RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN - Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, ketersediaan hewan kurban di Kota Banjarmasin diperkirakan menurun. Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin mencatat potensi penurunan hingga 10 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pada 2025 lalu, distribusi hewan kurban sempat mencapai sekitar 2.500 ekor. Didominasi sapi, sebagian kambing. Namun tahun ini, jumlah tersebut diprediksi tidak akan terulang.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKP3 Banjarmasin, drh Teuku Inayatsyah mengungkapkan hasil pemantauan terhadap pemasok menunjukkan adanya penurunan pasokan. “Dari pantauan kami masih kurang, kemungkinan turun sekitar 10 persen dibandingkan tahun kemarin,” ujarnya, Senin (27/4).
Salah satu penyebab utama adalah dampak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat menyerang ternak, khususnya sapi betina produktif. Kondisi ini berdampak pada menurunnya produksi sapi siap potong. “Banyak ternak betina yang terserang PMK, sehingga produksinya ikut berkurang,” jelasnya.
Sebagai kota non-sentra peternakan, Banjarmasin sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur, serta wilayah sekitar seperti Tanah Laut dan Barito Kuala.
Di tengah potensi keterbatasan pasokan, DKP3 memastikan pengawasan kesehatan hewan kurban tetap menjadi prioritas utama. Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap, yakni sebelum dan sesudah penyembelihan.
Pemeriksaan antemortem dilakukan pada hewan hidup di titik penampungan seperti masjid dan lingkungan RT. Meski belum bisa menjangkau seluruh hewan secara menyeluruh, pemeriksaan dilakukan bertahap dengan membentuk lima tim di berbagai wilayah kota.
“Seluruh kota akan kami cek. Tim akan disebar untuk memantau masing-masing kawasan,” kata Inayatsyah.
Pada hari pelaksanaan kurban, pengawasan dilanjutkan melalui pemeriksaan postmortem untuk memastikan daging yang dikonsumsi masyarakat aman dan layak. Sebanyak 20 hingga 25 petugas, termasuk tiga dokter hewan, akan diterjunkan dalam proses pengawasan ini. Tim juga akan diperkuat oleh Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Kalimantan Selatan serta dukungan dari Dinas Perkebunan dan Peternakan.
Pemeriksaan intensif dijadwalkan mulai satu minggu sebelum Iduladha, dengan fokus pada kondisi fisik hewan seperti warna kulit, pigmen, hingga selaput lendir.
Pemerintah juga berharap dukungan dari pihak kelurahan untuk membantu mengarahkan lokasi penampungan hewan kurban agar pengawasan berjalan maksimal. Langkah ini diambil untuk memastikan, meski jumlah hewan berkurang, kualitas dan keamanan daging kurban tetap terjaga bagi masyarakat.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief