Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dolar Tembus Rp18.000, Ekonom ULM Sebut Komoditas Ekspor Kalsel Justru Diuntungkan

M Fadlan Zakiri • Kamis, 4 Juni 2026 | 13:28 WIB
Ilustrasi kurs Dollar -Rupiah per 4 Juni 2026. (AI)
Ilustrasi kurs Dollar -Rupiah per 4 Juni 2026. (AI)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,  Banjarbaru - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) saat ini sudah menembus Rp18.000.

Kenaikan kurs tersebut dikhawatirkan berdampak pada harga kebutuhan pokok, biaya produksi usaha, hingga daya beli masyarakat.

Namun, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat (FEB ULM), Dr H Andin Ahmad Yunani menilai kondisi saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter 1998 yang pernah mengguncang Indonesia.

Menurut Yunani, meski nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan, fondasi ekonomi nasional saat ini jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis hampir tiga dekade lalu.

"Dulu semua sektor runtuh secara bersamaan, mulai dari perbankan, utang swasta hingga situasi politik yang tidak stabil. Sekarang fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat dan sistem keuangan diawasi lebih ketat, sehingga kecil kemungkinan krisis seperti 1998 terulang," ungkapnya, Kamis (4/6/2026).

Ia menjelaskan, pelemahan Rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor eksternal daripada persoalan fundamental dalam negeri. 

Tingginya suku bunga di Amerika Serikat serta ketidakpastian geopolitik global mendorong investor mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar AS yang dianggap lebih aman.

Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar meningkat dan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di tengah tekanan tersebut, Kalimantan Selatan justru memiliki peluang ekonomi yang tidak dimiliki semua daerah. 

Sebagai wilayah yang memiliki basis komoditas ekspor cukup kuat, penguatan dolar berpotensi meningkatkan penerimaan sektor-sektor penghasil devisa.

Komoditas unggulan seperti batu bara, kelapa sawit, karet, hasil perikanan, hingga sektor pertanian dinilai dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah.

"Ketika dolar menguat, penerimaan eksportir dalam rupiah ikut meningkat. Ini menjadi peluang bagi daerah yang memiliki basis ekonomi ekspor seperti Kalimantan Selatan," katanya.

Meski demikian, Yunani mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak otomatis dirasakan seluruh lapisan masyarakat. 

Keuntungan yang diperoleh sektor ekspor perlu diimbangi dengan kebijakan yang mampu memperluas dampaknya kepada pekerja, pelaku UMKM, dan masyarakat umum.

Sebab, menurutnya kelompok masyarakat menengah ke bawah justru menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampak negatif pelemahan rupiah.

Menurut dia, kenaikan kurs dolar berpotensi mendorong kenaikan harga barang, terutama produk yang masih bergantung pada bahan baku impor. 

“Kondisi itu dapat meningkatkan biaya hidup sekaligus menekan daya beli masyarakat,” katanya 

Bukan tanpa sebab. Menurutnya, apabila dolar mencapai Rp18.000, masyarakat menengah ke bawah akan menghadapi tekanan berupa kenaikan harga kebutuhan pokok, meningkatnya biaya hidup, dan menurunnya daya beli. 

“Kelompok rentan inilah yang perlu mendapat perhatian serius," lugasnya.

Apabila berlangsung dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan angka kemiskinan dan memperlebar kesenjangan sosial. 

“Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu mengambil langkah antisipatif sejak dini,” imbuhnya 

Beberapa langkah yang dinilai mendesak antara lain menjaga stabilitas harga pangan melalui operasi pasar, memastikan distribusi kebutuhan pokok berjalan lancar, memperkuat sektor UMKM dan pertanian lokal, serta menyiapkan program perlindungan sosial yang tepat sasaran.

Yunani menegaskan, daerah yang mampu memanfaatkan momentum ekspor sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap barang impor akan memiliki daya tahan lebih kuat menghadapi gejolak ekonomi global.

Ia menegaskan, bahwa daerah yang mampu memanfaatkan peluang ekspor sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap barang impor akan lebih tangguh menghadapi gejolak ekonomi global. 

Sehingga, ia menekankan agar pemerintah daerah harus hadir agar tekanan ekonomi ini tidak berujung pada meningkatnya kemiskinan dan melemahnya daya beli masyarakat.

“Momentum penguatan dolar harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi daerah. Jangan sampai ekspor menikmati keuntungan, tetapi masyarakat justru kehilangan daya beli. Ukuran keberhasilannya adalah ketika pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan bersama," ungkap Yunani.

Editor : Arif Subekti
#penguatan dolar as #berpotensi menaikan biaya hidup #memperkuat ekonomi daerah #kalimantan selatan