MARABAHAN – Harga cabai rawit di sejumlah pasar di Barito Kuala melonjak tajam. Per akhir Maret 2026, harganya menembus Rp170 ribu per kilogram. Seperti yang terpantau di Pasar Jalan Griya Permata, Alalak.
Kenaikan harga diungkapkan langsung oleh pedagang sayur setempat. Heru (55) mengatakan, lonjakan harga sudah terjadi sejak menjelang Ramadan dan masih bertahan hingga usai Lebaran. “Harganya masih bertahan. Sempat turun, tapi naik lagi sampai Rp170 ribu per kilo untuk cabai rawit,” ujarnya, Selasa (31/3).
Menurutnya, kenaikan harga cabai seperti ini bukan hal baru. Hampir setiap momen hari besar keagamaan, harga komoditas tersebut selalu merangkak naik. “Kalau faktor alam jarang. Biasanya memang naik saat momentum hari besar seperti Lebaran, Natal, dan Tahun Baru,” bebernya.
Kendati harga tinggi, Heru mengaku tetap menyediakan cabai rawit karena permintaan pasar tidak pernah sepi, terutama dari para pedagang makanan. “Meski mahal, tetap harus ada. Apalagi pembeli dari pedagang makanan, pasti cari,” katanya.
Sementara itu, pedagang lainnya, Tris (44), mengaku memilih tidak menjual cabai rawit karena harganya yang tinggi dan stoknya sulit didapat. “Cabai rawit saya tidak ambil. Selain mahal, juga susah mencarinya. Saya ambil cabai tiung saja, sama yang mirip cabai rawit, harganya masih di bawah,” ujarnya.
Pedagang makanan, Yunanto (56), juga mengaku ikut terdampak dengan kenaikan harga sejumlah bahan pokok. Selain cabai, harga telur dan ayam disebutnya juga tidak stabil. Ia mengaku cukup pusing menyiasati kondisi tersebut, terlebih cabai menjadi bahan wajib dalam dagangannya. “Ya mau bagaimana lagi, cabai ini penting dan pasti diminta pembeli. Sudah jadi pelengkap utama makanan,” keluhnya.
Untuk menyiasati mahalnya harga, Yunanto mengaku harus mengatur pembelian dan penggunaan cabai. “Beli cabai dua hari sekali, setengah kilo saja. Jadi harus diatur-atur pemakaiannya setelah dimasak,” pungkasnya.
Sementara, para petani cabai di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, tersenyum dengan kenaikan harga cabai ini. Harga cabai yang stabil tinggi di kisaran Rp100 ribu per kilogram, menjadi angin segar di tengah berbagai tantangan yang dihadapi saat musim tanam.
Junaidi, salah satu petani cabai setempat, mengungkapkan bahwa harga saat ini masih bertahan di angka Rp100 ribu per kilogram di tingkat petani. Kondisi tersebut dinilai sangat menguntungkan, terlebih momen menjelang hari raya lalu. “Alhamdulillah, harga cabai ini sangat membantu. Kami anggap ini seperti THR bagi petani,” ujarnya, Selasa (31/3).
Sementara, harga cabai di Pasar Manuntung Berseri Pelaihari, mulai mengalami penurunan dibandingkan dua pekan lalu. Meski demikian, penurunan tersebut dinilai belum signifikan. Salah satu pedagang, Turi, mengungkapkan bahwa pada saat Ramadan hingga Idulfitri, harga cabai sempat mencapai Rp115 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram. Kini, harga cabai berada di kisaran Rp110 ribu per kilogram.
Penurunan juga terjadi pada cabai keriting. Sebelumnya, harga cabai keriting mencapai Rp80 ribu per kilogram, namun kini turun menjadi Rp60 ribu per kilogram. Dia menduga penurunan harga ini karena bulan suci Ramadan dan Idulfitri sudah lewat. “Seperti biasa ketika momen bulan puasa dan Idulfitri harga naik karena permintaan banyak,” katanya.
Di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) harga cabai berangsur turun setelah sempat melonjak hingga Rp80 ribu–Rp90 ribu per kilogram dalam dua pekan terakhir. Saat ini, harga komoditas tersebut berada di kisaran Rp45 ribu–Rp50 ribu per kilogram, tergantung kualitas.
Salah satu pedagang, Risna mengatakan lonjakan harga cabai merah sebelumnya cukup memberatkan pembeli. Namun, kondisi tersebut kini mulai stabil. “Dua pekan lalu sempat tinggi, sekarang sudah turun lagi di kisaran Rp45 ribu sampai Rp50 ribu per kilogram,” ujarnya.
Di Kabupaten HST, dari sejumlah bahan pokok harga cabai masih menjadi yang paling menonjol. Cabai rawit lokal tercatat mencapai Rp150 per kilogram, sementara cabai rawit hijau, cabai rawit taji, dan cabai rawit tiung berada di kisaran Rp100 ribu per kilogram.
Sedangkan, cabai merah keriting Rp70 ribu per kilogram dan cabai merah besar Rp60 ribu per kilogram. Selain cabai, harga bawang juga relatif tinggi. Bawang merah dijual Rp42 ribu per kilogram, bawang putih Rp40 ribu per kilogram, sedangkan bawang bombai dan bawang prai masing-masing Rp50 ribu per kilogram.
Kepala Dinas Perdagangan HST, Irfan Sunarko mengatakan secara umum kondisi harga bahan pokok setelah Lebaran masih terkendali. “Pasca Lebaran ini, sebagian besar harga bahan pokok relatif stabil. Memang ada beberapa komoditas seperti cabai yang masih tinggi, tapi secara umum ketersediaan barang aman dan tidak ada lonjakan signifikan,” ujarnya.
Sementara, harga cabai rawit di Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang sempat tinggi, mulai turun meski masih tergolong tinggi, pada Selasa (31/3). “Harga Cabai Rawit Rp120 ribu per kilogram,” ujar Odah salah satu pedagang di Pasar Los Batu Kandangan.
Di Pasar Sentra Antasari Banjarmasin, salah seorang pedagang cabai, Faraji mengungkapkan harga cabai merah telah kembali ke posisi semula, yakni sebesar Rp85 ribu yang sempat menyentuh harga Rp140-150 ribu per kilogram.
Pedagang lain, Majid mengatakan, harga cabai merah sudah kembali ke Rp85 ribu per kilogram. Ia menyebut saat menjelang Lebaran kemarin harganya sempat menyentuh Rp170 per kilogram. “Kalau harganya mahal, pengunjung lebih banyak membeli ke pasar. Saat harga turun justru sepi, tapi lebih banyak dibeli oleh paman sayur untuk dijual lagi,” papar Majid.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief