RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, PARINGIN - Nama Desa Sumber Rezeki di Kecamatan Juai kini kian dikenal luas sebagai salah satu lumbung sapi berkualitas di Kabupaten Balangan. Namun, di balik reputasi tersebut, tersimpan cerita sukses tentang bagaimana warga setempat mengelola dana bantuan menjadi sebuah program yang dampaknya terasa langsung dimasyarakat.
Kisah inspiratif ini bermula pada tahun 2017 silam. Kala itu, melalui program bina desa PT Adaro Indonesia, warga setempat mengusulkan agar sebagian dana bantuan dialokasikan untuk sektor peternakan. Usulan itu pun disetujui, hingga akhirnya dibelikan empat ekor sapi jantan sebagai modal awal dimulainya program penggemukan.
Bukannya dikelola secara tradisional, modal sapi yang dibeli dari dana usulan warga tersebut justru diatur dengan manajemen yang luar biasa melalui Kelompok Bina Desa Sumber Rezeki. Kepala Desa Sumber Rezeki, Kuwat, menceritakan kunci keberhasilan mereka terletak pada sistem yang konsisten dijalankan selama bertahun-tahun.
"Kami menerapkan pola bagi hasil 70-30. Peternak mendapatkan 70 persen sebagai upah lelah pemeliharaan, sementara 30 persennya dikembalikan ke kelompok sebagai modal lagi. Dana 30 persen inilah yang kami tabung dan setiap tahun kami belikan sapi baru lagi," ungkap Kuwat.
Siapa sangka, dari perputaran modal empat ekor sapi jantan di awal program tersebut, dana yang terakumulasi hingga tahun 2025 ini telah mencapai angka yang fantastis, yakni sekitar Rp300 jutaan. Dana hasil program ini tidak hanya tersimpan di rekening kelompok, melainkan dialirkan kembali untuk memutar roda sosial di desa.
Dampak yang paling nyata dirasakan warga adalah saat momen hari raya 2026. Sebanyak 20 persen dari keuntungan pengelolaan sapi ini dialokasikan untuk membiayai pembagian THR berupa paket sembako senilai Rp100 ribu bagi 625 kepala keluarga (KK) di desa tersebut.
Kemandirian dana ini juga mampu menunjang fasilitas desa. Pada tahun 2020 lalu, kelompok ini mengambil kebijakan untuk menyediakan unit mobil operasional jenis pick-up guna menunjang aktivitas warga. Mobil seharga Rp70 juta tersebut ditebus melalui dana kelompok sebesar Rp40 juta dan tambahan bantuan CSR sebesar Rp30 juta.
"Bahkan keuntungan tersebut juga kami distribusikan ke tiap-tiap lingkungan RT agar mereka bisa mengelola wilayah masing-masing secara mandiri. Kami memang berkomitmen agar warga lebih dulu merasakan dampaknya secara langsung," tambah Kuwat.
Meski perputaran uangnya sudah mencapai ratusan juta, Kuwat mengakui bahwa saat ini keuntungan program tersebut memang belum diarahkan untuk menyumbang Pendapatan Asli Desa (PAD). Baginya, kepuasan dan kesejahteraan warga yang merasakan langsung hasil dari peternakan adalah prioritas yang jauh lebih utama.
"Bagi kami yang penting warga dulu yang merasakan. Jika masyarakat sudah terbantu dengan adanya program ini, itu sudah menjadi syukur tersendiri bagi desa," tegasnya.
Pengelolaan ternak di desa ini juga mulai merambah skala yang lebih luas. Untuk menunjang kualitas, para peternak saat ini memaksimalkan pakan dari tanaman hijau yang tumbuh di lahan perusahaan serta lahan pribadi. Bahkan, stok sapi tidak hanya didatangkan dari kabupaten tetangga, melainkan sudah merambah hingga ke luar pulau melalui pengadaan bibit dari Sulawesi.
Keberhasilan manajemen ekonomi kerakyatan yang dijalankan oleh pemerintahan desa dan kelompok peternak ini pun mendapat apresiasi positif dari pihak perusahaan selaku mitra pendukung program. Staf CSR Program Bina Desa PT Adaro Indonesia, Raisa Kusuma Dewi, menyatakan bahwa pencapaian Desa Sumber Rezeki merupakan buah dari konsistensi warga dalam menjalankan komitmen pemberdayaan secara mandiri.
"Kami sangat mengapresiasi kemandirian Kelompok Bina Desa Sumber Rezeki. Sejak awal, fokus kami memang pada penguatan kapasitas masyarakat agar bantuan yang diberikan dapat berkembang secara berkelanjutan. Keberhasilan mereka mengelola modal awal hingga memberikan manfaat sosial bagi ratusan KK adalah bukti bahwa program pemberdayaan ini berjalan tepat sasaran," ujar Raisa.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pihak perusahaan terus berkomitmen melakukan pendampingan teknis dan infrastruktur. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan kandang komunal pada tahun 2022 lalu yang memiliki kapasitas 32 ekor sapi, serta edukasi berkelanjutan mengenai pengolahan pakan, dan berbagai inisiatif lainnya.
"Sinergi ini diharapkan dapat terus terjaga untuk memastikan sektor peternakan di desa tersebut tetap stabil dan berkelanjutan ke depannya," pungkasnya.
Editor : Fauzan Ridhani