Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Daya Beli Turun, Tapi Sektor Perkebunan di Kalsel Bergairah

M Fadlan Zakiri • Rabu, 3 Juni 2026 | 10:06 WIB
Ilustrasi inflasi
Ilustrasi inflasi

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM - Wajah perekonomian Kalimantan Selatan menampilkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, daya beli masyarakat umum tertekan oleh lonjakan harga barang kebutuhan. Namun di sisi lain, sektor perkebunan dan industri komoditas justru tengah bergairah.

Hal ini menciptakan perputaran uang yang masif di tengah jepitan inflasi. Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Mei 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, Provinsi Kalsel mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 4,22 persen dengan IHK di angka 112,98.

Produktivitas tinggi dan stabilnya harga jual hasil perkebunan membuat daya beli masyarakat di sektor ini tetap kuat. Aktivitas konsumsi yang meningkat memicu demand-pull inflation, atau kenaikan harga akibat tingginya permintaan barang di pasar lokal.

Baca Juga: Inflasi di Tanah Laut Tertinggi di Kalsel, Lonjakan Harga Mencapai 5,03 Persen

Plh Kepala BPS Kalsel, Ahmad Mudzakkir, menjelaskan bahwa seluruh kabupaten/kota amatan IHK di Kalsel mengalami inflasi. “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik hingga 5,87 persen, sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melesat sampai 17,72 persen,” ujarnya dalam ekspose Berita Resmi Statistik (BRS) di Banjarbaru, Selasa (2/6).

Kenaikan pada sektor perawatan pribadi ini, menurut Mudzakkir, menjadi indikator meningkatnya kemampuan belanja masyarakat di sektor perkebunan dan industri yang tengah menikmati momentum ekonomi positif.

Sektor perkebunan memang sedang pesta pora dan menjadi penyelamat pertumbuhan ekonomi, tetapi pemerintah harus memastikan limpahan berkah tersebut tidak menimbulkan ketimpangan bagi masyarakat non-perkebunan yang mulai tercekik oleh mahalnya biaya hidup.

Pengusaha lokal Kabupaten Banjar, Syahrizal, menilai bahwa tingginya inflasi di daerah seperti Tanah Laut perlu segera diintervensi oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). “Jika disparitas daya beli dibiarkan, jurang ketimpangan sosial akan semakin lebar. Sinergi antardaerah dalam menjaga pasokan komoditas pokok harus diperketat,” tekannya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #perkebunan #ekonomi #bps kalsel