Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Harga Benih Padi Melonjak, Petani di Sungai Lulut Mengeluh

Zulvan Rahmatan • Kamis, 21 Mei 2026 | 13:46 WIB
KENDALA BENIH: Hamparan sawah di kawasan Pertanian Sungai Lulut Dalam, Banjarmasin Timur. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)
KENDALA BENIH: Hamparan sawah di kawasan Pertanian Sungai Lulut Dalam, Banjarmasin Timur. (Foto: Zulvan Rahmatan/Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Kenaikan harga pupuk nonsubsidi ternyata tidak terlalu berdampak bagi petani di kawasan Sungai Lulut Dalam, Banjarmasin Timur. Mereka mengaku kebutuhan pupuk selama ini masih tercukupi melalui program pupuk bersubsidi yang disalurkan pemerintah.

Namun, di balik kondisi itu, petani justru menghadapi persoalan lain yang dinilai lebih mengkhawatirkan, yakni melonjaknya harga benih tanam dan munculnya gejala padi menguning yang berpotensi mengganggu hasil panen.

Petani setempat, Suryadi (51) mengatakan harga benih padi jenis Siam Unus kini naik cukup tajam. Jika sebelumnya berkisar Rp100 ribu per belek atau sekitar 6 kilogram, saat ini harganya mencapai Rp150 ribu.

Menurutnya, kenaikan tersebut diduga dipicu keterbatasan stok benih di pasaran. “Stok kosong atau sudah diborong, jadi sulit didapat,” ujarnya, Rabu (20/6).

Ia mengaku kondisi itu berpotensi meningkatkan biaya produksi pertanian yang pada akhirnya bisa berdampak terhadap harga jual hasil panen.

Selain harga benih, persoalan lain yang dihadapi petani adalah tanaman padi yang menguning di sejumlah lahan. Gejala tersebut diduga dipicu tingginya kadar asam tanah yang terjadi pada waktu tertentu. Jika tidak segera ditangani, pertumbuhan padi dapat terganggu hingga menyebabkan gagal berkembang atau tidak menghasilkan bulir padi secara optimal.

Dari total sekitar 75 borongan lahan yang dikelolanya, sekitar 25 borongan dilaporkan terdampak. “Kalau padi kuning bisa tidak berkembang dan tidak berbuah. Jadi kami semampunya saja memberikan obat, disemprot supaya bisa pulih,” katanya.

Ia khawatir apabila kondisi itu terus berlanjut tanpa solusi, hasil panen petani dapat menurun dan berdampak pada harga beras di tingkat petani.

Menurutnya, persoalan tanaman menguning tersebut sudah mulai dirasakan sekitar dua tahun terakhir. Keluhan itu pun telah dibahas bersama kelompok tani untuk mencari langkah penanganan yang lebih efektif.

Suryadi memastikan distribusi pupuk bersubsidi di wilayahnya berjalan lancar. Mayoritas petani juga masih mengandalkan pupuk subsidi, sehingga tidak terlalu terpengaruh kenaikan harga pupuk nonsubsidi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin, Yuliansyah Effendi membenarkan kenaikan harga pupuk nonsubsidi tidak terlalu berdampak signifikan terhadap petani di Banjarmasin. Menurutnya, sebagian besar petani telah mendapatkan alokasi pupuk subsidi yang penyalurannya diatur melalui sistem pendataan kelompok tani. “Pupuk subsidi itu diberikan kepada petani yang sudah memenuhi syarat, seperti terdaftar di kelompok tani, masuk RDKK, dan terverifikasi,” jelasnya.

Ia menyebut pola pertanian padi lokal di Kota Banjarmasin juga membuat kebutuhan pupuk tidak terlalu tinggi. Bahkan sebagian petani hanya melakukan satu kali pemupukan setelah masa tanam sebelum membiarkan tanaman tumbuh secara alami hingga panen. “Di Kota Banjarmasin ini pola tanam padi lokal. Ada yang cukup satu kali pemupukan setelah tanam lalu dibiarkan sampai panen,” ungkapnya.

Yuliansyah menambahkan, kuota pupuk subsidi di Banjarmasin bahkan kerap tidak terserap seluruhnya setiap tahun. “Sering kali kuota yang diberikan tidak habis, sehingga sisanya dikembalikan untuk daerah lain di Kalimantan Selatan,” tutupnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#kalimantan selatan #banjarmasin #pertanian #pupuk #padi