Harga Plastik Kian Mencekik, Warga Disarankan Pakai Bakul

M Padil Ihsan • Dipublikasikan Jumat, 17 April 2026 | 13:50 WIB
Ilustrasi. Kenaikan harga plastik naik akibat konflik Timur Tengah berdampak pada biaya kemasan dan menekan pelaku UMKM. (ANDIKA NUR HIKMAH/ RADAR PALU)
Ilustrasi. Kenaikan harga plastik naik akibat konflik Timur Tengah berdampak pada biaya kemasan dan menekan pelaku UMKM. (ANDIKA NUR HIKMAH/ RADAR PALU)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KANDANGAN – Lonjakan harga plastik semakin menekan ekonomi masyarakat. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan rantai pasok global dan naiknya harga minyak mentah akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Fenomena tersebut menciptakan efek domino yang memukul pedagang hingga konsumen akhir di berbagai daerah.

Di Pasar Los Batu Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), pedagang plastik mengaku terpaksa menaikkan harga jual. Zaini, salah seorang pedagang, menyebut harga dari distributor naik lebih dari 50 persen.

“Biasanya Rp8.000, sekarang Rp15.500. Mau tidak mau kami ikut menaikkan harga,” ujarnya.

Selain harga, kelangkaan stok juga mulai terasa. Agus, pedagang lainnya, mengungkapkan pasokan dari pusat kini dibatasi. “Ada barang yang tidak tersedia karena habis stok di distributor,” katanya.

Kenaikan harga plastik turut menghantam pelaku usaha kecil. Edi, penjual bubur ayam, mengeluhkan biaya kemasan yang melonjak hampir dua kali lipat. “Yang biasanya Rp5.500 sekarang Rp9.000. Terpaksa harga bubur ayam seporsi ikut naik,” tuturnya.

Fasilitator Perdagangan Disperindag HSS, Rif’at, mengakui tekanan inflasi plastik ini berdampak luas. “Kenaikan hingga 100 persen sangat terasa bagi pedagang dan pembeli,” ujarnya. Ia berharap kondisi geopolitik dunia segera mereda agar stabilitas harga kembali pulih.

Fenomena serupa terjadi di Banjarmasin. Pedagang kantong plastik kresek di Pasar Kalindo, Banjarmasin Barat, merasakan kenaikan signifikan. Siti Aminah (45), pedagang beras, menyebut harga satu pack kantong plastik merek once yang dulu Rp48 ribu kini menjadi Rp65 ribu.

Kenaikan harga kantong plastik cukup menggerus modalnya, akibatnya keuntunganlah yang harus direlakan. Ia sendiri tak berani menaikkan harga jual beras sembarangan demi menutupi modal. “Naik Rp500 saja tidak berani, pasti pembeli tidak jadi. Apalagi beras yang cukup berat plastiknya harus dilapisi,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan pedagang telur, Amin (54). Menurutnya, kantong plastik belakangan juga mengalami kenaikan yang signifikan. Akibatnya, ia harus lebih pikir-pikir memberi kantong plastik lebih untuk pembeli. “Selapis tidak kuat dan bisa sobek, jadi tidak bisa pelit. Tapi risikonya keuntungan yang tergerus,” keluhnya.

Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Banjarmasin, Noorsyahdi, menyebut belum ada kepastian penyebab kenaikan harga plastik.

“Secara catatan inflasi, harga plastik belum menunjukkan pergerakan. Kita belum mendapat informasi terkait pemicunya,” jelasnya.

Ia menekankan, kenaikan ini bisa dimaknai sebagai momentum kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik, terutama di tengah kondisi darurat sampah kota. “Coba gunakan bakul dengan sekat kertas agar tidak tercampur,” sarannya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
plastik kalimantan selatan hulu sungai selatan Sembako banjarmasin