RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARBARU – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) RI, Maman Abdurrahman memberikan atensi serius terhadap peredaran barang impor ilegal yang kian meresahkan.
Fenomena yang ia sebut sebagai "Pasar Becek" ini dinilai menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan pelaku UMKM di daerah, termasuk di Kalimantan Selatan.
Hal tersebut ditegaskan Maman saat menghadiri puncak peringatan HUT ke-27 Kota Banjarbaru, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, banjirnya barang impor ilegal merusak stabilitas harga pasar karena masuk tanpa prosedur resmi.
"Kalau mereka (barang impor, red) masuk secara ilegal, mereka bisa sesuka hati menentukan harga. Ini yang merusak harga pasar dan memukul produk lokal kita," ujar Maman.
Menindaklanjuti instruksi Presiden, Maman menyatakan Kementerian UMKM kini memperkuat koordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk memperketat masuknya barang ilegal.
Baca Juga: Banyak yang Rusak dan Diduga Hilang, Data Aset Kendaraan Dinas Kabupaten Banjar masih Kusut
Langkah proteksi ini diambil agar produk hasil keringat pelaku usaha mikro dan kecil dalam negeri kembali kompetitif dan diminati di pasar domestik.
"Saat ini mulai kita batasi. Tujuannya jelas, agar produk usaha mikro dan kecil kita laku. Kita ingin melindungi ekosistem usaha lokal agar tidak mati di rumah sendiri," imbuhnya.
Dominasi Usaha Mikro di Banjarbaru
Selain isu impor, Maman juga menyoroti struktur demografi pelaku usaha di Kota Idaman.
Berdasarkan data yang dikantonginya, Kota Banjarbaru memiliki sekitar 45 ribu pelaku usaha. Namun, piramida ekonomi di wilayah ini masih sangat timpang.
Tercatat, 95 persen pelaku usaha di Banjarbaru masih berada di level mikro. Sementara itu, usaha kecil hanya menyumbang 3 persen dan usaha menengah justru lebih ramping di angka 2 persen.
"Potensi akses pembiayaan saat ini sudah sangat signifikan, namun proses pertumbuhan dari mikro ke kecil ini yang harus kita dorong terus," ungkap Maman.
Ia berharap dengan adanya pembatasan barang impor ilegal dan kemudahan akses modal, para pelaku usaha mikro di Banjarbaru tidak hanya sekadar bertahan hidup (survive), tetapi mampu naik kelas menjadi usaha kecil hingga menengah.
Editor : Fauzan Ridhani