RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,BANJARMASIN - Meski harga resmi Bio Solar bersubsidi di SPBU masih bertahan Rp6.800 per liter, kondisi di lapangan justru berbeda. Harga Bio Solar eceran yang terus merangkak naik, menjadi beban baru bagi usaha penggilingan padi di Kota Banjarmasin.
Kebutuhan solar petani memang belum masuk skema subsidi seperti pupuk pertanian. Itu membuat usaha penggilingan padi terpaksa bergantung pada solar eceran dengan harga jauh lebih tinggi.
Kondisi tersebut dirasakan Fatimah, petani di kawasan Sungai Lulut Dalam, Banjarmasin Timur. Ia mengaku biaya operasional penggilingan padi miliknya membengkak akibat lonjakan harga solar eceran. Jika sebelumnya solar eceran masih bisa didapat dengan harga Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per liter, kini angkanya melonjak menjadi Rp17 ribu hingga Rp18 ribu.
“Saya juga bingung kenapa harga melonjak. Yang biasanya banyak jual solar eceran di pinggir jalan, sekarang malah susah ditemukan,” bandingnya, Jumat (22/5).
Fatimah mengatakan usaha penggilingan padi miliknya hanya berskala kecil. Hanya melayani kebutuhan petani sekitar. “Kita ini pabrik kecil, sekadar usaha kampung. Bukan perusahaan besar,” ungkapnya.
Dalam sehari, sekitar lima liter solar dibutuhkan untuk menjalankan mesin penggiling padi. Penggunaan bahan bakar itu biasanya dimaksimalkan dengan menggiling hasil panen milik beberapa petani sekaligus.
Namun sekarang biaya produksi semakin berat. “Kadang sehari cuma dua sampai tiga karung. Serba salah, semua sekarang mahal,” keluhnya.
Tak hanya BBM, kenaikan biaya operasional lain juga ikut dirasakan. Harga oli mesin yang sebelumnya sekitar Rp25 ribu per liter, kini naik menjadi Rp31 ribu. Selain itu, biaya perawatan mesin dan harga suku cadang juga terus meningkat. “Mesin penggiling juga perlu perawatan seperti motor,” tambahnya.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Jenderawati menilai dampak kenaikan harga solar terhadap sektor pertanian di Kota Banjarmasin masih belum terlalu signifikan. “Untuk Kota Banjarmasin, penggunaan alat pertanian berbahan bakar solar hanya sebagian kecil, sehingga belum terlalu memengaruhi produksi pertanian,” jelasnya. Meski begitu, pihaknya mengakui kenaikan harga solar eceran tetap dapat berdampak terhadap usaha penggilingan padi yang menggunakan mesin berbahan bakar minyak.
Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin belum menerima laporan resmi terkait dampak kenaikan harga eceran maupun sulitnya memperoleh solar. Plt Kepala Disperdagin Kota Banjarmasin, Noorsyahdi mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan ke sejumlah SPBU.
“Kami sudah melakukan monitoring ke beberapa SPBU, dan hasilnya akan ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan pihak terkait,” ujarnya.
Pemerintah Kota Banjarmasin juga disebut terus melakukan pengawasan di tengah munculnya persoalan harga eceran dan ketersediaan BBM subsidi di lapangan.
Penggilingan Padi Tertekan Kenaikan Harga Solar Eceran
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief