RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU – Jeritan para nelayan di Bumi Saijaan terkait sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi masih terjadi sampai saat ini.
Kondisi ini memaksa para pelaut tradisional harus mengeluarkan modal lebih banyak demi bisa tetap melaut mencari nafkah.
Ketua Ikatan Nelayan Saijaan (INSAN) Kotabaru, Hamdani, mengungkapkan bahwa kelangkaan solar di kawasan Rampa hingga saat ini masih menjadi momok menakutkan yang belum menemui titik terang dalam dua tiga bulan ini.
Baginya di tingkat eceran warung-warung, harga solar sudah melonjak tak masuk akal.
"Harga eceran solar di warung-warung di Kotabaru sekarang sangat susah. Bahkan, keluarga saya kemarin membeli dengan harga Rp20 ribu per liter di pangkalan eceran. Ini membuktikan bahwa di Rampa solar masih sangat langka dan belum ada solusi konkret dari pihak terkait," ungkap Hamdani, Jumat (29/5).
Ia membeberkan, jatah solar yang diterima nelayan melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) terus mengalami pemangkasan yang signifikan.
Jika pada awalnya nelayan bisa mendapatkan alokasi 150 liter, kini kuota tersebut disunat habis-habisan menjadi hanya 100 liter per bulan. Jumlah yang dinilai jauh dari kata cukup untuk operasional melaut.
Pantauan Radar Banjarmasin di beberapa wilayah menunjukkan bahwa krisis solar ini tidak hanya memukul kawasan Rampa, melainkan sudah merembet ke berbagai wilayah kepulauan di Kabupaten Kotabaru dengan variasi harga yang makin mencekik leher.
Di wilayah Kecamatan Sebuku, harga solar di tingkat eceran terpantau di angka Rp 14 ribu per liter. Kondisi jauh lebih parah ditemukan di wilayah yang lebih terpencil, tepatnya di Desa Tengah, Kecamatan Pulau Sembilan. Di sana, para nelayan harga solar eceran menyentuh Rp17 ribu per liter.
Kondisi yang terus berlarut-larut tanpa adanya operasi pasar atau pengawasan ketat ini rupanya mulai menyulut sumbu kesabaran para nelayan.
Hamdani menegaskan, jika pemerintah daerah dan instansi terkait tidak segera mengambil tindakan nyata, gelombang protes massa tidak akan terbendung lagi.
Nelayan Rampa Kotabaru berencana menggelar aksi turun ke jalan pada bulan Juni ini untuk menuntut keadilan.
"Sudah cukup kami bersabar. Kalau tidak ada solusi secepatnya, rencana bulan Juni ini kami akan melayangkan surat ke DPRD Kotabaru untuk menggelar aksi damai. Kami hanya ingin menyambung hidup, tolong dengarkan jeritan kami," tegas Hamdani.
Editor : Arief