Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Meski Harga Sawit di Balangan Naik Jadi Rp2.300, Petani Keluhkan Ini

M Dirga • Kamis, 11 Juni 2026 | 10:26 WIB
Aktivitas seorang petani di Kabupaten Balangan saat menimbang hasil panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, Kamis (11/6). (Khairullah untuk Radar Banjarmasin)
Aktivitas seorang petani di Kabupaten Balangan saat menimbang hasil panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, Kamis (11/6). (Khairullah untuk Radar Banjarmasin)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Paringin - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Balangan mulai mengalami kenaikan pada Kamis (11/6).

Meski harga jual berangsur membaik, para petani mengaku keuntungan mereka masih tertekan akibat tingginya harga bahan bakar minyak (BBM) dan biaya perawatan kebun.

Petani sawit asal Balangan, Khairullah, menyebutkan bahwa harga TBS di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp1.700 hingga Rp2.300 per kilogram. Angka ini merangkak naik dibandingkan akhir Mei lalu yang sempat anjlok di posisi Rp1.200 hingga Rp1.500 per kilogram.

"Alhamdulillah, harga sawit sekarang sudah kembali membaik. Kondisi ini tentu sangat membantu petani dalam memenuhi kebutuhan operasional kebun," kata Khairullah saat dikonfirmasi, Kamis (11/6).

Kendati demikian, Khairullah menjelaskan bahwa kenaikan harga beli di tingkat pabrik atau pengepul belum berbanding lurus dengan keuntungan bersih petani. Tingginya harga BBM di pasaran berdampak langsung pada pembengkakan biaya transportasi operasional.

Menurutnya, ongkos untuk mengeluarkan hasil panen sawit dari lokasi kebun yang berada di dalam hutan menuju jalan utama atau tempat penampungan memakan biaya yang sangat besar.

"Biaya angkut dari dalam hutan ke luar sekarang cukup besar. Harga BBM yang tinggi membuat ongkos transportasi ikut naik, sehingga mengurangi keuntungan petani," jelasnya.

Selain persoalan ongkos pelangsiran, beban produksi petani juga diperberat oleh harga pupuk, pestisida, dan herbisida yang masih belum turun. Akibatnya, tren positif harga sawit saat ini baru sebatas menutupi beban biaya produksi dan belum memberikan margin keuntungan yang maksimal.

Para petani menilai stabilitas harga sangat krusial agar mereka tetap bisa merawat kebun dan mempertahankan hasil panen. Khairullah berharap pemerintah dapat memberikan perhatian khusus terkait masalah tingginya biaya produksi perkebunan ini, terutama soal BBM untuk angkutan panen.

Ia juga menaruh harapan agar harga jual TBS tetap stabil dalam jangka panjang, sehingga perekonomian dan kesejahteraan petani sawit di Balangan bisa terus meningkat.

 

Editor : M Oscar Fraby
#BBM #Balangan #Sawit