Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kompetensi SDM Belum Siap, Tanah Bumbu Kalsel Kesulitan Kembangkan Sektor Non Tambang

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Senin, 25 Mei 2026 | 13:45 WIB
Ilustrasi tambang batu bara. | Foto: Gemini/Google
Ilustrasi tambang batu bara. | Foto: Gemini/Google

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN – Sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi tulang punggung ekonomi Kabupaten Tanah Bumbu. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tanah Bumbu 2021–2025, kontribusi sektor tambang konsisten mendominasi struktur ekonomi daerah.

Berdasarkan data BPS Tanah Bumbu, kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB tercatat sebesar 36,64 persen pada 2021, kemudian meningkat menjadi 50,43 persen pada 2022. Angka itu masih berada di level tinggi pada 2023 sebesar 49,87 persen, 49,15 persen pada 2024, dan 46,02 persen pada 2025.

Dominasi sektor tambang tersebut jauh melampaui sektor lainnya. Pada 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya berkontribusi 12,28 persen, sementara industri pengolahan sebesar 8,87 persen.

Sekretaris Daerah Kabupaten Tanah Bumbu, Yulian Herawati mengakui, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan ekonomi daerah di masa depan.

“Pemkab tentunya sadar bahwa suatu saat harus mempersiapkan diri agar tidak ketergantungan dengan sektor tambang yang merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui,” ujarnya.

Menurut Yulian, pemerintah daerah telah menyiapkan roadmap dan berbagai langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan.

Beberapa sektor yang dipersiapkan menjadi penopang ekonomi baru antara lain perikanan, perkebunan, pertanian, kehutanan, pariwisata, hingga industri pengolahan.

Pada sektor perikanan, Pemkab mendorong pengembangan budidaya dan pengolahan hasil perikanan. Di bidang kehutanan, pemerintah mulai mengembangkan skema kredit karbon melalui restorasi ekosistem mangrove.

Sementara itu, sektor pariwisata diarahkan pada pengembangan destinasi yang terintegrasi, sedangkan sektor industri difokuskan pada hilirisasi agar menghasilkan nilai tambah ekonomi lebih besar.

Meski demikian, pengembangan sektor non-tambang dinilai belum berjalan maksimal. Salah satu hambatan terbesar adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) daerah.

“Hambatan terbesar dalam mengembangkan sektor-sektor tersebut adalah kompetensi sumber daya manusia daerah yang belum siap,” lanjutnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemkab Tanah Bumbu menyiapkan berbagai program peningkatan kapasitas tenaga kerja melalui dinas terkait, Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dukungan program CSR perusahaan, hingga kerja sama dengan perguruan tinggi melalui pemberian beasiswa bagi putra-putri daerah. 

Editor: Arif Subekti

Editor : Arief
#sdm #kalimantan selatan #Tanah Bumbu #Tambang