendaraan agar tidak cepat rusak. Namun ia juga mengingatkan, selisih harga yang semakin lebar dengan Pertalite berpotensi mendorong peralihan massal ke BBM bersubsidi.

Berbeda dengan pemilik kendaraan pribadi, para pengemudi ojek online memilih realistis. Abizar, driver ojol di Banjarbaru, mengaku kecewa dan langsung beralih ke Pertalite. “Kalau dipaksakan beli Pertamax, pendapatan bersih kami habis,” katanya.

Keluhan serupa juga datang dari warga Banua Anam. Pasalnya, harga eceran Pertamax sudah tembus Rp19 ribu per liter, sementara Pertalite ikut naik Rp15 ribu–Rp16 ribu. “Kami tidak punya pilihan lain karena jarak ke SPBU jauh,” keluh Rahmad Sadikin dari Balangan.

Pantauan di Kotabaru, Barabai, Amuntai, hingga Balangan menunjukkan harga Pertamax di kios pinggir jalan melonjak tajam hingga Rp18.000–Rp20.000 per liter. Indah, pedagang bensin eceran di Kotabaru, mengaku terkejut dengan kenaikan mendadak ini. “Modal melambung, tapi tetap harus jual karena ada permintaan. Hanya saja sepi, orang-orang beralih ke Pertalite,” ujarnya.

Di Amuntai, Rani, pengecer BBM, menjual Pertamax Rp20 ribu per liter karena sulitnya pasokan. Pertalite pun ikut naik hingga Rp17 ribu. “Stok terbatas membuat harga terpaksa dinaikkan,” katanya.

Kondisi serupa terjadi di Balangan. Di Kecamatan Halong, harga eceran Pertamax sudah menyentuh Rp19 ribu per liter, sementara Pertalite menembus Rp15 ribu–Rp16 ribu. Warga mengaku terbebani. “Kenaikan ini tidak wajar, pasti berdampak ke sektor lain,” ujar Adit, warga Barabai.

Meski demikian, sebagian pengguna tetap bertahan dengan Pertamax demi kualitas mesin. Supian, warga Barabai, menilai performa kendaraan lebih penting. “Selama masih mampu, saya tetap pakai Pertamax,” katanya.

Namun tidak sedikit pula yang memilih realistis. Asep Sobari, warga Pelaihari, mengaku terpaksa beralih ke Pertalite karena biaya Pertamax terlampau tinggi. “Kalau masih menggunakan Pertamax biaya untuk BBM cukup lumayan. Jadi realistinya beralih ke Pertalite, karena masih terjangkau,” ujarnya.

Yayat, warga Batulicin, kini mulai mempertimbangkan beralih ke Pertalite. Selama ini ia memilih Pertamax karena selisih harga tidak terlalu jauh dan antrean Pertalite di SPBU kerap mengular. Namun dengan kenaikan terbaru, ia harus berpikir ulang. “Tentu tidak setuju. Kenaikan harganya langsung tinggi begini,” katanya.

Hal senada disampaikan Salimi, warga Teluk Kepayang. Ia mengaku mulai mempertimbangkan untuk mengurangi penggunaan Pertamax karena selisih harga dengan Pertalite semakin lebar. “Kalau isi penuh tentu terasa sekali,” ujarnya.

Di Tabalong, Pengawas SPBU di Kelurahan Mabuun, Kecamatan Murung Pudak, Irwin Sahrianadi mengatakan, banyak pengendara kendaraan bermotor beralih mengisi Pertalite dari yang sebelumnya Pertamax. “Sekitar 30 persen pembeli beralih ke Pertalite,” ujarnya.

Sisi lain, Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun memastikan pasokan BBM nonsubsidi tetap aman dan tersedia di seluruh jaringan SPBU Pertamina di Indonesia. “Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina,” katanya.

Ia juga memastikan, harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Bio Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter. “Perdistribusian BM bersubsidi, harga jual Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan,” tegas Roberth. (she/zkr/mud/jum/mal/mar/sal/dza/ibn/van/sya/mof)

Editor : Muhammad Rizky
#BBM #pertamax #spbu